The journey of understanding the Universe goes from the alphabet to numbers to electric current.
The human language -the alphabet - is the most limited and limiting factor in the journey, but sadly it is necessary. Otherwise, how else can I write this post?!!
Then numbers are very important especially the concepts of zero, one and infinity. ∞ is NOT the largest number. Because if you add 1 to ∞ and still get ∞ it means you started with ∞ minus 1. Real infinity comes from the realization that every line (including the number line and the time line) ultimately bends. And when they do, they end up being a large - very very large - circle. And the circle comes back to its starting point. In this case, zero. So real infinity is zero to zero over and over and over again.
Now, the most exciting part is the 3rd one. The electric pulse. The zero and one; on and off; is and isn't. That is the language of the Universe. We can actually tune our brains to listen to that language. The original function of the brain, before we invented numbers and language, was a receiver - an antenna of sorts - picking up the pulse of the universe.
At first there was Nothing; absolute Void; no space, no time no matter. This doesn't mean that there was indeed a beginning, and consequently there will be an end. Because "Nothing" by definition, does not exist. It represents the lack of existence. So what I'm really saying, is that there's no beginning and no end.
The state of Nothing in and by itself is the only ingredient responsible for creating the universe. That state of void is unstable and unsustainable, by definition. Take just the time dimension for example and forget the other two (space and matter). No matter how long the state of Nothing lasted, it never lasted at all, because "Nothing" is the absence of time.
So a state of Nothing instantly leads to an endless ripple effect (imagine a ripple effect on the surface of a pond). It's endless and it's instant because Void is the ultimate "no resistance" surface (3D surface). The ripples travel instantly on such a surface, occupying everywhere, all the time, with all the matter that makes the Universe.
At the same time, the ripple effect is a 3D electric pulse. The Void is the Neutron mother. The disturbance to the void is an electric current of plus and minus. Put these 3 together, you get a neutron, a proton and an electron. In void, these 3 charges form an atom, and the atoms form matter, which forms the Universe. You tune your brain to that pulse and you can feel the entire universe.
Each ripple in the endless ripple effect is one universe (lowercase u). The ripple effect is the full Universe (uppercase). The ripple effect is travelling, or rather happening, instantly, on a canvas of void. There's nothing else in effect (like the ripple effect on the pond. There's nothing apart from the water of the pond). In between ripples, there's Void. Trapped within ripples are pockets of Void, from blackholes to neutrons.
As far as all this void is concerned, it's ONE, and it does not interpret anything else. For the Void, the Universe does not exist and never happened. It's invisible to it. As such, it will never swallow it as some scientists claim. The ripple effect, which is at the same time a 3D pulse (the particle is a wave), has no beginning and no end in all three dimensions (time, space and matter).
For more, check out earlier posts/replies, and the web link to Ripple Cosmology
First they destroyed Jaguar.
Now it’s the turn of Ferrari.
Must be a coincidence – just like with the burning churches in France…
But what if the myth of Ferrari has been destroyed on purpose?
Ferrari was all that went against the dominant narratives of our age – it represented defiance, male virility, strength, individuality, desire, competition, independence, joy, pride and individual success.
All those things that the current world would like to ban.
It was loud in a world demanding silence. Excessive in an age obsessed with restraint.
It was truly emotional.
It stood for speed, danger, ambition, even conquest – it stood for the idea that a man could still dream of becoming greater than he was.
Not safe. Not humble. Not apologetic – unlike everything in our current world…
The myth of Ferrari just stood in the way.
And myths are dangerous when they remind people that greatness still exists…
It represented something ancient: masculine pride, individual triumph, the joy of standing out instead of blending in. It celebrated victory openly, without guilt. Power without excuses. Beauty without compromise.
It became intolerable.
And so it had to burn – like the cathedrals…
Our civilization tears down its symbols of vitality, excellence, and pride.
It couldn’t be standardized, softened, domesticated – so it had to be destroyed.
Well, now it is no more.
This is what happens to those who stand in the way of "progress" – those who refuse to kneel before "the spirit of our age"…
I have had my Ferrari moment years ago – I don’t mind personally – but our children will not be allowed to taste that…
R.I.P. Ferrari 🕯️🙏
You get one car for the rest of your life.
It has to do everything. Commute, road trips, holidays, mega mileage… all of it. No swapping. No second car.
What are you choosing? And why.
I’ll start.
I remember gawking at the CLS550 as a kid because it seemed like nothing else on the road. It looked like a starship next to a Camry. Really sad to see what they’ve become.
The all-new Mercedes-AMG GT 4-Door Coupé: experience the raw power of a hypercar and the legendary emotion of an Affalterbach V8, paired with charging times that rival a racetrack pitstop. Four doors. No compromises. Pure AMG 🙌
Guys, ada laporan baru dari lembaga riset Celios yang menurut gue adalah salah satu yang paling mengerikan yang pernah gue baca tentang kondisi ekonomi Indonesia.
