Hi darling @ToniKroos
You spent months criticizing Qatar and talking about every possible issue before and during the 2022 World Cup, yet it turned out to be one of the best-organized tournaments in history. Public transportation was free, fans could travel easily between stadiums some fans saw 4 matches in the stadium in same day, and the overall organization was praised by millions of visitors.
Now, when concerns are being raised about visa delays, strict entry procedures, and travel difficulties surrounding tournaments in the United States, we don't hear the same level of criticism from you. There have also been complaints about organizational decisions and match arrangements that many fans consider unnecessary or difficult, yet your voice is nowhere near as loud as it was when Qatar hosted the World Cup.
If your criticism is truly based on principles, then the same standards should apply to everyone. But when Qatar receives endless criticism while similar concerns elsewhere are met with silence, people are naturally going to question whether your issue was really about organization at all.
Fuck you.
He is only 33 years old. This is the biggest moment of his career. He’s probably been waiting for it for months.
But who will talk about it? There are 48 teams, hundreds of players, and representatives from all over the world. Who will finally speak up?
men never leave women alone, he's totally a stranger to us dan tbtb dia rusuh sendiri, itu postingan harmless btw knp dia marah-marah di dm temen gue sumpah gila bgt
giving the world cup to the usa was a stupid decision.
this tournament was supposed to bring the world together. instead we’re talking about shootings, visa issues, travel restrictions and whether fans from certain countries will even be able to attend
Norway said that they are not going to play in World Cup in Qatar even if they qualified (they didn’t). Denmark left it until the last minute to confirm their participation in the World Cup 2022Germany forced their players to make political statements before the match in FIFA WC 2022 even though some players didn’t want to do it.
BBC literally disrupted the coverage of one of the best opening ceremonies of the World Cup in Qatar just for virtue signaling.
but for World Cup 2026, the whole media is silent other than a few token articles here and there and Norway and Germany aren’t protesting anything when there’s so much to protest about 🤡
Ada satu peristiwa di real life yang mirip dengan kejadian di episode 3 drama Teach You a Lesson.
Seorang guru SMA putri di Busan dikeluarkan dari kegiatan mengajar, gagal menikah, dan menderita tekanan mental setelah menerima tuduhan palsu atas pelecehan seksual pada siswinya.
Pada 13 Oktober 2025, program JTBC "Case Manager" mengungkap kasus tuduhan palsu yang dialami seorang guru SMA putri di Busan.
Guru yang disebut sebagai Guru A telah mengajar selama 5 tahun. Ia dikenal sebagai sosok yang ramah, perhatian, dan lembut sehingga cukup populer di sekolah. Ia diangkat menjadi seorang guru etika.
Seorang siswi kelas 1 bernama B selalu mengikuti pelajarannya dengan sungguh-sungguh. Pada semester pertama tahun 2024, Siswi B pernah meminta nomor kontak pribadi Guru A dengan alasan ingin bertanya mengenai pelajaran. Karena menganggap Siswi B sebagai murid yang baik, A dengan senang hati memberikan nomor teleponnya. Namun sejak saat itu, Siswi B mulai sering menghubunginya untuk urusan pribadi.
Siswi B mengirim pesan kepada Guru A bahwa dirinya pernah menjadi korban bullying di masa lalu dan sering mengatakan bahwa ia "ingin mati". Tak hanya itu, ia juga meminta Guru A datang menemuinya pada akhir pekan untuk bertemu secara pribadi. Bahkan minta diantar untuk mengikuti lomba seni.
Lama-kelamaan, orang-orang di sekitar mulai mengatakan bahwa Siswi B tampaknya menyukai Guru A. Karena itu, Guru A memutuskan untuk menjaga jarak dengan siswi tersebut.
Guru A mengatakan bahwa sebaiknya jangan terlalu sering bertemu. Lagipula Siswi B sudah terlihat ceria dan mulai memiliki banyak teman. Guru A juga menegaskan bahwa ia ramah karena profesionalisme sebagai guru. Di akhir pekan mereka hanya orang asing yang memiliki kehidupan sendiri.
Setelah seminggu berusaha memberi batasan, Guru A justru dilaporkan oleh Siswi B dan seorang temannya atas tuduhan pelecehan seksual. Dalam pemeriksaan polisi, Siswi B dan temannya mengaku saat konseling, Guru A memijat betisnya, mengelus tangan, memegang lengan, serta menyentuh dada.
Akibat kejadian itu, Guru A dikeluarkan dari kegiatan mengajar. Namun pada bulan Maret 2025, kejaksaan memutuskan untuk menghentikan kasus mempertimbangkan beberapa hal, antara lain:
• Kesaksian Siswi B dan temannya tidak konsisten,
• Rekaman CCTV di sekolah menunjukkan pada saat kejadian, Siswi B terlihat tersenyum dan menyampaikan rasa hormat,
• Sehari setelah kejadian, Siswi B menulis surat tangan kepada Guru A bahwa ia ingin menjadi guru sepertinya.
Setelah dinyatakan tidak bersalah, Guru A memutuskan kembali ke sekolah untuk memulihkan nama baiknya. Namun, respons pihak sekolah justru sangat dingin. Pihak sekolah terus mendorongnya untuk pindah agar tidak menimbulkan masalah. Ketika Guru A ingin mengajukan sidang Komite Perlindungan Hak Guru, pihak sekolah justru berkata bahwa Guru A jadi orang yang bakal menghancurkan hidup para siswa.
Hingga semester kedua tahun 2025, Guru A masih sepenuhnya dikeluarkan dari jadwal kegiatan mengajar dan dikucilkan di lingkungan sekolah. Bila tidak mau pindah, ia diancam akan dikeluarkan oleh kepala sekolah dengan wewenang jabatannya.
Sementara itu, kedua siswi yang memfitnahnya masih menjalani kehidupan sekolah dengan normal. Mereka bahkan tidak pernah meminta maaf. Karena itu, Guru A akhirnya melaporkan keduanya atas dugaan laporan palsu.
Guru A juga menceritakan dampak tuduhan palsu tersebut dalam hidupnya. Setelah mendengar kabar tersebut, ibunya jatuh pingsan. Ia juga gagal menikah dengan tunangannya. Guru A mengalami guncangan mental yang berat hingga didiagnosa menderita gangguan stres dan depresi.
Ia menambahkan, "Saya menjadi guru karena menyukai anak-anak. Namun sekarang saya sudah kehilangan keberanian dan kepercayaan diri untuk berdiri di depan para murid. Saya bahkan sedang mempertimbangkan untuk meninggalkan profesi guru."
-------------------
Based on article by Newsis (Reporter Choi Hyunho)
Indonesian summary by jeongjeonginuna