Hai, Kak.
Terkait Pengkreditan Pajak Masukan 80% sesuai UU 7 tahun 2021 pasal 9 ayat 9a, diatur lebih lanjut pada Pasal 378 PMK 81 Tahun 2024, Pajak Masukan sebelum pengusaha dikukuhan sebagai PKP dapat dikreditkan oleh PKP. Pajak Masukan tersebut diihitung dengan menggunakan pedoman pengkreditan Pajak Masukan sebesar 80% dari Pajak Keluaran yang seharusnya dipungut. Pajak Masukan tersebut dikreditkan dengan Pajak Keluaran yang seharusnya dipungut oleh PKP atas penyerahan BKP/JKP terhitung sejak Pengusaha seharusnya dikukuhkan sebagai PKP sampai dengan sebelum Pengusaha tersebut dikukuhkan sebagai PKP (terbit Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak).
Sehingga atas Pengkreditan Pajak Masukan sebesar 80% dari Pajak Keluaran dapat dilakukan jika sebelum dikukuhkan sebagai PKP, Pengusaha tersebut memang sudah seharusnya dikukuhkan sebagai PKP.
Apabila SK yang Kakak tanyakan adalah Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak, maka Kakak bisa mengajukan permohonan Pengukuhan PKP secara elektronik melalui akun coretax.
Namun apabila Kakak sudah dikukuhkan sebagai PKP dan SK yang Kakak maksud adalah untuk menggunakan pedoman pengkreditan Pajak Masukan sebesar 80% dari Pajak Keluaran maka Kakak dapat melihat contoh perhitungannya pada Lampiran PMK 81 Tahun 2024 halaman 549.
Tks*Sfah
Dari banyaknya donasi yang dibuat oleh masyarakat, dan banyaknya dana yang terkumpul, bisa disimpulkan bahwa negara ini nggak kekurangan orang baik. Negara ini cuma kekurangan orang yang mempercayakan uangnya di tangan pemerintah
Saya lagi baca-baca tweet lama dan baca ini lagi jadi makin paham gimana proses cuci duit bekerja. Duit kotor kayak duit dari juds, suap, investasi bodong, dimasukin ke satu mesin nyuci. Di situ uangnya dicatat lewat invois palsu, pinjaman, transfer, dst.
Uangnya gak berhenti di tempat nyuci. Habis itu duitnya disuntik lagi ke bisnis yang operasionalnya bener-bener bersih. Entah itu bisnis dia sendiri atau bisnis yang dirintis orang lain. Profitnya dari sini bisa dipakai buat foya-foya, rugi pun ya udah. Nyuci lagi.
Kalau contoh di bawah itu lewat bisnis properti, beli barang-barang super mewah, atau nyuntik ke bisnis-bisnis baru.
Tempat nyucinya sih dibiarkan runtuh jadi abu. Tapi, duit setelahnya lah dijadiin bahan flexing ke mana-mana. Orang yang duitnya mencurigakan ini emang selalu ga cuma punya 1 bisnis. Tiap bisnis punya tujuan masing-masing.
Enggak harus pakai keluaran terbaru, yang lama juga masih bisa dipakai. Enggak harus pakai brand mahal, pakai yang sesuai fungsi saja. Enggak harus melakukan apa-apa supaya terlihat keren, yang penting nyaman. Segalanya cukup kalau kita merasa cukup 🤗
lagi scroll sosmed, nemu quotes yg MaasyaaAllah banget :
"Allah tdk akan pernah salah milih pundak, Allah akan slalu tepat dalam menakar setiap porsi. ujian yg mungkin trasa sesak untuk kita, tentu tdk akan pernah melampaui batas kemampuan kita. Allah tau setiap porsi hamba-Nya"
Kontributor utama polusi Jakarta bukanlah kendaraan. Tapi asap dari pembangkit listrik batubara di Banten. Ada pembangkit batubara terbesar asia tenggara yang baru buka disitu.
#nahloh
merawat orang tua di masa tuanya memang berat, dimana kita harus maklum sama sikapnya yang makin kekanak-kanakan dan perasaan sensitifnya, tapi kita harus kuat karena kita tau ini bakalan berat, tetapi Allah akan kasih hadiahnya surga dan pahala yang bisa menggugurkan dosa kita.
Tetaplah shalat meski nikmat ibadah itu hampir tdk ada lagi,
Tilawalah Qur'anmu meski seolah mati rasa di dalam hati.
Sebab engkau tidak pernah tahu di rakaat mana kasih Allah akan mendekapmu,
dan di ayat mana Allah mulai melembutkan hatimu.
Orang-orang terobsesi banget sama awet muda, padahal tumbuh tua juga bisa menyenangkan. Rambut beruban, tapi dibarengi pemikiran matang. Keriput bertambah, tapi dibarengi kesabaran yg luas. Perut tidak serata dulu, tapi dibarengi banyak cerita pengalaman. Menua itu pasti. Nikmati
Jangan merusak kebahagiaan orang lain dengan komentarmu, karena kebahagiaan orang lain itu beda-beda. Pulang kerja lampu hijau terus saja udah bahagia 😅