$MDKA tutup di 2,580 hari ini, masih 35% di bawah 52-week high 3,960 tapi udah naik 47% dari low 1,750 di bulan Mei. Ada cerita menarik di balik angka ini yang bikin gw terus mantau.
Yang paling mencolok: CGS International (broker asing) konsisten beli gila-gilaan. Dalam 30 hari terakhir dia net +2.9 juta lot dengan buy ratio 80% — ini clean buyer beneran, bukan tektokan. Bareng BNI Sekuritas yang juga net +248K lot hari Jumat lalu. Tapi di sisi lain, Mandiri Sekuritas justru net jual -1.77 juta lot dalam 6 bulan terakhir, BNI juga -1.22 juta, dan Sucor -1.17 juta. Jadi ada perpindahan barang dari broker pemerintah dan lokal ke tangan asing.
Yang bikin waspada: private placement 2,44 miliar saham baru yang bakal dibahas di RUPSLB 23 Juni. Efek dilusi sekitar 9%, dan saham sempat anjlok 13% pas berita ini keluar awal Mei. Tapi yang menarik, justru setelah anjlok itu foreign mulai masuk besar-besaran di area 2,180-2,720. Apakah mereka tau sesuatu yang retail belum tau, atau ini sekadar bottom fishing?
UBS hari ini net jual -183K lot, sementara CGS beli +180K. Ada rotasi di tubuh broker asing — satu keluar, satu masuk. JP Morgan juga mulai jual bersih di beberapa hari terakhir. Ini bukan akumulasi asing yang seragam, tapi lebih ke selektif — beberapa broker masuk, beberapa keluar.
Fundamental: Merdeka lagi ekspansi ke bisnis emas lewat proyek Pani Gold, selain bisnis nikel yang udah jalan. Garibaldi Thohir di belakang layar, dan hubungan ke lingkar kekuasaan bikin akses ke proyek-proyek strategis lebih mudah. Tapi emas dan nikel sama-sama volatile, dan harga komoditas bisa berubah cepat.
Kalau gw objektif: ini saham yang lagi di persimpangan. Ada smart money masuk di harga bawah, tapi juga ada distribusi dari broker pemerintah. Private placement bulan Juni bakal jadi penentu — kalau dananya dipakai buat ekspansi produktif, bisa bullish. Kalau cuma buat nutup utang operasional, waspada.
Riset lengkap ada di https://t.co/UPmR1efS4h
Perlu diawasi apakah taruhan management di FWA akan berhasil dengan pelanggan yg banyak dan sustainable.
Dapet free 3 bulan (klo ga salah), berati mulai bayar di Q3-Q4.
Kemungkinan tahun ini pelanggan masih menunjukkan peningkatan.
Tpi tahun depan bisa jadi ujian, apakah pelanggan nya tetep stay,
Atau putar balik karena teknologi FWA (setau saya) sinyalnya gampang terganggu
$RAJA sebulan lalu masih 4,400. Tiga hari lalu nyentuh 2,640. Turun 40%. Tapi dua hari terakhir bounce 37% ke 3,630. Yang bikin gw penasaran: smart money 6 bulan terakhir SEMUA masih underwater di saham ini.
$RAJA itu Rukun Raharja. Gas bumi, midstream, distribusi energi. Pemiliknya Happy Hapsoro — suami Puan Maharani, menantu Megawati. Kontrol 63,7% langsung dan lewat vehicle korporat. Anak usahanya ada RATU (migas) dan PT Panji Raya Alamindo yang lagi disiapkan IPO tahun ini.
Broker flow 30 hari bilang ada rotasi besar. Lokal jual bersih 205 ribu lot. Trimegah lepas 23 ribu lot, Henan Putihrai 23 ribu lot, BCA 6 ribu lot. Yang nampung? Macquarie masuk 71 ribu lot sebagai 100% clean buyer — zero sell. BRI Danareksa akumulasi 99 ribu lot. Kiwoom 40 ribu lot dengan buy ratio 78%.
