Haiiii!! Aku baru join study twt mau nyari temen ngambis bareng, ayo mutualan 🤩
— call me May
— 07 line
— she/her
— 10th grade soon
— saintek'25
#studytwt#studyacc#AMBISVERSE#ambistwt
Help rt/like guys thankss!! 💐💐
Guys, please read fiction!! 🥹📚
Fiction can actually improve your critical thinking. Lewat cerita fiksi, kita diajak buat imagine berbagai kemungkinan, analyze setiap keputusan karakter, lalu compare situasinya dengan dunia nyata.
Kamu jadi kepikiran, "What if this happened in real life?" Kira-kira problem solving-nya bakal sama nggak? Apa orang-orang akan mengambil keputusan yang berbeda? Atau justru ada solusi yang lebih baik?
Jadi, baca fiction itu bukan cuma buat hiburan. It also trains you to think critically, see different perspectives, and understand people a little better.
Dari video TED ini aku sadari sesuatu bahwa sebenarnya semua orang tuh sebenernya procrastinator, atau suka menunda2 pekerjaan.
Bedanya apa? Cuma beda level aja.
Ada yg nunda kerjain tugas sejam, ada yg nunda ambil keputusan hidup sampai bertahun2.
Tau ga apa yg bahaya?
Yg bahaya itu bukan nunda yg ada deadline-nya, soalnya biasanya masih "kekejar" pas mepet.
Yg bener2 bahaya itu nunda yg ga ada deadline sama sekali. Kayak mau belajar skill baru, mau mulai jaga kesehatan, mau benerin hubungan sama orang lain.
Karena ga ada yg maksa, jadi keliatannya baik-baik aja terus. Padahal waktu tetep jalan dan kesempatan makin dikit.
Coba jujur ke diri sendiri, hal apa yg udah lama banget kamu tunda tanpa deadline?
Otak kita itu unik!
𝗢𝘁𝗮𝗸 𝗰𝗲𝗻𝗱𝗲𝗿𝘂𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮𝗽 𝗶𝗻𝗳𝗼𝗿𝗺𝗮𝘀𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝘂𝗹𝗮𝗻𝗴-𝘂𝗹𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗮𝘁𝘂 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿, meskipun informasi tersebut sebenarnya salah.
Ini terjadi karena pengulangan membuat pemrosesan informasi menjadi lebih lancar dan otak sering menggunakan kemudahan pemrosesan sebagai sinyal bahwa sesuatu itu benar, karena dirasakan lebih familiar.
Ada penelitian yang menunjukkan bahwa 𝘀𝗲𝗺𝗮𝗸𝗶𝗻 𝘀𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴 𝘀𝘂𝗮𝘁𝘂 𝗽𝗲𝗿𝗻𝘆𝗮𝘁𝗮𝗮𝗻 𝗱𝗶𝘂𝗹𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗲𝗺𝗮𝗸𝗶𝗻 𝗺𝘂𝗻𝗴𝗸𝗶𝗻 𝗶𝘁𝘂 𝗱𝗶𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮𝗽 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝘀𝘂𝗮𝘁𝘂 𝗸𝗲𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿𝗮𝗻. Efek ini tetap muncul meskipun sudah tahu pernyataan tersebut salah atau sumbernya tidak kredibel.
Otak manusia bersifat plastis. Jalur saraf yang sering digunakan akan diperkuat. Pikiran yang diulang-ulang dapat memperkuat koneksi saraf tertentu, sehingga pola pikir itu menjadi lebih otomatis dan mudah muncul.
Penelitian lain menunjukkan bahwa otak sebenarnya memiliki mekanisme untuk membedakan realitas dan imajinasi, melalui kekuatan sinyal sensorik dan pengawasan prefrontal cortex, tapi pengulangan yang kuat bisa membuat imajinasi menjadi sangat nyata.
Semoga bermanfaat!
Sumber Ilmiah:
-The effects of repetition frequency on the illusory truth effect
-The effects of positive or negative self-talk on the alteration of brain functional connectivity by performing cognitive tasks
🍓TIPS MILIH ORGANISASI & KEPANITIAAN DI SEMESTER 1 (highly requested yihi) 😋
contains things i wish i knew juga pas maba, cause i WAS that clueless😵💫
#collegetwt
[a thread]
tips kuliah 101:
jangan MATIL (ninggalin tugas dan jadi beban kelompok) especially di semester pertama. trust me once punya riwayat matil, mau tobat or apapun, there's a good chance bbrp orang di kuliah bakal tetep ngecap lu sebagai orang matil
serius dah, suka sama banyak hal tuh seru banget. musik, cinema, anime, kpop, buku, art, olahraga, dan sebagainya. nyari temen jadi lebih gampang ( menurut gua ), banyak yang bisa diobrolin, KAGAK BOSEN DAH POKOKNYA, ada aja gebrakan yang bikin lu heboh terus.
