Ali sempat mematung sebelum terbahak. Tawanya pecah dengan lepas. Seolah-olah apa yang baru saja didengarnya merupakan hal paling menghibur sedunia.
“Ya! Barangkali itu yang menginspirasi Tuhan menciptakan ‘Gluttony’ sebagai salah satu dari tujuh dosa besar.”
@TamagoPost Linguinie terdiam sejenak lalu memandang seseorang di sebelahnya dengan sedikit terheran.
“Hah? Seram? Memangnya makan mie instan pakai nasi jam 10 malam seram?”
@TamagoPost Artemis melirik seseorang di sampingnya. Kedua pundaknya mengendik, lalu matanya berputar malas.
"Aku hanya memikirkan tentang isi perutku, kenapa seram?"
Belum sempat Ali menanggapi tawaran itu, sekeliling mereka berubah. Dinding tergantikan oleh cermin, diselingi beberapa jalan setapak berbeda yang mengarah entah ke mana.
“Well … Apakah ini yang kaupikirkan?”
Sepertinya bukan, sih. | @GURATLUIS
@TamagoPost Bukankah betul, isi pikiran manusialah yang paling mengerikan? Terkadang, mampu menjadikan sumber ketakutan untuk diri sendiri atau (penyebab) orang lain.
ㅤㅤ“Aku kasih satu juta untukmu jika berhasil menebak pikiranku setelah ini.” Seperti bukan orang yang baru bertemu saja.
Tangga diciptakan hanya untuk satu tujuan. Ali—yang menaruh nilai pada praktikalitas—pun hanya punya satu pertanyaan: “Are we going up or not?”
Jika @kisahrumpang perlu menimbang-nimbang dulu, Ali akan menunggu. Ia tidak buru-buru.
@TamagoPost Aya menatap badai kecil yang mengamuk di dalam kotak kaca, kepalanya sedikit miring saat kilat menyambar di dalamnya. “Huh?”
Ia menoleh ke sosok di sampingnya, lalu kembali menatap tangga yang menjulang lurus ke langit-langit. “... Okay, that one's a bit concerning.”
“Terus pas antrean udah maju, tiba-tiba she stood IN FRONT OF ME and said, ‘Kita antreannya di depan mbak ini, ya.’ WHAT YOU MEAN SIA?” Ceritanya makin menggebu, kedua tangan mengepal menahan kesal.
Bersamaan bunyi ledakan, kedua orang yang sebelumnya bertengkar meluruh menjadi konfeti.
“Is that what you expected to happen?”
Tanpa ekspresi yang berarti apa-apa, Ali terang-terangan menyusupkan tangan ke dalam saku @DarkGilded.
Ali bergumam panjang seolah tengah mempertimbangkan dugaan orang itu dengan serius.
Kesimpulan yang diambilnya: “You are observant enough.”
Sosok yang kerap menjangkau ke dalam saku jaketnya mengeluarkan sesuatu. Sebuah balon hijau. Balon itu diletuskannya.
karena ia tidak menganggap eksistensinya cukup penting untuk sebuah perkenalan. Ia sekadar salah satu di antara banyaknya wajah yang manusia dapati di alam mimpi mereka.
Ali mulai beranjak. “Mau jalan-jalan?” | @THRESENTMENT
Mendapati ekspresi awas itu, Ali tersenyum tipis.
“Tidak perlu waspada begitu. Kau akan melupakanku sesudah bangun nanti. Pun, aku tidak bisa menyusulmu ke sana,” paparnya tanpa keinginan membicarakan detail,
“Who am I isn’t interesting enough. Anggap aja tour guide you. Although saying this a tour seems unfitting.” Ali tampak meringis. Pandangannya kembali pada @mieldeperle. “So, who’s that? Yang kepalanya you koyak.”
Ali sempat membeku sebelum tawanya pecah. “Betul!” Ia setuju dengan tanggapan perempuan itu. Hanya saja ia tidak menyangka akan mendengar pengakuan yang begitu jujur.
Ali mengerem tawanya. Ia menyeka air mata yang tidak benar-benar ada.
@TamagoPost “Maksudmu yang kepalanya terkoyak itu? I thought everyone wanted to koyak kepala orang yang bikin kesal, lah.” Jawabnya enteng, seolah itu hal lumrah. Valerisse masih menatap kosong ke depan sebelum mendadak menoleh, alisnya berkerut.
“Wait, who you ah? Why are you here lah?”
“Tenang. Kalaupun mati di sini, nanti bakal bangun lagi.”
Kemudian ia menjatuhkan pandangan. Jalan raya di bawah sana mendorong Ali bertanya, “Jadi … ngapain di atas sini? Bengong?” | @denjutnara
Ditanya begitu, Ali menjawab, “Ali,” seolah-olah itu cukup.
Ia sibuk memperhatikan gerak-gerik orang itu selama kehadirannya belum disadari. Apa yang ia lihat membuat senyum pada wajahnya mengembang.
“Kau kelihatan lega masih hidup,” ujarnya.
⠀
⠀
Nara hanya dapat mendengar suaranya sendiri dan orang itu. Bunyi klakson kendaraan serta deru mesin yang berlalu lalang ramai di jalan raya yang ada di bawahnya seperti tidak ada. Sunyi.
⠀
⠀
⠀
⠀
Wajahnya menunduk, kini kedua tangannya menjadi objek yang tengah diperhatikan lebih. Ia membolak-balik kuasanya, memastikan tidak tembus pandang seperti hantu di acara-acara yang dia tonton.
c.
⠀
⠀
Ali mendorong bibir bawahnya naik, lalu turut membalik badan. Melihatmu menjauh, ia merasa tidak rela. Lantas langkahnya searah pada lajur yang kauambil. Sekian kaki di belakangmu.
“Entahlah. Berdasarkan pengalamanku, manusia doyan menyangkal.”
Ia berbalik arah, bersamaan dengan bayangannya yang mulai membentuk tanduk begitu besar. Sonata mulai melangkah jauh, bayangan lelaki itu tidak mengikut namun semakin besar. Seakan bayangan dan tubuh Sonata adalah satu kesatuan yang berbeda.
Memang tadi Ali memakai kata “menyeramkan”, tetapi, sebenarnya ia tidak sungguhan hobi menghakimi manusia. Lantas dirinya menopang dagu. Menyaksikan anak itu tampak gelagapan.
Dengan ringan ia bertanya, “Memangnya itu apa?” | @unsungtale
lagi.
Kepada @cremebruleh kubawa kesimpulan, “Sepertinya ini mimpimu.”
Lalu, tanpa niat buang-buang waktu, kutanyakan, “Jadi, kau aslinya memang rusa, atau manusia, atau cicak, atau debu, atau tiket kereta, atau kotak bento?”
Tahu tidak kalau objek mati juga bisa bermimpi?
Tidak ada tanda-tanda sesuatu telah terjadi di sudut lain. Aku melangkah ke depan seseorang yang tengah berjalan. Dia hanya berhenti sejenak lalu memutar tanpa komentar. Seperti NPC. Orang setelahnya pun begitu. Sama dengan yang selanjutnya, lalu selanjutnya, dan selanjutnya