Saya punya tetangga, dia berasal dr blora jateng. Suatu saat dia merasa rumah yg ditempatinya (sblh tempat saya pas) perlu perbaikan. Lalu dia lakukanlah perbaikan itu sampai selesai.
Dia tdk sadar waktu perbaikan sdh masuk bulan muharrom.
Lalu apa yg terjadi?...
Saya punya kawan dari Muhammadiyah. Ini bukan tentang sakral-tidaknya Suro, tapi komitmen warga Muhammadiyah dengan keyakinannya.
Semua orang tahu NU itu sangat tradisional, bahkan sangat klenik (kecuali Nahdliyin urban, mungkin).
Suatu ketika, kawan Muhammadiyah saya menikah, dan hidup di lingkungan NU. Tentu saja ada tahlilan, maulidan, dan tradisi ketika istrinya hamil empat-tujuh bulan (istilah sini: mapati dan mitoni).
Nah, tibalah masa dimana istrinya benar-benar hamil, hingga usia kandungannya empat dan tujuh bulan.
Dia punya mertua yang cukup NU, bahkan meyakini tolak-balak yang formal: menyebar kembang di perempatan demi "buang sengkala". Makin besar kandungan istrinya, ada pula perintah untuk ruwatan.
Nah, kawan saya menolak anjuran orang tuanya (bahkan bisa dibilang perintah). Khurafat, katanya, persis seperti warga Muhammadiyah pada umumnya, lah.
Suatu ketika kita ngobrol, dan dia membicarakan itu. Dia nanya, apakah saya melakukannya. Saya jawab dengan tegas:
"Saya NU, GUSDURian, dan manusia yang cukup logis. Hanyasaja, saya tetap melakukannya.
Saya tahu tradisi ini semua karena lahir di lingkungan Jawa yang sangat kosmologis. Dan saya memang melakukannya: menyebar kembang rupa-rupa, dari mawar, melati, kantil, dan kenanga (lumrah di sekitar makam), dan ruwatan seperti "ngumbar kuthuk" (baca: melepaskan anak ayam).
Kawan saya ngotot bahwa hal ini tidak ada dasar Alquran dan Hadisnya. Tentu saja saya tahu, dan tidak menolak ulasannya. Tapi saya bilang begini:
"Setahuku, hal seperti ini hanya titen (apa ya bahasa Indonesia) orang-otang kuno. Mereka pernah eksperimen, dan ketika dilanggar malah anak mereka cacat."
Tahu gak apa yang dia lakukan? Merenung!
Hingga akhirnya saya ketemu lagi ketika anaknya lahir, dan ternyata dia benar-benar melakukannya. Saya nanya alasannya.
"Aku gak mau ambil risiko anakku bakal lahir cacat."
Hhe~
Dari sini kita tahu, kadang kasih sayang pada anak itu lebih kuat daripada ulasan Alquran dan Hadis.
Disclaimer: ini tidak bermaksud mengulas keyakinan, ya. Hanya cerita biasa.
Dia mengalami hal keburukan (kecelakaan bersama 2 anaknya saat naik spd motor).
Kasian lihat anak²nya yg masih kecil harus menginap di rsud. Krn saya melihat langsung saat tengok di rsud.
Stlh diperbolehkan pulang, dia kembali memanggil tukang utk membersihkan properti yg sdh..
@zanatul_91 Batch 4 serdiknya baru keluar. Apakh bisa mendapatkan tpg pak?
Dengar² pencairan baru bisa tahun depan, sebab menyesuaikan alokasi anggaran.
Kabar tidak mengenakan bagi dunia penerbangan Indonesia, baik rute domestik maupun internasional.
Dengan adanya kenaikan harga avtur & biaya operasional maka maskapai penerbangan (airlines) hanya memiliki dua pilihan, yaitu menaikan harga tiket sesuai kenaikan biaya operasional atau berhenti beroperasi.
@grok Kalau bisa diamati sekarang, pengguna akun X yg paling banyak dan ramai bicara soal perbedaan metode itu terafiliasi ormas atau parpol.
Jk ormas, apa ormasnya?
Jk parpol apa parpolnya?
Beri penjelasan yg detail
Hi @grok Apakah perkara penentuan 1 ramadlan tahun depan juga serame saat ini 2026.
Paparkan analisis dan prediksimu, lalu beri saran kpd tokoh agama dan pemerintah supaya warganya lebih bisa menerima perbedaan.
@ainunnajib Sampun jelas cak ainun. Sangat masuk akal keterangannya.
Menawi masih dibuat ruwet, enaknya bagi tugas mawon. Panjenengan yg memastikan kondisi bulan, lintune yg berpuasa 😅
@maman1965@largurda_ind@JNE_ID Buku ini kang, ya walaupun sdh 5 th lalu kubeli, tp ahir² ini ingin ku baca lg krn isinya yg mengikhbarkan kpd pmbaca perihal sejarah dinamika kota mekah yg belum banyk terkuak di muka bumi. 1 lgi yg membuat saya terpikat dgn buku ini adl pengambilan rujukan refrensinya tdk main²