GUYSS ini aku ketemu RAHASIA LANCAR SPEAKING BAHASA INGGRIS🤸♀️
sp yg setiap giliran disuruh speaking english malah bingung? gimana mau sakses dapet kerja remote klo kebanyakan bingungnya‼️
jadi ini buat yg mau tau2 aja rahasianya🤫 sini aku bisikinn!
KENAPA DALAM SEBULAN AKU NHERASA ENGLISH SPEAKING & LISTENINGKU MAKIN MENINGKAT DENGAN PODCAST INI YA??????!!
Aku juga bingung kok bisa and now I feel different, my ears are more sensitive to catching fragments of the words! I dare to say; this is beyond recommended!
teruntuk mereka di luar sana yang ingin masuk dalam sebuah komunitas tetapi masih tertahan akan rasa ketakutan dari dalam dirinya, i dedicated this thesis for you 🤍
kenapa kita bisa mikir gini ya??
Secara psikologis, otak manusia memang dirancang untuk prioritas survival dulu (ini evolusi dari zaman purba). Menurut teori Hierarki Kebutuhan Maslow, manusia baru bisa naik ke level “berkembang” (self-actualization, mewujudkan potensi) kalau kebutuhan dasar sudah terpenuhi:
misal makanan, tempat tinggal, rasa aman, dan stabilitas finansial.
Kalau masih stuck di bawah (bertarung bayar tagihan, mikirin makan besok, atau takut kehilangan pekerjaan), otak masuk scarcity mindset alias pikiran “kurang terus”.
Efeknya:
• Mental bandwidth (daya pikir) habis untuk hal-hal jangka pendek.
• Sulit fokus belajar skill baru, networking, atau kreatif.
• Potensi yang sebenarnya besar jadi “tertutup” karena energi cuma dipakai buat nggak jatuh.
💚 aku pgn punya pengetahuan luas, ngomong ga belibet, kalo jelasin ke org skrng kyk org bodo gtu trs ngerasa lemot bgt, org cerita or ngejelasin akunya susah nangkep. Rekomen podcast indo yg bermanfaat buat hidup, buku online gratis sm kasih tau baca dmn dong.
Kenapa Kita Sering Melakukan Hal yang Berlawanan dengan Kemauan Kita?
Banyak orang sering ngalamin ini:
Pingin sukses, tapi interview kerja aja gak nyiapin dulu.
Pingin pinter, tapi males belajar, banyak buku, tapi gak dibaca.
Pingin hidup sehat, tapi kalap terus tiap makan, gak bisa kalau gak beli boba.
Kontradiksi kayak gini, itu kayak ga ada habisnya.
Makanya, kalau ada orang yang beneran melakukan apa yang dia bilang, gak pake alasan, gak pake drama, gak pake tapi-tapian; banyak orang akan terkagum-kagum.
Kalau ada penyanyi yang konsisten nulis ori song, konsisten bikin cover yang berkualitas, atau atlet yang konsisten berlatih, penulis yang konsisten menulis, kita selalu takjub melihat mereka.
Apalagi, kalau kita sendiri masih susah banget buat konsisten.
Padahal, alasannya itu, lumrah banget dimiliki sama semua manusia.
Yaitu, otak reptil.
Kalau kata Steven Pressfield, ada yang namanya "The Resistance": Sang Penghambat. Dia adalah suara kecil dari otak reptil kita yang selalu bilang, "Santai dulu, hati-hati. Jangan buru-buru, cari jalan aman aja."
Si Penghambat ini yang bikin penulis ngeblank di depan halaman kosong. Yang bikin kita gugup kalau mau presentasi. Yang bikin commis gak beres-beres, cover gak juga direcord, mixingan lama dilanjutin, editan nangkring di capcut tanpa tersentuh.
Dan yang lebih aneh lagi, semakin dekat kita ke tujuan, semakin kuat Si Penghambat ini muncul.
Mau deadline besok? Tiba-tiba pingin bersih-bersih kamar dulu.
Mau publish karya? Tiba-tiba ngerasa karyanya jelek.
Mau olahraga? Tiba-tiba ngerasa capek padahal belum ngapa-ngapain.
