Alguien creó un repo en GitHub que te permite ejecutar Claude Code completamente gratis.
Redirige tu tráfico de Claude Code a 10 proveedores gratuitos como DeepSeek y Kimi, toma 5 minutos configurarlo, y ya tiene a más de 20,000 desarrolladores ejecutándolo.
🤯 China baru aja ngerilis model OCR open-source yang ukurannya kecil, tapi kemampuannya bikin melongo. 🇨🇳🔥
Namanya Unlimited-OCR. Cuma punya 3 miliar parameter, tapi bisa baca satu file PDF dari halaman pertama sampai terakhir dalam sekali proses. 😮
Yang bikin beda, kebanyakan OCR masih ngebagi dokumen per halaman.
Unlimited-OCR justru memproses seluruh dokumen sekaligus. 🚀
Beberapa hal yang menarik:
📄 Bisa menganalisis PDF hingga 100 halaman dalam satu batch (32K context window).
🌍 Langsung mendukung banyak bahasa.
📈 Nembus 93% di salah satu benchmark OCR, bahkan unggul 6 poin dari baseline.
🎯 Error rate-nya tetap di bawah 0,11 meski dokumennya sampai 40 halaman.
🔒 Semua proses berjalan 100% di perangkat sendiri, jadi file gak perlu dikirim ke cloud.
Dan bagian favorit gue... 😏
Semuanya gratis dan open-source. Kalau performanya sesuai klaim, ini bisa jadi salah satu OCR lokal paling menarik buat ngolah dokumen dalam jumlah besar. 👀
Kondisi BI sekarang mirip ama bacaan ujian macroeconomics kelas gw, di mana kebijakan moneter ga bisa seluwes itu karena kepentok kemampuan bayar utang pemerintah. Papernya bisa dibaca di sini https://t.co/DMmZ7gvZZx
Guys, ada pertanyaan yang menurut gue sudah terlalu lama dijawab dengan cara yang salah.
Kenapa orang pintar sering gagal?
Dan Feri Irwandi orang yang masuk STAN karena iseng, kerja 10 tahun di Kementerian Keuangan, sekarang S2 di Monash Melbourne punya jawaban yang sangat tidak klise.
Kecerdasan tanpa kemampuan berpikir mandiri adalah racun:
Feri punya pengalaman langsung dengan ini waktu di STAN.
Teman-teman sekelasnya?
Orang-orang yang sebelumnya keterima FTTM ITB, Kedokteran UI, Kriminologi UI. Otak-otak terbaik Indonesia yang memilih masuk STAN.
Dan mereka semua belajar dari kisi-kisi.
Menghapal jawaban persis dengan yang diminta dosen.
Feri tidak mau melakukan itu.
Bukan sombong tapi karena dia punya satu pertanyaan mendasar:
Kalau lo belajar dari kisi-kisi sebelum ujian apa yang sebenarnya diuji?
Bukan kemampuanmu.
Kisi-kisinya.
Hasilnya:
ketika soal ujian sama persis dengan kisi-kisi — nilai Feri di bawah rata-rata.
Mereka yang hapal jawaban punya nilai sempurna.
Tapi ketika soal berbeda dari kisi-kisi Feri langsung top.
Mereka yang hapal jawaban bingung karena tidak ada template untuk dijawab.
Inilah paradoks orang pintar yang sering gagal. Mereka sangat terampil mengoptimalkan sistem yang sudah ada tapi ketika sistemnya berubah atau tidak ada panduan, mereka tidak tahu harus berbuat apa.
Karena selama ini yang dilatih bukan kemampuan berpikir tapi kemampuan mengikuti instruksi dengan sangat presisi.
Sekolah mengajarkan kita untuk mendapat nilai bagus.
Bukan untuk berpikir.
Dan orang yang paling mahir di sistem itu justru paling rentan ketika sistemnya tidak ada.
Perfeksionisme adalah bentuk lain dari ketakutan:
Orang pintar cenderung perfeksionis.
Dan perfeksionisme terdengar seperti sesuatu yang bagus standar tinggi, detail-oriented, tidak mau sembarangan.
Tapi Feri dan Jerome sepakat:
perfeksionisme dalam konteks action adalah musuh kemajuan.
Perfeksionis menunggu kondisi sempurna sebelum bertindak.
Menunggu ide yang benar-benar matang.
Menunggu momen yang tepat.
Menunggu skill yang cukup.
