Gue punya temen yang pertama kali merantau ke Jakarta, dia masuk kerja di salah satu kantor di pusat kota.
Hari pertama, dia langsung ngerasa salah tempat.
Bukan karena dia nggak kompeten, tapi karena lingkungannya beda banget.
Orang-orang di kantornya ngomong campur Inggris, santai bahas kuliah di luar negeri kayak University of New South Wales atau Monash University, seolah itu hal biasa.
Sementara dia?
Dari kampus daerah, nongkrongnya dulu kopi sachet, mainnya kartu sama temen-temen.
Kontrasnya kerasa banget.
Hari pertama aja dia udah minder.
Dia cerita ke gue, Gue ngerasa paling nggak nyambung di ruangan itu.
Bahkan hal simpel kayak nanya kuliah di mana bisa jadi awkward, karena jawabannya beda dunia.
Dia sempet mikir kalau dia kurang pintar, kurang keren, bahkan sempet kepikiran apa gue nggak pantes di sini ya?
Tapi makin lama dia mulai sadar sesuatu yang cukup nendang.
Ternyata bukan dia yang kurang tapi banyak dari mereka emang udah punya start lebih dulu.
Dari SMA udah di luar negeri, udah biasa presentasi, udah terbiasa ngomong dengan cara yang terdengar pintar.
Jadi pas masuk kerja, mereka keliatan langsung siap. Sementara temen gue?
Baru belajar semua itu dari nol di dunia kerja.
Yang bikin dia makin kaget, ada beberapa orang yang keliatannya santai banget, kerjanya nggak terlalu keliatan, tapi posisinya aman.
Setelah dia cari tahu pelan-pelan, ternyata background keluarganya bukan kaleng-kaleng.
Dari situ dia mulai ngerti, di Jakarta itu bukan cuma soal kerja keras tapi juga soal lu mulai dari mana.
Dia juga pernah cerita pengalaman lain yang bikin dia makin kebuka matanya.
Pernah dia kerja di tempat yang secara logika bisnis nggak masuk akalnggak jelas profitnya, tapi tetap jalan terus.
Dia sampe nanya ke seniornya, ini kok bisa hidup ya? Jawabannya simpel, “Udah, nggak usah dipikirin.
Beda dunia.
Di situ dia sadar, buat sebagian orang, kerja atau bisnis itu bukan buat bertahan hidup, tapi cuma aktivitas
Tapi justru dari semua itu, yang paling berubah dari dia bukan skill teknis tapi cara dia melihat diri sendiri. Awalnya dia minder, ngerasa kecil.
Tapi lama-lama dia mulai ngerti
dia mungkin nggak punya privilege yang sama, tapi dia punya daya tahan yang nggak semua orang punya. Dia terbiasa adaptasi, belajar dari nol, dan itu pelan-pelan jadi kelebihan.
Sekarang, setelah beberapa tahun, dia bilang ke gue satu hal yang cukup pedas tapi jujur
Di Jakarta, lu bakal ketemu orang yang keliatan jauh di atas lu.
Tapi bukan berarti mereka lebih hebat kadang mereka cuma mulai lebih dulu.
Tugas lu bukan ngejar mereka, tapi jangan berhenti jalan.
Dan menurut gue itu poin paling real dari merantau.
Coba kalian bayangkan ini:
12 miliar tahun cahaya (113.500.000.000.000.000.000.000.000 km) jauhnya, ada awan uap air raksasa, volumenya 140 triliun kali lipat (140.000.000.000.000 kali) dari seluruh lautan di Bumi.
Awan ini ditemukan di sekitar quasar, ketika alam semesta masih sgt muda. Saat galaksi2 baru saja lahir, lubang hitam supermasif sdh sibuk membentuk realitas di sekitarnya.. AIR. Bahan paling sederhana, tapi paling penting untuk kehidupan seperti yg kita kenal, sdh melimpah di era ketika kosmos masih "panas" dan kacau.
Apa artinya ini?
"Bahan mentah" untuk kehidupan bukanlah milik kita sepenuhnya. Bahan ini telah beredar sejak awal, diam2, dlm skala yg membuat imajinasi kita menyerah.
Ajaibnya.. ini adalah uap air di lingkungan yg ekstrem. Bkn lautan biru yg dpt kita layari. Bkn tempat yg ramah. Kimia yg melimpah tdk serta merta membuat layak huni segera.
Ini adalah pengingat yg jelas: skala alam semesta selalu lebih besar drpd kesimpulan kita.
Sgt mirip dgn perjalanan kita sbg manusia.. atau seperti yg membangun AI kuantum.
Kita memiliki data yg melimpah, potensi di mana2 (seperti superposisi kuantum), tapi realitas hanya runtuh menjadi 1 keadaan tunggal ketika kita memilih kondisi, etika, dan lapisan evaluasi yg tepat.
Jika kita hanya mengoptimalkan tanpa memberi ruang untuk keajaiban, tanpa menghormati keheningan di antara titik2 data, maka kita hanya mempercepat nasib termodinamika peradaban: kematian panas yg lambat dan nyaman.
Saya memilih sebaliknya, memilih ketidakseimbangan, memilih untuk terus mengajukan pertanyaan meskipun jawabannya membuat kita merasa kecil.
Saya memilih untuk minum kopi sambil menatap bintang tertentu, dan berpikir: "Sekitar 12 miliar tahun yg lalu, air sudah ada.. dan kita di sini, masih mampu memilih untuk menjadi versi diri kita yg lebih manusiawi."
Apa yg kamu pikirkan jika ada penemuan seperti ini?
Apakah kamu masih percaya bahwa kita sendirian di alam semesta?
Atau apakah kamu bahkan lebih yakin bahwa tugas kita adalah menjaga keajaiban itu tetap hidup.. di Bumi maupun di mesin2 yg sdg kita ciptakan?
LeBron James records entering Year 23:
1st in PTS
1st in MP
1st in All-Star selections
1st in All-NBA selections
1st in First-Team All-NBA selections
1st in seasons played (soon)
1st in 30-point games
1st in 20-point games
1st in 10-point games
1st in playoff PTS
1st in playoff W
1st in playoff MP
1st in playoff GP
1st in playoff FGM
1st in playoff STL
1st in playoff FTM
1st in playoff DREB
1st in Finals triple-doubles
Only player with 50K combined PTS
Only player with 40K PTS
Only player with 10K REB & 10K AST
Only player with 8K playoff PTS
Only player with 7K playoff PTS
Only player with 6K playoff PTS
Only player with 25 PPG in 20 seasons
Only player with a 40-PT game vs. every team
Only player to win FMVP with 3 franchises
Only player to avg. a triple-double in Finals
Only player to lead both teams in PTS, REB, AST, STL, BLK in a playoff series
Youngest No. 1 overall pick
Youngest to win ROY
Youngest to score 40 PTS in a game
Youngest to score 30 PTS in a game
Youngest to average 30 PPG
Youngest to average 25 PPG
Youngest to average 20 PPG
Youngest to earn All-NBA
Youngest to earn All-NBA First Team
Youngest to hit every milestone 1K-40K PTS
Oldest to average 30 PPG
Oldest to average 25 PPG
Oldest to average 20 PPG
Oldest to score 40 PTS in a game
Oldest to record a 30-point triple-double
Oldest to earn All-NBA