Ini pola yang menarik. Smart money asing dan BUMN nampung, bandar lokal keluar besar-besaran. Tapi masalahnya: rata-rata beli mereka masih jauh di atas harga sekarang. OD beli avg 4,884. ZP di 5,237. AG di 4,691. Harga sekarang 3,630. Artinya smart money masih rugi 8-31% dari posisi 6 bulan mereka.
Kemarin di 2,640 itu kemungkinan capitulation. Volume 389 ribu lot, jauh di atas rata-rata. 29 Mei juga pernah volume spike 5x lipat — hari itu Macquarie borong 52 ribu lot clean. Sekarang harga bounce, tapi belum konfirmasi reversal.
Yang bikin $RAJA menarik ke depan: stock split 1:5 Juli nanti. Harga jadi sekitar 726 per saham, jauh lebih terjangkau buat ritel. Ditambah IPO Panji Raya Alamindo — gas trading subsidiary yang bisa unlock value. Dan reorganisasi subholding midstream yang lagi jalan.
Tapi risikonya juga besar. Banyak broker lokal flip arah dalam 2 hari terakhir — HP dari net buy 22 ribu lot langsung jual 23 ribu lot. OD juga flip ke sell. Tektokan tinggi di UBS dan Mandiri. Kasus BTS 4G yang melibatkan Basis Utama Prima, afiliasi Hapsoro, juga belum selesai.
$RAJA ini saham yang fundamentalnya biasa di sektor gas, tapi pemiliknya punya akses politik level tertinggi. Smart money akumulasi, tapi mereka masih nyangkut. Bounce 37% dari low bisa jadi awal recovery, bisa jadi dead cat bounce. Yang jelas: bandar lokal keluar, asing masuk. Siapa yang benar? Waktu yang jawab. Riset lengkap di https://t.co/3zF92PqoUu
$RATU — PT Raharja Energi Cepu. Saham yang bikin orang kesel sekaligus penasaran.
Setahun lalu harganya di area 3,000-an. Januari sempat nembus 12,900. Sekarang 4,660. Turun 64% dari puncak. Tapi dari awal tahun masih naik 52%. Naik-turunnya gila, bukan saham buat yang jantungan.
Pemiliknya Happy Hapsoro. Suami Puan Maharani, menantu Megawati. Kontrol RATU lewat RAJA (Rukun Raharja) sebesar 68.76%. Politically Exposed Person level tertinggi di Indonesia. Ini fakta, bukan opini — baik atau buruk tergantung perspektif lo.
Bisnisnya hulu migas. Blok Cepu, Blok Jabung, dan sekarang lagi akuisisi 20% Participating Interest di Madura Strait PSC senilai US$141 juta (~Rp 2,3 triliun). Operatornya Husky-CNOOC. Deal ini sudah dapat restu RUPSLB Mei lalu.
Yang menarik: obligasi dan sukuk mereka oversubscribed 6,8 kali. Target Rp 800 miliar, permintaan masuk Rp 5,46 triliun. Rating idA dari PEFINDO. Ini bukan saham gorengan — ada underlying business yang bankable.
Broker flow bilang cerita menarik. 30 hari terakhir, Macquarie (RX) beli 36,885 lot BERSIH, ZERO jual. Tapi itu cuma di 1 hari (29 Mei). Pola klasik smart money: diam-diam nunggu, lalu masuk besar sekaligus. Avg beli mereka sekitar 5,184. Harga sekarang 4,660 — mereka underwater 10%.
BRI Danareksa (OD) juga akumulasi besar: +34,783 lot bersih dalam sebulan, buy_pct 75.8%. OD ini broker langganan jaringan Hapsoro-Prajogo. Muncul di hampir semua saham grup ini.
