FYI, Aldian, sekitar 2016 KKN UGM juga udah pernah ke daerah yang kamu sebutin kayak Sugapa dan Ilaga. Dan di satu tempat itu biasanya sudah jalan tiga tahun berturut-turut.
Lagi-lagi,
Seorang menteri menyanjung2 seorang eselon 2.
Mulai sering nih menteri2 pamer kedekatan dengan seskab.
We know exactly where this is going 👀
Majalah Tempo dibredel pada 21 Juni 1994.
Pemicu utama dari dicabutnya Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) Tempo adalah pemberitaan investigatif mengenai pembelian 39 kapal perang bekas dari Jerman Timur.
Departemen Penerangan yang dipimpin oleh Harmoko meradang setelah Tempo menurunkan laporan utama yang membongkar friksi di internal pemerintahan terkait anggaran proyek tersebut.
Proyek pembelian kapal bekas ini dipelopori oleh Menristek B.J. Habibie. Ia mengajukan anggaran sebesar 650 juta dolar AS untuk membeli dan merenovasi kapal-kapal tersebut agar layak digunakan.
Rencana anggaran yang membengkak tersebut ditentang keras oleh Menteri Keuangan Mar'ie Muhammad, serta Panglima ABRI Jenderal Feisal Tanjung. Mereka menilai angka tersebut terlalu mahal untuk ukuran kapal bekas yang kualitasnya dipertanyakan.
Friksi tajam inilah yang kemudian diendus dan dilaporkan secara blak-blakan oleh majalah Tempo, hingga akhirnya berujung pada pembredelan tersebut.
Pembredelan 1994 ini tidak hanya menimpa Tempo, tetapi juga menyapu dua media kritis lainnya di waktu yang hampir bersamaan, yaitu Majalah Editor dan Tabloid Detik.
Peristiwa ini memicu gelombang solidaritas besar-besaran dari kalangan mahasiswa, aktivis, dan jurnalis muda, yang kemudian melahirkan organisasi pers independen pertama di luar kontrol pemerintah, yaitu Aliansi Jurnalis Independen (AJI).
Lo bilang transisinya "udah dijadwalin" sebelum Nanik resmi pegang BGN.
Oke, gampang aja buktiinnya: Istana, Kementerian BUMN, sama Pertamina sendiri , pas ditanya media , jawabannya kompak: belum ada keterangan resmi soal pelepasan kursi komisarisnya.
Itu bukan kata gue.
Itu jawaban resmi tiga institusi yang harusnya paling tau.
Kalau emang udah dijadwalin, tinggal tunjuk SK pemberhentian dari Pertamina atau pernyataan resmi bertanggal.
Bukan kayak ditilang terus bilang "STNK-nya ketinggalan di rumah, Pak" , keliatan banget itu alibi dadakan.
Soal tudingan gue dibayar Soros: makasih, lo baru aja ngasih tau semua orang yang baca bahwa lo gak punya satupun bantahan ke tanggal, SK, atau dokumen yang gue kasih.
Argumen yang kuat nyerang datanya, bukan nyerang dompet lawan ngomong. Ini kalau gw nyuruh lu ngasih bukti gw dibayar soros udah lebih gelagapan lagi
Jadi yang gampang aja deh, satu aja dulu: SK pemberhentian dari Pertamina-nya mana?
Mereka menyandang nama "Douwes Dekker", tetapi keduanya adalah orang yang berbeda.
Kiri: Eduard Douwes Dekker (Multatuli). Ia adalah penulis novel Max Havelaar.
Kanan: Ernest Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi). Pejuang kemerdekaan Indonesia, salah satu tokoh Tiga Serangkai.