man being a (not so) recent weeb introduce me to this quality of a media, that is manga. like it more than movies and western comics, bar music.ive read over 220 titles and been a while that i wanna do my top 25 manga man, so here it is, and its in order
After the referee gave the penalty ,
Raya was already with another ball he picked outside the pitch just to put pressure on the penalty taker. PSG captain and Ruiz took the ball away from him,yet he kept coming close to Vitinha again. Lewis Kelly took down the ball from vitinha,desire pushed him back,he kept coming back. Meanwhile Gabriel is still standing at the penalty kick spot after the referee told him several times to leave the spot. Arsenal football club is a very dirty club.
Unfortunately, I have to admit that I have not done my best. My current situation is a direct consequence of my incompetence. I suck at doing this life thing.
Liverpool FC can confirm Arne Slot is to depart his role as head coach with immediate effect and that the process to appoint a successor is under way.
He leaves with a Premier League title to his name and our deepest gratitude and appreciation.
I have witnessed this club go from doubters to believers, and from believers to champions. It took hard work and I always did everything I could to help the club get there. Nothing makes me prouder than that.
Us crumbling to yet another defeat this season was very painful and not what our fans deserve. I want to see Liverpool go back to being the heavy metal attacking team that opponents fear and back to being a team that wins trophies. That is the football I know how to play and that is the identity that needs to be recovered and kept for good. It cannot be negotiable and everyone that joins this club should adapt to it.
Winning some games here and there is not what Liverpool should be about. All teams win games.
Liverpool will always be a club that means a great deal to me and to my family. I want to see it succeed for long after I have moved on.
As I’ve always said, qualifying to next season’s Champions League is the bare minimum and I will do everything I can to make that happen.
Temenku pernah bilang gini :
Nggak ada yang namanya hidupnya sial. Coba kamu hitung selama setahun kesialan kamu nggak sebanyak keberuntungan kamu. Kamu masih bisa makan, dapet duit, punya temen, tempat tidur yang layak, melihat mendengar, berbicara dsb bukankah itu keberuntungan??
Beberapa orang terlalu fokus menghadapi suatu masalah tanpa melihat hal kecil yang sebenernya bisa jadi solusi untuk kedepannya.
#tadabbur
Fyi...
Bahwa Al Qur'an tidak pernah mendefinisikan secara eksplisit apa arti dari 'bahagia' di dunia.
Minimal Al Qur'an hanya menggunakan diksi "sa'ida" untuk menggambarkan sebuah kebagiaan. Itu pun bahagia di akhirat bukan di dunia.
Seperti yang tertera pada ayat berikut:
يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ“
Di kala datang hari itu (Kiamat), tidak ada seorang pun yang berbicara melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang bahagia. (QS. Hud: 105)
Lantas, mengapa Al Qur'an tidak mendefinisikan arti sebuah kebahagiaan di dunia?
Mengutip tulisan dari Mark Manson dalam bukunya 'sebuah seni untuk bersikap bodo amat' bahwa kebahagiaan di dunia itu bersifat algoritmik, bisa diutak-atik, dirubah standarnya dan dicapai.
Bahagia itu tidak harus memiliki sebuah rumah besar di PIK 2 dengan kapalnya yang mewah, karena belum tentu orang yang memiliki itu bakal bahagia. Belum tentu juga orang yang setiap hari kerja dengan gaji di bawah UMR, masih ngontrak dan kemana-mana bawa motor astrea dilarang untuk bahagia.
Intinya tuh... Kalau hanya mengejar definisi 'bahagia' di dunia, maka kita tidak akan pernah mencapainya. Betul apa kata Rasul bahwa manusia itu tidak akan pernah merasa puas sampai mulutnya ditutup oleh tanah.
Trus bagaimana, bodo amat aja atas standar bahagia milik orang lain. Kejar bahagia versi kita sendiri. Tapi jangan sampai melupakan kebahagiaan hakiki di akhirat kelak.
Allah berkalam:
"مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً"
Allah beri "kehidupan yang baik/bahagia" di dunia bagi yang beriman dan beramal saleh. (QS. An-Nahl: 97)
Bagaimana jika konsepnya Rezeki ternyata adalah,
- rezeki memang sudah diatur (ditempatkan, disediakan) untuk diri kita di berbagai tempat dan peluang.
- namun, balik lagi ke kita mau berusaha ngambilnya atau enggak, memantaskan diri atau enggak.
Jadi mungkin saja, Allah sudah menuliskan bahwa rezeki kita aslinya punya harta 10 miliar sampai meninggal, atau bisa kuliah ke luar negeri.
Namun, karena kita enggan berusaha, sekolah/kuliah males2an, ada peluang mager ambil, dsb, ya akhirnya hidupnya gitu2 aja. Gak sampe kemana2.
Makannya kan dijelaskan bahwa Allah sudah menjadikan bumi mudah bagimu, berjalanlah ke segala penjurunya, makan sebagian dari rezeki-nya.. Serta seringkali ditanya, Tidakkah kamu berpikir? Wahai kaum yang berakal?
Namun kalo kita mager, ga mau mikir, mau gimana? kayak tau ada rambutan di teras rumah tapi males metiknya.
Malah nanti pas di hisab, malah ditanya, "udah dikasih badan yang sehat, waktu yang luang, kenapa dimubazirkan?"
This is why nothing is permanent unless you decide it is. Your bad year, your worst habit, or your stuck season. All of it. One restart away from being a chapter instead of a destiny.