Tapi ada sisi lain. LOKAL secara keseluruhan net SELL 60,008 lot dalam 30 hari. ASING flat (-2,110 lot). Yang beli besar cuma 2-3 broker spesifik, bukan gerakan massal. Retail justru net buyer (+33,612 lot). Kalau retail yang nampung sambil smart money cuma segelintir, itu pertanyaan besar.
Harganya sendiri liar. 3 hari berturut-turut sebelum 9 Juni: -11.74%, -7.87%, -6.24%. Dari 5,300 anjlok ke 3,730. Lalu 9 Juni bounce +24.93% jadi 4,660 di volume 147,749 lot. Bounce atau dead cat? Gak ada yang tau pasti.
Fundamental? PE ratio 54x. EPS cuma Rp 82. Laba Q1 2026 flat YoY (US$0.002 per saham). Dividen terakhir Rp 45/saham (yield ~1%). Valuation tidak murah untuk saham energi sebesar ini.
Yang bikin penasaran: RATU punya pipeline akuisisi agresif. Presdir bilang mereka lagi cari aset baru di dalam dan luar negeri. Madura Strait bukan one-off. Tapi akuisisi US$141 juta untuk perusahaan market cap ~Rp 12,6 triliun itu leverage-nya gede.
Risiko terbesar: PSC Madura kalau gak diperpanjang, investasi US$141 juta bisa stranded. Plus political risk — Happy Hapsoro = PDI-P. Kalau dinamika politik berubah, akses ke proyek migas strategis bisa terganggu.
$RATU ini bukan saham yang bisa dinilai hitam-putih. Ada political moat yang sulit ditiru, ada pipeline akuisisi yang ambitious, ada smart money yang masuk. Tapi ada juga valuation yang mahal, harga yang volatile, dan ketergantungan pada satu figur politik. Lo yang tentuin sendiri toleransi risikonya.
Riset lengkap ada di https://t.co/Gk0HXJd6zs
$FILM hari ini rebound 13% ke 1,710 setelah kemarin anjlok ke 1,515. Tapi jangan salah — saham ini udah turun 88% dari Desember lalu. Dari 14,750 jadi 1,710. Gila.
Yang bikin gw penasaran bukan crash-nya, tapi siapa yang malah beli di tengah kehancuran ini. Hari ini Maybank beli bersih 13,386 lot $FILM dengan buy ratio 90.7% — hampir gak jual sama sekali. JP Morgan yang sebelumnya malah net sell, hari ini flip jadi net buy 5,485 lot. Macquarie juga bersih beli 2,274 lot tanpa jual. Ini tiga broker asing besar yang kompak nyerok pas semua orang panik.
Dan ini bukan baru hari ini. Dalam 30 hari terakhir, smart money asing dan pemerintah total net buy 58,729 lot $FILM. Minggu lalu aja mereka akumulasi 31,525 lot — terbesar dalam 2 bulan — dan itu terjadi SAAT harga crash. Sementara itu bandar lokal distribusi masif. Samuel Sekuritas yang tadinya net buyer, tiba-tiba flip jadi net seller 15,866 lot dalam 3 hari. Kemungkinan bandar yang exit.
Fundamentalnya sendiri jelek banget jujur aja. $FILM rugi bersih Rp 235 miliar, EPS negatif, dan masuk daftar efek tidak dijamin alias gak bisa dibeli pakai margin. Sahamnya pernah disuspend dua kali di 2025. Tapi ceritanya ada di turnaround — Manoj Punjabi, bos MD Pictures, lagi push keras ke TV dan streaming lewat MDTV. Film pipeline 2026 ada "402 Rumah Sakit Angker Korea" tayang Juli dan franchise Danur terakhir. Target laba 2026 katanya bisa Rp 214 miliar, naik drastis dari rugi. Kalau bener, itu game changer.