Dan selama menunggu orang lain yang mau mulai duluan meskipun hasilnya tidak sempurna sudah jauh di depan.
Kalau lu nunggu bagus baru mulai lu bakal kalah sama orang yang mulai dulu meskipun enggak bagus.
Dan ini bukan hanya soal kecepatan.
Yang mau memulai duluan belajar dari kesalahan nyata bukan dari simulasi sempurna di kepala.
Mereka mengembangkan kemampuan beradaptasi. Sementara perfeksionis terus menyempurnakan rencana yang belum pernah dieksekusi.
Feri menyebutnya dengan konsep matematika sederhana: frekuensi harapan. Semakin banyak percobaan, semakin besar probabilitas menemukan sesuatu yang bekerja.
Orang pintar yang perfeksionis membuat sedikit percobaan tapi masing-masing sangat terencana.
Orang yang mau terus mencoba membuat banyak percobaan dengan kualitas yang bervariasi dan dari volume itu, sesuatu yang besar hampir pasti akan muncul.
Orang pintar terlalu peduli dengan persepsi orang lain:
Ini yang paling menohok dan paling sering terjadi tapi paling jarang diakui.
Feri menyebutnya dengan sangat langsung: "Udah banyak banget gua ngelihat orang stres kehilangan dirinya.
Karena standar moral dan ukuran normal mereka dipengaruhi oleh orang yang bahkan enggak peduli sama mereka sama sekali."
Orang pintar yang tumbuh dengan selalu mendapat validasi juara kelas, pujian guru, pengakuan lingkungan menjadi sangat tergantung pada validasi eksternal.
Ketika validasi itu berhenti atau lebih buruk, berubah menjadi kritik mereka tidak tahu harus bertumpu pada apa.
Mereka mulai mengubah diri bukan karena keyakinan internal tapi karena ingin membuat yang tidak suka menjadi suka.
Mereka membeli barang yang tidak dibutuhkan dengan uang yang tidak dimiliki untuk mengimpresi orang yang dari awal tidak pernah peduli.
Dan ini adalah spiral yang sangat melelahkan karena tidak ada ujungnya.
Karena: "No way. Mereka enggak akan melihat lu berbeda.
Tidak peduli seberapa banyak lo berubah untuk memuaskan mereka orang yang tidak suka akan selalu menemukan alasan baru untuk tidak suka.
Jerome menambahkan pengalamannya sendiri: ketika dia dukung timnas dan digoreng habis-habisan, instingnya adalah klarifikasi membuktikan bahwa dia memang suka sepak bola dari dulu, bukan ikut-ikutan.
Karena dia tidak mau terlihat salah di mata orang lain.
Tapi Feri dan Choki Pardede sama-sama bilang: "Udah, besok bilang aja minta maaf karena dukung timnas." Dan ketika Jerome melakukan itu dengan self-deprecating humor, mengakui dengan enteng — masalahnya langsung selesai.
Karena tidak ada yang lebih mematikan serangan daripada tidak memberikan reaksi yang diinginkan penyerang.
Paradoks terbesar: yang membenci justru yang membuat lo bertahan:
Ini yang paling counterintuitive dan paling didukung oleh riset yang Feri lakukan untuk disertasinya.
Untuk bertahan lama dan relevan yang perlu dibina bukan hanya yang suka.
Tapi justru yang tidak suka.
Logikanya: orang yang tidak suka sama lo memperhatikan lo dengan intensitas yang jauh lebih tinggi dari orang yang suka.
Mereka yang menggerakkan percakapan tentang lo. Mereka yang membuat nama lo terus disebut.
Dan ketika mereka menunjukkan ketidaksukaannya dengan cara yang impulsif dan emosional justru orang yang suka menjadi semakin yakin untuk mendukung lo.
Feri bahkan dengan sengaja mengetes ini: di periode paling banyak diserang, justru ketika serangan mulai mereda dia memancing lagi supaya tetap ramai. Dan hasilnya? Di saat yang bersamaan konversi penjualannya naik lebih dari dua kali lipat.
"Justru bukan memuaskan yang sudah suka. Justru membuat orang yang enggak suka itu apinya enggak padam. Karena dialah yang membuat lu terus terbakar."
Orang pintar yang gagal biasanya melakukan sebaliknya: mereka panik ketika ada yang tidak suka, berusaha menyenangkan semua pihak, dan akhirnya tidak punya positioning yang kuat di mana pun.