Judulnya: Republik Oligarki Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026.
Dan datanya bukan dari sembarang sumber.
Dari Forbes.
Dari LHKPN.
Data yang sudah terverifikasi dan tidak bisa dibantah.
Fakta pertama yang langsung bikin gue sesak napas:
50 orang terkaya Indonesia hanya 50 orang total kekayaannya mencapai Rp4.600 triliun per 2026.
APBN Indonesia?
Rp3.800 triliun.
Artinya 50 orang itu lebih kaya dari seluruh anggaran negara yang digunakan untuk membiayai 270 juta rakyat Indonesia selama satu tahun penuh.
Satu tahun.
Gaji PNS, subsidi BBM, bayar utang, bangun jalan, biaya militer, semua program sosial semuanya masih kalah dari 50 orang itu.
Dan setiap harinya harta 50 orang itu naik Rp13 miliar per hari.
Sementara upah pekerja harian di Indonesia bergerak di kisaran Rp2.000 sampai Rp5.000 per jam.
Fakta kedua ketimpangan di antara pejabat negara sendiri:
Total kekayaan pejabat negara era Prabowo-Gibran: Rp1 triliun lebih.
Dan dari seluruh pejabat itu 73% kekayaannya hanya dikuasai oleh 12 orang.
Dua belas orang.
Yang masing-masing punya kekayaan di atas Rp1 triliun.
Siapa?
Salah satu yang terbesar adalah Menteri Pariwisata Widya Kusuma.
Ada juga Menteri Perumahan Rakyat.
Keduanya masuk dalam daftar lima pejabat terkaya.
Fakta ketigayang paling menohok soal TNI dan Polri:
Setiap tamtama TNI prajurit paling bawah butuh 252 tahun masa tugas untuk menyamai kekayaan Panglima TNI.
Dua ratus lima puluh dua tahun.
Kalau mulai kerja umur 20 baru bisa menyamai kekayaan atasannya di umur 272 tahun.
Itu bukan angka. Itu absurditas.
Di Polri sedikit "lebih baik" polisi golongan paling rendah butuh 139 tahun masa tugas untuk menyamai kekayaan Kapolri.
Ketimpangan ini bukan hanya antara rakyat dan orang kaya. Tapi di dalam institusi yang sama.
Di antara satu korps yang sama.
Fakta keempat anggota DPR versus konstituennya:
Anggota DPR Gorontalo kekayaannya 800 kali lipat dari rata-rata masyarakat Gorontalo yang mereka wakili.
Anggota DPR Yogyakarta 400 kali lipat dari rata-rata masyarakat Yogyakarta.
Orang-orang yang mengklaim mewakili rakyat hidupnya 400 sampai 800 kali lebih kaya dari rakyat yang katanya mereka wakili.
Dan mereka yang membuat undang-undang. Mereka yang memutuskan kebijakan pajak. Mereka yang menentukan siapa yang dapat subsidi dan siapa yang tidak.
Dan ini yang membuat seluruh gambar itu menjadi sangat gelap:
Celios mengajukan satu pertanyaan yang sangat sederhana: kalau 50 orang terkaya itu dipajaki hanya 2% dari total kekayaan mereka negara dapat berapa?
Rp93 triliun per tahun.
Sembilan puluh tiga triliun.
Setiap tahun.
Dari pajak 2% saja atas kekayaan 50 orang.
Itu lebih dari cukup untuk membiayai rekonstruksi bencana besar.
Untuk membenarkan semua perlintasan kereta berbahaya di Jawa yang butuh Rp4 triliun.
Untuk menggaji 8 juta guru honorer setahun penuh.
Untuk menutup seluruh defisit BPJS Kesehatan.
Hanya dari 50 orang.
Hanya 2%. Per tahun.
Tapi itu tidak terjadi.
Dan Celios menjelaskan kenapa:
Karena orang-orang yang punya kekayaan itu — adalah orang-orang yang sama yang membiayai kampanye politik, yang duduk di dewan komisaris BUMN, yang punya akses langsung ke pengambil keputusan.
Pajak kekayaan sudah masuk dalam rencana Kementerian Keuangan paling lambat 2028 kata mereka. Tapi implementasinya? Masih "akan akan akan" saja. Tidak pernah benar-benar dieksekusi.
Sementara yang terus dipajaki adalah kelas menengah yang sudah ngos-ngosan. Kelas menengah Indonesia turun 1,1 juta orang dalam setahun tapi mereka yang paling mudah dikejar pajaknya karena datanya ada, penghasilannya kelihatan.
Seperti kata peneliti Celios: berburu di kebun binatang. Hewannya kelihatan, tinggal tembak. Sementara yang benar-benar harus dipajaki terlalu kuat untuk disentuh.