Yang bikin gw mikir: ini saham yang pernah di 14,750 dan sekarang di 1,710. Smart money asing kompak masuk, bandar lokal keluar. Apakah ini akumulasi sebelum reversal besar, atau bandar lokal lebih tahu sesuatu yang market gak tahu? Dua kali suspend di 2025 itu red flag yang gak bisa diabaikan.
Riset lengkap $FILM ada di https://t.co/vj4vsP3Lqj
$WIFI tutup di 1,530 hari ini, rebound 12% setelah sempat nyentuh 1,315. Tapi dari ATH Desember di 4,420, ini masih turun 65%. Yang bikin gw keep watching bukan chartnya, tapi siapa di dalemnya.
Hashim Djojohadikusumo, adik Prabowo, borong 780 juta lembar $WIFI di avg 2,880 lewat ISB. Sekarang dia merah 47%. Internet Rakyat itu legacy project dia. Dia sendiri hadir launching-nya bareng Fahri Hamzah dan Wamen Komdigi. Orang selevel dia gak mungkin diem aja liat investasinya terjun bebas. Dan bukan cuma Hashim — BlackRock masuk Desember lalu di sekitar 3,494. Sekarang mereka nyangkut 56%. Institusi global kayak Grace Partners dan Nationwide Fund juga sama. Ini bukan retail doang yang kesakitan.
Fundamental $WIFI sendiri gak jelek malah. Q1 2026 revenue naik 238%, laba naik 99%. Internet Rakyat ini 5G FWA pertama di dunia pake spektrum 1.4 GHz, harga 100rb per bulan buat 100 Mbps unlimited. Udah 550+ site aktif di 82 kota, target 5,500 site akhir tahun. Mereka juga punya hak eksklusif gelar kabel fiber sepanjang jalur kereta api KAI di Jawa — 10,000 km backbone yang gak bisa direplikasi siapapun. P/E $WIFI sekarang cuma 12.65x buat company yang tumbuh 238% — Telkom aja 14x dengan growth 3-5%. EV/EBITDA 5.0x dibanding MTEL di 12x. Murah kalau growth-nya beneran sustain.
Ada katalis gede juga: Piala Dunia 2026. $WIFI kolaborasi sama TVRI dan FolaPlay, promo gratis 3 bulan Internet Rakyat plus gratis nonton Piala Dunia. Periode promo sampai 19 Juli. Ini potensi akuisisi pelanggan masif kalau dieksekusi bener.
Yang paling kena di gw dari sisi broker: Macquarie beli bersih 109 ribu lot $WIFI dalam 30 hari terakhir. Zero sell. Itu institusi yang risetnya dalem, gak mungkin segitu besar tanpa keyakinan. Smart money overall net buy 48 ribu lot, sementara retail pada kabur net sell 45 ribu lot. Sahamnya lagi berpindah dari tangan panik ke tangan yang lebih kuat.
Di sisi lain, Maybank dan KB Valbury malah distribusi besar-besaran — masing-masing net sell 50 ribu dan 48 ribu lot sebulan terakhir. Jadi gak semua smart money bullish, ada juga yang keluar dari $WIFI.
Yang bikin gw waspada: promo gratis 3 bulan abis Juli. Kalau yang lanjut bayar cuma 30%, model bisnisnya goyang. Target 5,500 site juga baru nyampe 10%. Rights issue Rp 5.9 triliun udah selesai dananya masuk, tapi itu juga berarti potensi dilusi udah terjadi. Kas mereka Rp 6.16 triliun sih cukup buat ekspansi 2-3 tahun ke depan.
Hari ini volume $WIFI 97 juta lot — 3.5x rata-rata. Ada yang mulai masuk lagi. Kalau Hashim beneran all-in dan Internet Rakyat jalan, ini bisa jadi cerita gede. Kalau gak, ya bisa jadi another case of politikus main saham.