Semua orang suka mereka tapi tidak ada yang benar-benar peduli. Konversinya rendah. Massanya tidak militan. Dan ketika mereka ingin menggerakkan sesuatu tidak ada yang bergerak.
Tentang kebencian dan ini wisdom terpenting Feri:
"Membenci adalah hal yang lumrah. Kita pun akan membenci sesuatu. Tapi kalau manusia tidak bisa mengendalikan kebenciannya dia akan dimakan oleh kebencian itu sendiri."
Kebencian butuh energi yang sangat besar. Dan energi itu dikeluarkan untuk seseorang yang bahkan tidak tahu lo ada.
Tapi yang lebih berbahaya dari membenci orang lain adalah membiarkan kebencian orang lain mengontrol hidup lo.
Ketika lo membuat keputusan hidup berdasarkan siapa yang tidak menyukai lo dan bagaimana cara membuat mereka berubah pikiran lo sudah menyerahkan kendali hidup lo ke orang yang paling tidak layak memegangnya.
"Kendalikanlah kebencianmu lebih besar daripada kecintaanmu. Karena kalau lu dikendalikan sama cinta efeknya akan berbeda. Tapi ketika lu dikendalikan sama benci ya enggak bakal jadi apa-apa. Beneran."
Orang pintar sering gagal bukan karena kurang kecerdasan. Tapi karena kecerdasan itu justru menciptakan jebakan-jebakan yang spesifik:
terlalu mengandalkan sistem dan template, terlalu perfeksionis untuk mulai, terlalu bergantung pada validasi eksternal, dan terlalu takut pada ketidaksukaan orang lain.
Yang benar-benar membuat seseorang bertahan dan berkembang bukan seberapa pintar mereka tapi seberapa baik mereka bisa berpikir mandiri ketika tidak ada panduan,
seberapa cepat mereka mau memulai meskipun belum sempurna, seberapa kuat mereka bisa bertumpu pada standar internal mereka sendiri, dan seberapa tenang mereka bisa menghadapi ketidaksukaan tanpa kehilangan diri.
Dan ironisnya semua itu justru tidak diajarkan di sekolah. Yang diajarkan sekolah adalah cara mendapat nilai bagus di sistem yang sudah ada. Bukan cara bertahan ketika sistemnya tidak ada.
Ok web buillder gw baru aja bikin web juga buat mahasiswa dan temen temen yang mau belajar tentang AI.
So far web nya sangat smooth banget.
Materi nya rapih.
Gas cek aja dulu.
Its free.
https://t.co/TDV3Moy6GG
Your grip is training your brain.
Your grip is training your brain.
Your grip is training your brain.
Your grip is training your brain.
Because a stronger grip was linked to better cognition, brain structure, and mental health.
Jeleknya reformasi 1998 itu begitu..
Dia membuang yang baik dari orde baru: Repelita, industrial policy, pertumbuhan ekonomi yang stabil, pembangunan infrastruktur masif, kepedulian dan subsidi negara ke pendidikan...
Tapi malah ga menghapus masalah sesungguhnya rezim orde baru:
- Elit yang super korup dan KKN
- Cukong-cukong yang rakus dan terbiasa melanggara hukum
- Aparatus bersenjata yang politis, korup dan tidak profesional
- Institusi hukum kuno (mayoritas warisan kolonial) yang penuh ketidakpastian, tidak memihak rakyat dan sulit ditegakkan
- Rakyat yang kurang terdidik
Walhasil, ketika demokrasi liberal dengan sistem one man-one vote, kita terapkan. Bukannya makin bagus institusi politik, malah makin hancur.
Suara2 rakyat yang kurang terdidik kini bisa diatur oleh uang dan algoritma.
Elit-elit korup makin leluasa merampas ekonoomi karena tahu rakyat ga akan menghukum mereka di pemilu.
Aparatus bersenjata makin sering masuk ke dunia sipil karena diperlukan elit2 itu untuk menjaga aset mereka.
Hukum yang tidak imparsial hasil warisan kolonial Belanda, membuat elite-elite dan aparatus itu tidak bisa dihukum kapok dan jera.
Maka makin hancurlah Indonesia.
Apa yang kita lihat sekarang ini.. adalah hasil dari kesalahan punggawa reformasi 1998 yang gagal mengatasi masalah utama orde baru..
Apa bila kita rangkum, masalahnya satu:
Kegagalan membangun institusi politik yang baru dan bersih serta lepas dari warisan orde baru (dan orde lama).