Dan ini yang paling mengerikan dari seluruh laporan ini:
Ketimpangan yang ekstrem ini bukan hanya masalah ekonomi. Ini adalah bahan bakar untuk sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Celios menelusuri pola historis dan hasilnya konsisten. Ketika ketimpangan mencapai titik ekstrem dan orang-orang hopeless tidak melihat jalan keluar yang rasional mereka tidak lari ke gerakan buruh atau gerakan sosial yang terorganisir.
Mereka lari ke kelompok-kelompok yang menawarkan identitas, musuh bersama, dan rasa memiliki.
Di Italia 1930-an orang yang di-PHK direkrut oleh Black Shirt. Di Jerman industri tutup, pengangguran meledak, orang mencari pegangan.
Di Indonesia sendiri kerusuhan 1998 dan berbagai gejolak sosial sesudahnya, ketika ditelusuri, akar masalahnya selalu sama: ketimpangan ekonomi yang dibalut isu identitas.
Dan tanda-tandanya sudah mulai terlihat sekarang ormas-ormas yang berdemo bukan ke instansi pemerintah tapi ke lembaga bantuan hukum masyarakat sipil, bayaran demo yang menjadi solusi pengangguran, program-program besar yang menyerap tenaga kerja tapi dengan cara yang menciptakan ketergantungan bukan kemandirian.
Solusi yang Celios rekomendasikan dan ini sangat konkret:
Satu — pajak kekayaan 2% untuk 50 orang terkaya. Langsung hasilkan Rp93 triliun per tahun. Bukan mimpi Brazil dan Colombia sudah melakukannya dengan komite audit independen.
Dua — moratorium MBG. Hentikan sementara, perbaiki tata kelola dari akar, baru jalankan lagi dengan tepat sasaran fokus ke daerah 3T dan keluarga miskin ekstrem, bukan merata ke semua sekolah termasuk swasta di Jabodetabek.
Tiga — kembalikan 20 triliun yang diambil dari anggaran kesehatan ke Kementerian Kesehatan untuk program stunting yang sudah terbukti efektif. Benefit yang dihasilkan: Rp400 triliun. Versus MBG yang belum jelas benefit konkretnya.
Empat — pajak windfall untuk komoditas yang sedang untung besar batu bara, sawit, nikel, minyak. Mereka untung dari harga global yang tinggi, sementara rakyat menanggung subsidi energi. Ini bukan soal nasionalisasi ini soal keadilan distribusi keuntungan.
Indonesia bukan negara miskin. Indonesia adalah negara yang kekayaannya terkonsentrasi pada sangat sedikit orang, yang sistem pajaknya melindungi orang kaya dan membebani kelas menengah, dan yang program-program besarnya lebih banyak menciptakan celah korupsi baru daripada menyelesaikan masalah lama.
50 orang lebih kaya dari APBN. 12 pejabat kuasai 73% kekayaan seluruh pejabat negara. Tamtama butuh 252 tahun untuk menyamai Panglima. Anggota DPR 800 kali lebih kaya dari konstituennya.
Dan solusinya sudah ada. Jelas. Terukur. Bisa dijalankan hari ini.
Yang tidak ada adalah kemauan politik untuk melakukannya. Karena yang harus meloloskan kebijakan pajak kekayaan itu adalah orang-orang yang sama yang akan paling terdampak olehnya.
Itu bukan korupsi yang bisa ditangkap KPK. Itu adalah struktur. Dan struktur hanya bisa diubah kalau tekanan dari bawah lebih kuat dari kenyamanan di atas.
⚠️ Disclaimer: Berdasarkan laporan Celios "Republik Oligarki Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026" dan wawancara peneliti Celios Bima Yudistira. Data bersumber dari Forbes dan LHKPN yang dapat diverifikasi publik. Ini analisis berbasis riset independen bukan tuduhan hukum kepada individu manapun.
ini a day in my life nya mayo yang dibikin sama bini gw. dan sekarang, hari hari kita pasti bakal beda tanpa makhluk kecil bulet ini. selamat jalan mayonnaise!
Satu postingan duka cita.
Hari ini, mayo, hamster campbell kesayangan gw dan bini akhirnya mati.
berawal dari ketidaksengajaan miara (dikasih sama sepupu yang masih kecil karena emaknya ga bolehin dia miara) berujung jadi temen kecil yang nemenin aktivitas kita dirumah.
journey jajan livina bantet yang (katanya) rewel
1st:
oli mesin 👍
oli transmisi 👍
kampas rem 👍
2nd:
kaca film 👍
wiper d/b 👍
aer radiator 👍
3rd:
klakson 👍
next jajan: ban botak, spion kiri somplak & motornya mati, saklar power window, bersihin evap AC….