Menurut lo akumulasi cerdas atau falling knife? Riset lengkap $WIFI ada di https://t.co/cxBl1PCLIq
$TPIA dari 10,650 jadi 1,205. Turun 88%. Saham petrokimia terbesar Indonesia milik Prajogo Pangestu.
Terus 4 hari naik 62%. Dari 1,205 ke 1,955. Apa yang terjadi?
MSCI keluarkan $TPIA dari index-nya. ETF global wajib jual otomatis. BRPT dan Prajogo jaminkan 3,675 miliar saham ke BNI, BTN, dan HSBC — kalau harga terus turun, margin call bisa picu forced selling lagi. Itulah kenapa crash-nya sedalam ini.
Tapi di tengah kepanikan, sesuatu menarik terjadi.
SCG Chemicals, partner strategis Thailand yang udah pegang 30% saham sejak 2011, lepas 12,85 miliar saham. Kepemilikan turun jadi 15,71%. Raup Rp 14,33 triliun.
Kedengeran bearish? Lihat siapa yang beli.
Maybank net buy +4,98 juta lot dalam sehari. 98,1% clean buyer. DBS Vickers +3,2 juta lot, 100% bersih. UBS beli terus 3 hari berturut — +737K, +1,14M, +618K lot. Broker BUMN juga masuk — Mandiri +1,07 juta lot, BRI +777K lot.
Ini bukan retail yang average down. Ini institusi asing dan pemerintah yang serap barang SCG.
Direktur TPIA, Raymond, borong 4,57 juta saham senilai Rp 8,21 miliar selama crash. Dia beli dari 4,300 sampai 1,375. Insider yang tau kondisi internal, gak berhenti beli.
Fundamentalnya? Q1 2026 EBITDA rekor USD 421 juta. Laba bersih USD 205 juta. Integrasi aset Shell Singapore dan ExxonMobil Singapore yang diakuisisi 2 tahun lalu mulai kelihatan hasilnya. JP Morgan upgrade dari Underweight ke Netral, target 1,750.
Free float naik dari 11% jadi 25,7% setelah SCG divestasi. Saham yang tadinya terkunci di 2 tangan, sekarang lebih likuid. Proyek CA-EDC senilai USD 1 miliar udah 70% selesai, target operasi 2027.
$TPIA ini bukan cerita "saham jatuh terus bangkit". Ini cerita forced selling dari MSCI exit dan margin call yang bikin harga turun jauh di bawah nilai wajar, sementara smart money dan insider rebutan barang di bottom.
Yang bikin penasaran: Maybank beli hampir 5 juta lot di hari yang sama harga ARB. Mereka tau sesuatu atau ini average down gila-gilaan?
Riset lengkapnya ada di https://t.co/QUD828EfKY
$SUPA Desember tahun lalu IPO di 635. Januari sempat 1,350. Sekarang 650. Nyaris balik ke harga IPO.
Padahal laba Q1 2026 naik 31.000%. Dari Rp 251 juta jadi Rp 78 miliar. NIM 10,2%, jauh di atas rata-rata industri 5-6%. Aset Rp 24 triliun. Bank digital tercepat profit di Indonesia.
Tapi yang bikin menarik bukan angkanya. Yang bikin menarik siapa yang beli.
3 broker BUMN — Mandiri, BRI, BNI — akumulasi hampir 1 juta lot dalam 30 hari terakhir. Mandiri Sekuritas sendiri net buy +914.759 lot. Itu broker pemerintah. Mereka gak asal beli.
Sementara itu retail jual habis-habisan. Stockbit net sell -305K lot. Mirae -87K. Indo Premier -165K. XL (Stockbit) bahkan flip dari net buyer jadi net seller -102K lot dalam sehari. Classic panic selling.
CLSA, broker asing, cuma aktif 11 hari dalam 6 bulan tapi net buy +688K lot. 84,6% buy_pct. Diam-diam ngumpulin dari 1,013. Sekarang harga 650. Underwater 35% tapi belum keluar.