Ternyata, alasan semua itu, adalah karena otak reptil kita itu, benci perubahan, benci pencapaian, dan benci resiko.
Otak reptil ini beneran ada, secara fisik di kepala kita, bukan sekedar peribahasa.
Bayangin otakmu itu kayak gedung bertingkat.
Lantai paling atas, adalah bagian paling canggih yang bisa mikir logis, bikin rencana, bayangin masa depan, dan ambil keputusan matang. Itulah "otak manusia", alias Neo-Cortex.
Di lantai tengah, ada "otak mamalia" yang mengurus emosi, memori, kebiasaan, dan keterikatan dengan sesama. Secara biologi disebut Limbic System.
Tapi, di lantai paling bawah, ada penghuni lama yang sudah tinggal di sana jauh sebelum lantai-lantai atas dibangun.
Namanya adalah otak reptil, atau ilmiahnya adalah Brain Stem & Cerebellum. Bagian primitif di area batang otak.
Otak reptil ini mengontrol rasa takut, amarah, dan naluri bertahan hidup. Tugasnya cuma satu: Jauhkan kita dari bahaya.
Masalahnya, otak reptil ini, seringkali menafsirkan nervous-nya kita sebagai tanda bahaya.
Bagi dia, presentasi di depan atasan/kelas sama bahayanya dengan dikejar harimau. Publish karya kita sama seramnya kayak jatuh dari tebing.
Makanya selalu ada penolakan dari tubuh kita, tiap kita sedang nerveous menghadapi momen penting di hidup kita.
Hal ini gak cuma terjadi di individu saja. Di organisasi atau perusahaan juga gitu. Kebanyakan rapat, gak mau dikritik, sibuk menjilat pimpinan. Meeting tanpa ujung, wacana terus, akhirnya ga pernah ada program yang jalan dengan baik.
Otak reptil ini yang mengekang kita hingga sulit keluar dari zona nyaman, tapi dia adalah bagian dari diri kita, selamanya. Kita gak bisa menghapus rasa takut dan keraguan sepenuhnya.
Tapi kita gak harus nurutin dia, kita bisa buat dia tenang.
Langkahnya, bisa kita mulai dari:
Mengenalinya.
Setiap kali kamu ngerasa males, nunda-nunda, atau cari-cari alasan, langsung tanya ke diri sendiri: "Ini emang logis, atau ini otak reptilku yang ngomong?".
Pertanyaan simpel itu bisa balikin logika dan kesadaran kita.
Mulai dari yang kecil, mulai dari sekarang.
Otak reptil takut sama hal yang besar dan menakutkan. Jadi pecah tugasmu jadi sesuatu yang kecil banget sampai nggak ada yang perlu ditakutin.
Bukan "aku harus nulis novel," tapi "aku nulis satu paragraf sekarang."
Shipping beats perfect.
Salah satu taktik favorit otak reptil adalah nunggu sampai sempurna. Tapi kesempurnaan itu ilusi. Kirim dulu, perbaiki kemudian. Publish dulu, revisi nanti.
Game AAA aja boleh ngasih update buat ngatasin bug, masa kita gak boleh?
Buat komitmen publik.
Otak reptil lebih gampang ngomong "nanti" kalau nggak ada yang tau.
Tapi kalau kamu udah bilang ke orang lain, "Aku bakal upload video minggu ini" tiba-tiba ada tekanan sosial yang ngalahin ketakutan.
Maka dari itu aku ketik artikel ini juga sambil stream, biar semangat, hehe.
Intinyaaa...
Kita bukan orang yang lemah atau pemalas karena sering nggak konsisten. Kita cuma punya otak purba yang masih mikir kalau ambil risiko = mati.
Otak reptil itu nyata, dia ada di dalam kepala kita semua, dan dia nggak akan kemana-mana.
Kita perlu bisa hidup bersamanya, dan sesekali, dengan berani, mengabaikannya.
Nah, setelah baca ini kan kita jadi tahu nama dan wujudnya, serta kelakuan otak reptil si penghambat ini.
Pertanyaannya: kamu mau ngapain sekarang?
“Aku olahraganya jalan ke pasar.”
“Beres2 rumah seharian keitung olahraga gak?”
“Naik turun tangga tiap kerja itu olahraga kan?”
Gini guys, meski ketiga contoh tsb bagus banget sbg aktivitas fisik dan harus dipertahankan, tp ketiganya BELUM disebut olahraga krn ga memenuhi FITT