@dkdrcrane@aaldirnld kalau masih nganggep suatu scientific terms suci dari kritik sih kelihatan banget RESEARCHER dan PINTAR nya. apa bedanya sama dogma kalau gitu?
@ennuidays@latnaSaga@runiarumndari aduh kak, yang orang" permasalahkan itu take OP soal "keberlihakan" yang bahkan dia pake buat mengasumsikan intensi pembuat film, you can't do that.
katanya jg "banyak yg siding bear itu bukti kalau film memihak bear" gimana ceritanya bisa disimpulkan begitu?
@steflandelwill@wajdilan fokus, mas. ini OP bahas dosen yang suka kasih soal berdasarkan materi yang belum disampaikan atau tidak disampaikan atau tidak dianjurkan untuk dipelajari mandiri di kelas. kalau konsepnya sudah disampaikan ya siapa juga yang mempermasalahkan?
...Baru selesai nonton.
Terlalu gila. Banyak yg mindblowing.
Jadi kuatir keselamatan @zanatul_91
Wawasannya tentang kasus megakorupsi chromebook berpotensi mengancam nyawanya.
Makin yakin Nadiem harus dihukum seumur hidup+Ibam min 20thn.
18 poin alur menit:
1. 11-12
Data <50% sekolah seluruh Indonesia yg butuh chromebook
2. 13,5 -14,5
Data² dari penelitian internal kementerian serta eksternal dari PBB, Worldbank, dll bahwa kebutuhan TIK (chromebook) di Indonesia bukanlah prioritas apalagi saat itu pandemik
3. 15,5-16,5
Penelitian Pusdatin bhw kebutuhan TIK itu dibuat², bukan mendesak. Ekosistem yg dipaksakan, bukan kebutuhan alamiah
4. 16,5 -17,5
Kajian Teknis dokumen pengadaan TIK, ada survei penggunaan laptop² di seluruh sekolah dari 4 item (Window, Linux, Mac, chromebook) kolom Chromebook kosong alias gak ada yg pake
4. 17,5
Soal panduan chromebook baru belakangan, menyalahi prosedur pelatihan TIK. Panduan baru dibagikan Juni 2021, kebijakannya lahir di 2020
5. 20-23
Laptop² yg gak bisa digunain karna keadaan di daerah (gak ada listrik-internet) tsb hingga akhirnya rusak
6. 24
Hasil riset internal kementerian saja menjabarkan bahwa gak ada kebutuhan sama sekali soal chromebook
7. 26,5-27
Contoh guru di NTT dipermalukan sampai sebegitunya demi cari sinyal internet. Teknologi bukan mempermudah, malah bikin makin susah bahkan wibawa guru jatuh.
8. 28-30
Ada 2 survei (sampling ribuan guru di Jabar jg ratusan guru di seluruh Indonesia) 2 survei tsb isinya sama bhw teknologi chromebook bukan mempermudah kerja² guru tp malah bikin beban yg terkesan membantu "shadow"-nya (aplikasi²) Nadiem. Diikuti contoh epic Jokowi blusukan malam² di daerah Bogor mendapati kepala² sekolah sampai tengah malam mengerjakan aplikasi² chromebook
9. 31,5-33,5
anomali anakronis pengadaan chromebook. Guru² secara halus dipaksa untuk memakai chromebook berkenaan dengan assesment nasional
10. 34-39
Keanehan kronologi soal posisi Ibam. Misal 2 kajian dalam 1 tahun. Kajian pertama clean-clear bhw chromebook gak dibutuhkan. Lalu keluar lagi revisi kajian yg berkebalikan
11. 42-43,5
Kebijakan Nadiem memaksakan assesment di tengah momen PSBB, menyebabkan kematian pada sebagian guru akibat terjadi penularan covid. Guru² dipaksa datang demi assesment nasional yg disinyalir kuat demi kepentingan chromebook
12. 45-45,5
Kebijakan Nadiem, SMK sumber pengangguran tertinggi
13. 46-52
Terjadi pemaksaan/tekanan untuk mensukseskan aplikasi² chromebook bahkan membuat guru seperti menjadi buzzer Nadiem secara otomatis (template result via FB). Bahkan masuk investigasi Kompas di salah 1 daerah pedalaman Papua (Tolikara)
14. 52,5-54,5
Narsum pernah berdebat via chat zoom dengan saksi mahkota Jurist Tan yg kini "hilang". Terlihat arogansi Jurist Tan pada momen itu membuat guru² harus tunduk
15. 55,5-56,5
Ibam memperlihatkan sikap defensif bahkan lebih arogan dari Jurist Tan ketika mendapat masukan dari klien (guru)
16. 66
Kesejahteraan guru tidak meningkat dan literasi murid tetap jeblok, era Nadiem
17. 68,5-69,5
Rusaknya karakter guru berubah dari pengajar menjadi content creator, akibat era Nadiem seluruh guru dipaksa untuk upload² video
18. 18. 72,5-73
Siklus "kutukan" dunia pendidikan Indonesia oleh 2 hal: literasi yg buruk dan kesejahteraan guru yg buruk
*Ada intermezzo fact tentang tingkat literasi kita setara anak² di Gaza dan untuk sains di bawah rata² dunia yg ongkos sosialnya bikin rugi 200T/thn, ada penelitiannya.
Public speaking narsum sangat berkelas. Tenang. Intonasi-artikulasi stabil.
Isinya daging semua. Rate 10/10
Gw menyarankan narsum jaga diri, jangan lengah.
Karna video ini bisa jadi "X Factor" atau titik balik, apalagi jika sampai viral.
Majelis hakim kalo nonton video ini sih gw yakin bakal vonis Nadiem seumur hidup... (``,)
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran.
Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini.
Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan.
Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja.
Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya.
Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia.
Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”.
Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal.
Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;)
Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa.
Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri.
Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok.
Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.