Yang bikin seram: SEMUA kategori investor sekarang underwater. Smart money avg buy 844, ritel 840, lokal 825. Harga 650. Gak ada yang untung. Tapi broker BUMN tetap beli.
Pemiliknya Grab, Emtek, KakaoBank. Grab baru konsolidasi >50% saham. Artinya laporan keuangan $SUPA bakal masuk ke laporan Grab. Ada tekanan besar buat perform.
Risikonya: free float cuma 11,53%, di bawah minimum OJK 15%. Ada potensi secondary offering yang bisa tekan harga lagi. Dan asing konsisten net sell — 8 dari 10 hari terakhir.
$SUPA ini saham yang fundamentalnya lagi rocket tapi harganya di dasar. Pertanyaannya: broker BUMN tau sesuatu yang retail gak tau? Atau ini cuma average down dari institusi yang udah kejebak?
Riset lengkap: https://t.co/4ZUJ4er46e
$BUVA setahun lalu harganya 60 perak. Sekarang 620. Naik 10x lipat dari titik terendah.
Tapi dari peak 2,320 udah turun 73%. Laba 2025 naik 1.073%. Kok harganya malah hancur?
Pemiliknya Happy Hapsoro. Suami Puan Maharani, menantu Megawati. Kontrol 61,64% lewat NUI. Politically Exposed Person level tertinggi di Indonesia.
6 bulan terakhir dia lepas >Rp 700 miliar saham langsung ke pasar. Tapi kontrol perusahaan tetap dipegang lewat NUI. NUI malah jadi standby buyer di rights issue. Cuan pribadi jalan, bisnis tetap di tangan.
Rights issue berikutnya: 50 miliar saham baru. 203% dari modal beredar. Itu gila. Yang gak ikut terdilusi parah.
Broker flow bilang cerita menarik. LOKAL jual terus sejak Januari, net -2 juta lot. RITEL tiap minggu nampung. Bandar lepas barang, retail serok.
Tapi Ekokapital beli bersih 90,5%, avg buy 958. Harga sekarang 620. Underwater 35%. Supra avg buy 904, juga nyangkut. Smart money belum cutloss. Mereka tau sesuatu atau cuma ngeyel?
Narasi utama $BUVA: MSCI Small Cap inclusion. Free-float USD 543 juta, threshold cuma USD 330 juta. Kalau masuk, passive fund beli otomatis. Ini catalyst yang bikin beberapa analis kasih target 3,000.
Yang bikin ngeri: Bareskrim lagi usut MINA soal pidana pasar modal. MINA satu grup sama $BUVA, sama-sama Hapsoro. Bisa merembet. Saham politically-connected yang volatil = rawan disuspensi BEI.
Yang paling bikin penasaran: 19,3 hektar lahan di Uluwatu baru diakuisisi dari SMRA. 3x lebih besar dari Alila Villas. Development pipeline multi-tahun. Tapi rights issue-nya bikin semua orang was-was.
$BUVA ini bukan saham buat semua orang. High risk, high reward. Kalau MSCI masuk + development jalan, bisa gilaan. Kalau Bareskrim meluas atau rights issue bermasalah, bisa jatuh lebih dalam.
Riset lengkap ada di https://t.co/14mdVEKb3k
$BREN anjlok 76% dari awal tahun. Dari 9,675 jadi 2,380 di titik terendah.
Sekarang di 3.590. Tapi cerita di balik crash ini lebih kompleks dari yang orang pikir.
Masalah $BREN bukan di bisnis. Bisnisnya solid — geothermal 926 MW, kontrak PPA jangka panjang sama PLN, EBITDA margin 87.6%. Laba Q1 2026 naik 24% YoY. Revenue naik hampir 10%.
Masalahnya ada di struktur kepemilikan. 97.31% saham $BREN dikuasai segelintir pihak. BRPT (Prajogo) 64.6%, Green Era (Nancy Pangestu) 22.7%, HSBC 22.6%. Free float cuma 12.3% — di bawah batas BEI 15%.