MUST MUST MUST MUST MUST MUST MUST MUST MUST MUST MUST MUST MUST MUST MUST MUST MUST MUST MUST MUST MUST MUST MUST MUST MUST MUST MUST MUST MUST MUST MUST WATCH
Ini menarik bgt.
Ada yg bilang: kalau ada anak kecil yg terlalu religius, itu tanda parenting orang tuanya jelek.
Argumen ini langsung dibantah sama @afro_hamza, dgn menyertakan bukti riset.
Intinya anak yang dibesarkan di lingkungan religius (sekolah agama/private faith-based) secara statistik punya prestasi akademik lebih tinggi, perilaku lebih baik, dan orang tuanya lebih aktif terlibat.
Itu semua justru ciri2 parenting bagus menurut penelitian sosiologi & pendidikan (meta-analysis W.H. Jeynes).
Ini bukan cuma opini, tp ada datanya.
Kamu setuju ga sama penelitian ini?
Don't study harder tonight.
Sleep first.
I know that sounds like the advice of someone who doesn't understand how much work you have. But Royal Holloway researchers ran two meta-analyses across 50 years of sleep and memory research and found something that should permanently change how you schedule your work.
One full night of sleep deprivation before learning cuts your brain's ability to form new memories by 40%.
Not 5%. Not a slight dip. 40%.
You can spend 4 hours studying after no sleep. Your brain will process almost none of it. The hippocampus, which is the part that actually converts experience into memory, needs sleep to prepare itself for encoding.
You cannot outwork a depleted hippocampus.
The paper: "Sleep Deprivation and Memory: Meta-Analytic Reviews"
Psychological Bulletin, 2021.
The students who stay up all night to study aren't working harder than you.
They're working in a brain that's been locked.
Sleep is not the enemy of productivity. It is the condition that makes productivity possible.
This explains a lot about us! 😂
“Prospective memory” = kemampuan otak buat ingat sesuatu yang HARUS dilakukan di masa depan.
Contohnya:
Ingat minum obat jam 8, ingat kirim email setelah rapat.
Nah, TikTok merusak kemampuan ini karena satu hal: context switching yang brutal.
Setiap 15-60 detik otak dipaksa pindah konteks. Dari video kucing, loncat ke tutorial masak, loncat ke berita politik. Terus-terusan.
Akibatnya? Otak jadi terlatih untuk TIDAK menyelesaikan satu niat sampai tuntas. Kamu scroll TikTok sambil niat “sebentar lagi mau belajar” tapi niatnya itu literally keburu dilupain sebelum sempat dieksekusi.
Twitter beda karena formatnya teks, lebih lambat, dan kamu cenderung masih dalam satu “mode berpikir” yang sama.
Jadi bukan soal platform mana yang lebih bagus. Tapi soal seberapa sering otakmu dipaksa ganti jalur dalam satu menit.
Breaking Research: New Study Suggests:
Your productivity depends on your mental sharpness.
On your best days, you can get the equivalent of 40 extra minutes of work done.
But push too hard, and it backfires.
Pernah merasa "Duh, kok saya bego banget ya?" saat di kelas, atau saat meneliti atau saat menghadapi kasus yang sulit?
Paper dengan judul "The Importance of Stupidity in Scientific Research" mencoba membedah fenomena tersebut.
Banyak orang mengira sains itu soal "pasti tahu". Padahal, sains itu sejatinya justru dibangun dari rasa "ketidaktahuan".
Tulisan Martin Schwartz, “The importance of stupidity in scientific research”, adalah bacaan wajib bagi mahasiswa dan peneliti.
Kenapa?
Bagaimanapun dan sampai kapanpun, ilmu sejarah akan terus relevan dengan berbagai aspek kehidupan dan lintasan zaman. Prof. Bambang Purwanto memberikan panduan bagaimana ilmu sejarah memiliki urgensi, termasuk dalam sektor industri.
Baca di: https://t.co/lf4VRJcQtY
Jadi.. selama 10 tahun terakhir, cara parenting yang katanya "lembut dan baik" itu TERNYATA gagal total.
Iya, gagal.
Penelitian di tahun 2025 di Amerika menunjukan:
keluarga yang pake aturan tegas—jam malam nggak bisa ditawar, batasan gadget jelas PUNYA HUBUNGAN SAMA ANAKNYA JAUH LEBIH BAIK.