“Resistensi adalah hukum dari keberadaan. Ia menjadi internal untuk objeknya. Pada momen keberadaan yang mengambil bentuk, atau sesuatu kekuatan asimetri terbentuk, ia menghadapi resistensi yang secara irreversible membelokkan dan memecahnya.” Jacques Lacan, dalam Ecrits.
Dalam perbendaharaan-pengetahuan di era kiwari, kita sedang dipaksa untuk menentukan model kebenaran yang parsial, tanpa perlu memaksakan kebenaran yang universal.
Diskusi bersama sahabat Izzan; manusia lombok, kader HMI pasif, dan mahasiswa Filsafat aktif (saat ini sedang menggarap skripsi lamanya-berbau Lacanian) diskursus ini dipantik melalui-dari Lacan hingga-menjadi "la-can" dalam artian "la-tidak" - "can-bisa": tidak bisa. heuheu~