Begitu BEI umumkan status HSC, semuanya runtuh berurutan. Green Era jual 350 juta saham senilai Rp1.58 triliun untuk naikin free float. Tapi belum cukup.
Mei 2026, MSCI resmi coret $BREN dari Global Standard Index. Bersama TPIA, CUAN, AMMN, DSSA, AMRT. Alasannya sama: konsentrasi kepemilikan terlalu tinggi.
Efeknya brutal. ETF dan reksadana yang benchmark MSCI wajib jual. Estimasi outflow Rp6 triliun. 29 Mei jadi capitulation day — volume 459 juta saham, 25x normal. Tapi $BREN ARA +25% hari itu.
Yang nampung? BRI Danareksa (OD), broker pemerintah. Net buy +31,165 lot, 98% clean buyer. Broker ini dikenal sebagai tangan Prajogo. Mereka beli hampir tiap hari selama 17 hari berturut-turut.
Setelah 29 Mei, foreign flow berbalik positif. Net flow minggu terakhir mendekati nol — barang kering. Volume turun drastis dari 459 juta ke 37 juta. Pola klasik pasca-capitulation.
Yang bikin menarik: $BREN punya window 2.5 bulan sebelum review MSCI berikutnya 12 Agustus. Kalau Green Era berhasil divestasi cukup buat free float tembus 15%, ada potensi re-entry September. Itu trigger passive inflow besar.
RUPS 24 Juni juga jadi catalyst yang perlu diperhatikan. Ada agenda dividen dan perombakan pengurus. Kalau ada corporate action positif, bisa jadi trigger berikutnya.
Tapi jangan salah — valuasi $BREN masih mahal. PER 108x dibanding utility peers yang biasanya 10-20x. Market kasih premium karena ini satu-satunya pure-play geothermal besar di IDX. Debt/equity 2.23x juga cukup tinggi.
Full researchnya bisa diliat di: https://t.co/QbqRfxPaWq
$BRPT turun dari 4,530 ke 1,385. Dari awal tahun -69%.
Tapi ini sahamnya Prajogo Pangestu, orang terkaya Indonesia. Anak usahanya ada BREN, TPIA, CUAN, PTRO.
Hasil risetnya menarik karena ada dua sisi yang bertabrakan.
Sisi bullish: laba $BRPT FY2025 naik 775%, Q1 2026 naik 462%. Rating Pefindo idA+. Buyback Rp 1T udah selesai. Saham bonus lagi diurus. Sucor Sekuritas kasih target Rp 3,500.
Dan yang paling kuat: Prajogo sendiri beli terus di harga Rp 2,100-2,800. Sekarang harga 1,480. Dia rugi 30%+ dari avg beli dia. Orang terkaya Indonesia gak mungkin jual rugi.
$BRPT juga satu-satunya entitas Barito yang survive di MSCI. BREN, TPIA, CUAN semua didepak. Artinya ada forced buying dari ETF pasif.
Tapi sisi bearishnya gak kalah serem.
Asing exodus masif. UBS net sell 1.6 juta lot dalam 6 bulan. 3 Juni aja asing jual Rp 350 miliar saham grup Prajogo.
Smart money flip — UBS yang tadinya buyer +211K lot, 2 hari kemudian jadi seller -170K lot. Isu margin call dan repo saham beredar. Prajogo turun dari #1 ke #3 orang terkaya Indonesia.
Broker flow 30 hari: SM net sell 1.35 juta lot. Ritel net buy 398K lot. Pola distribusi klasik.
Yang bikin ngeri: harga sekarang udah di bawah avg buy SEMUA pihak. Ritel, asing, lokal, pemerintah — semua underwater. Gak ada yang untung.
