🚨⬆️ PROMOTED TO 🇮🇩ISL 2026/27
💚🦅 PSS jadi tim kedua yang dipastikan promosi ke kasta tertinggi Liga, 🇮🇩ISL musim 2026/27 mendatang.
Kepastian didapat usai PSS menang atas tim tamu, PSIS dengan skor 3-0 pada pekan terakhir Fase Wilayah kasta kedua liga, Championship 2025/26 Wilayah Timur.
Hasil tersebut membuat klub berjuluk Elang Jawa finish di puncak klasemen akhir Wilayah Timur dengan torehan 56pts.
Setelah memastikan promosi, PSS bakal melaju ke Final dan memainkan laga kandang kontra tim pemuncak klasemen Wilayah Barat, yakni GARUDAYAKSA FC.
WELCOME BACK, MAN! 💚✨🦅
📸 Ofisial
Kiper Lazio, Edoardo Motta (21 Tahun) save 4 penalty Atalanta dan pastikan Lazio melaju ke FINAL Coppa Italia.
GELOOOO 4X SAVE PENALTY 😮😮
https://t.co/O9OcUJk66t
Suatu hari, Umar bin Khattab melihat Jabir ibn Abdullah pulang dari pasar dengan membawa sesuatu di tangannya.
Umar bertanya, “Apa yang engkau bawa itu, wahai Jabir?”
Jabir menjawab, “Ini sepotong daging. Aku membelinya karena aku ingin memakannya.”
Umar menatapnya, lalu berkata pelan namun menggetarkan, “Apakah setiap kali engkau menginginkan sesuatu, engkau langsung membelinya?”
Dialog itu sekilas mungkin terasa berlebihan. Apa salahnya makan enak? Apa salahnya membeli sesuatu yang kita inginkan? Jika kita yang ditegur, barangkali kita akan tersinggung dan berkata, “Kenapa ikut campur urusan orang lain? Suka-suka aku dong, mau makan apa saja, kan ini uangku."
Namun Jabir bukanlah orang yang hatinya sempit. Ia tidak marah. Ia justru diam, merenung, mencoba memahami maksud teguran itu. Umar tidak sedang melarang daging, dan tidak pula mengharamkan kenikmatan dunia. Ia hanya sedang mengajarkan prinsip besar: tidak semua keinginan harus dipenuhi. Manusia harus mampu mengelola hasratnya, bukan diperbudak olehnya. Sebab ketika keinginan selalu dituruti, perlahan ia berubah menjadi penguasa yang mengendalikan hidup.
Di sinilah letak pelajaran yang relevan sepanjang zaman, termasuk saat ini. Betapa banyak orang bukan hancur karena kekurangan, melainkan karena tidak pernah belajar menahan keinginan. Gaji dua digit bahkan tiga digit pun ternyata tak cukup, karena gaya hidupnya terus mengikuti keinginan yang mahal.
Atas nama gengsi, nafsu yang dibiarkan tumbuh liar akan mengikis ketahanan jiwa, melemahkan disiplin, dan menumpulkan empati. Orang yang terbiasa berkata “iya” pada semua keinginannya akan kesulitan berkata “tidak” saat hidup menuntut pengorbanan.
Puasa hadir sebagai latihan nyata untuk menaklukkan diri. Kita lapar, kita haus, sementara makanan dan minuman tersedia di depan mata, bahkan kini cukup satu sentuhan layar untuk memesannya.
Uang mungkin ada, kesempatan terbuka, tapi kita memilih menahan diri. Bukan karena tidak mampu membeli, bukan tak punya uang, tapi karena sedang belajar menguasai diri.
Puasa mendidik kita untuk menyadari bahwa kebebasan sejati bukanlah melakukan semua yang kita mau, akan tetapi ketika kita mampu menahan apa yang kita mau.
Teguran singkat Umar kepada Jabir menjadi pelajaran panjang bagi siapa pun yang mau berpikir: kendalikan keinginanmu sebelum keinginan itu mengendalikanmu.