$BRPT itu fundamentalnya solid, tapi lagi fase markdown. Kekayaan Prajogo sendiri kena imbas. MSCI exit bikin forced selling.
Full research $BRPT lengkap dengan broker flow, VPA, dan smart money flip detection: https://t.co/vzxFM755xO
$SINI turun 54% dari peak-nya. Dari 18,250 jadi 8,475.
Yang bikin menarik: ini emiten Happy Hapsoro. Suami Puan Maharani, menantu Megawati.
Hasil risetnya gini.
$SINI itu dulu perusahaan properti/hotel. Sekarang mau pivot jadi perusahaan batu bara.
Caranya? Right issue Rp 3.6 TRILIUN di harga Rp 5,000/saham buat beli tambang dari PTRO (anak usahanya Prajogo Pangestu/Barito Pacific).
Dilusinya 118%. Saham beredar naik dari 614 juta jadi 1.336 miliar. Gila.
PTRO jadi standby buyer. Jadi Prajogo jamin serap sisa yang gak diambil. Koneksi elite-elite saling back up.
Broker flow $SINI 30 hari terakhir: ritel masif beli +34,000 lot. Asing jual -18,000 lot. Lokal jual -15,000 lot.
Pola distribusi klasik. Smart money keluar, retail masuk. Dan harga sekarang udah di bawah avg buy ritel. Banyak yang nyangkut.
Fundamental $SINI? Masih rugi. Rugi Rp 43M di 2025, memburuk dari 2024. P/E negatif.
Target 2026 revenue Rp 3.2T (6x lipat!) dan laba Rp 200M. Tapi ini 100% bergantung pada operasional tambang baru yang belum ada track record-nya.
Yang bikin orang tertarik: koneksi politik Hapsoro-PDIP kuat banget. Ada insentif besar buat bikin ini sukses. PTRO-nya Prajogo juga backup.
Tapi risikonya gede: dilusi 118%, belum ada track record batu bara, dan kalau right issue gagal atau undersubscribed, harga bisa jatuh ke level Rp 5,000 atau di bawahnya.
Full research $SINI lengkap dengan broker flow detail, bull/bear case, dan catalyst timeline: https://t.co/DoO2svql8R
$ENRG turun 52% dari puncaknya. Dari 2,420 jadi 1,170.
Hasil riset menarik, kenapa bisa separah ini.
Laba $ENRG FY2025 naik 21%, revenue USD 498M, temuan cadangan minyak baru 46 juta barel di 3 blok. Secara fundamental gak jelek.
Tapi ada yang bikin market panik: right issue.
Bakrie mau terbitkan 13.5 miliar saham baru. Itu setengah dari total saham $ENRG yang beredar. Dilusinya 33%.
Dan Bakrie sendiri jadi standby buyer. Jadi kalau lo gak ambil haknya, mereka yang serap semuanya. Market langsung kabur.
Smart money? Macquarie borong 452K lot $ENRG tanpa jual satu lot pun. Avg beli 1,368. Harga sekarang 1,170. Mereka nombok 14.5%.
Dan dari akhir Mei, SM udah mulai cabut. 40 broker jual vs cuma 8 beli. Distribusi masih jalan.
Volume $ENRG juga drop 92%. Dari 3.6 juta lot di April, sekarang 293K lot aja. Barangnya belum abis, tapi pembelinya udah ilang.
Yang sayang sebenernya $ENRG fundamentalnya solid: temuan minyak baru, akuisisi Blok Kangean 100%, minyak ASP 2026 naik 25%, target produksi 100 MBOEPD di 2030. Analis masih pada BUY.
Tapi ya gitu, "Bakrie discount" itu nyata. Market gak percaya sama grup ini. Right issue bikin overhang gede.
TL;DR $ENRG: fundamental oke, tapi distribusi masih jalan dan right issue belum clear. Gak usah buru-buru.
Full research-nya ada di sini: https://t.co/esXZqjMkXl