Menghina kampus kampus top karena mahasiswanya demo adalah bentuk betapa masih banyak masyarakat yang tidak peduli pendidikan, apalagi pendidikan tinggi. Mereka tidak termotivasi dalam kesempatan berkuliah di kampus-kampus top.
Jika itu organik dari masyarakat, jika itu buzzer berarti emang ada yang sedang ketakutan.
“TIDAK ADA SURAT IZIN DEMO DARI BEM UI.”
LAH KOK MAHASISWA BELOM DATANG, GAS AIR MATA UDAH ADA??? kalau misalnya gak ada surat izin dari BEM harusnya kalian terperanjat, terhentak, kaget, tak menyangka, bergumam sendu dan menatap nanar.
kenapa ya gw merasa di indo tuh ruang gagalnya sempit. i mean umur lu setelah lulus kuliah tuh udah 22-23 loh, and after that you have to chase the age limitation in indonesia, which is 25, to secure your place
Semakin bertambahnya usia, semakin merasa harus ramah ke setiap orng yg ditemui.
Karena kita ga tau beban apa yg mreka pendam.
Ada orng yg mengubur mimpinya dalam2, karena dia tau mimpinya sulit diwujudkan.
thissss☝️😭
"jangan hedon" "jangan boros" meanwhile boros yg dimaksud cuma makan cukup, angka kebutuhan gizi terpenuhi, tempat tinggal nyaman & bersirkulasi baik.
Sebenernya kita ga boros ges, emg negaranya miskin aja sampe standar hidup minimum jadi kayak boros.
Berdasarkan observasi, cara paling efektif (dan paling “manusiawi”) supaya seseorang bisa jatuh cinta kepada kita itu bukanlah dengan trik manipulasi, bukan dengan menjadi sempurna, bukan dengan love bombing. Cara paling ampuh ialah:
“kita membuatnya merasakan versi paling hidup, paling utuh, dan paling bebas dari dirinya sendiri hanya ketika dia berada di dekat kita.”
Selalu suka sama kalimat ini:
"Maafkanlah dirimu karena dulu kamu belum tahu sesuatu, yang ternyata ada hal yang cuma bisa diajarkan oleh waktu."
Don’t be too hard on yourself. Life is a process.
Hmmm...
Kayaknya dari kecil saya memang sudah terpapar dengan hal tersebut dari majalah, game dan film di tv.
Akses ke hal tersebut memang mudah banget karena dulu ada aja temen saya yang nemu majalah dewasa punya bapaknya dan dibawa ke sekolah, atau main game yang temanya dewasa, dan nonton film lewat televisi kabel yang ternyata ada adegan dewasanya, belum lagi akses ke warnet yang sama sekali tidak dibatasi.
Kalo dibandingin, mungkin sekarang malah lebih parah. Di Instagram, TikTok dan X udah gampang banget menemukan konten softcore.
Pola asuh ortu saya itu strict, tapi fair. Mereka golongan akademis dengan gelar tinggi dan selalu mengutamakan pendidikan dan membiasakan saya gemar membaca, menonton film dan mendengarkan musik sejak kecil untuk memperluas wawasan saya. Selama saya memenuhi permintaan mereka dan menjauhi larangannya, kemungkinan besar saya bisa diberikan apa yang saya mau.
Kebetulan saya memang dulu lumayan aktif berorganisasi dan beraktivitas di sekolah. Semua hal saya jalani dari kecil dari mulai les renang, les piano, les sempoa, les bahasa inggris, eskul pencak silat, eskul futsal, eskul basket, ikut paskibra, dan main band. Di SMP saya tergolong anak yang selalu masuk ranking 5 besar, beberapa kali ikut lomba sains, dan juga aktif di kepengurusan osis atau kepanitiaan lainnya.
Jadi dengan segala pencapaian saya, orang tua saya mengabulkan beberapa permintaan saya seperti membelikan komputer, membelikan PS 2, dan memasang TV kabel Indovision dirumah, dan lumayan membebaskan saya bermain hingga sore ketika sudah pulang sekolah (karena biasanya memang ada eskul atau aktivitas lainnya seperti les).
Sekolah saya saat itu lumayan strict dan menanamkan nilai-nilai keagamaan. Tapi, ya namanya sekolah pasti ada aja anak-anak nakalnya. Dan kebetulan beberapa anak-anak yang nakal di sekolah saya memang yang juga masuk ranking dan berprestasi. Jadinya, bersama merekalah saya belajar banyak hal yang positif dan negatif.
Mungkin rasa ingin tahu saya saja yang lumayan besar, dan eksploratif dalam berbagai hal. Sebenarnya bagus, namun berbahaya bila tidak diberi batasan. Mungkin orang tua dan sekolah saya yang tidak pernah sadar karena selama ini saya anak baik dan teladan di depan mereka.
Dan yang paling berbahaya mungkin karena tidak pernah ada edukasi seksual dari orang tua dan sekolah saya. Keduanya menganggap bahwa semua topik soal seks adalah tabu dan tidak pernah dibahas sedikit pun, walaupun menyangkut soal edukasi.
Menurut saya ini penting, dan memang harus diajarkan secara bertahap sejak dini. Saya merasakannya sendiri kok. Karena tidak pernah diberi batasan, makanya saya kelewat batas.
Belajar dari pengalaman saya, saya menyarankan kepada orang tua terutama di zaman yang serba terkoneksi saat ini untuk selalu bisa memfilter informasi yang masuk kepada anak. Jaman sekarang harusnya lebih gampang. Kalo nonton bioskop aja sekarang ada peringatan untuk nonton sesuai usia, jaman dulu mana ada? Gadget dan internet pun sekarang sudah bisa mode restricted untuk anak, dulu jaman saya masih ke warnet mana mungkin bisa?
Juga, mulai secara bertahap edukasi tentang seksualitas, baik itu sexual identity dan sexual attraction. Saya melihat bahwa masa pubertas adalah sebuah turning point banyak orang dalam menemukan identitas dan ketertarikan seksualnya. Sebagai contoh, banyak orang yang akhirnya memutuskan dia gay karena suatu pengalaman di masa pubertasnya. Dan yang lebih penting adalah mempersiapkan anak apabila seks itu terjadi, potensi kehamilan dan penyakit seksual. Utamanya memang objektifnya agar anak tidak melakukan seks di usia dini, tapi jika memang itu terjadi alangkah baiknya mereka mengerti dampaknya.
Sekian, bu. Semangat ya mengurus anaknya! It's never an easy job being a mom!
Kalian yang demen nulis, apapun itu. Coba deh mulai nulis di susbtack, udah mulai banyak orang indo disana, mereka pengen baca tulisan dalam bahasa indonesia rata2 bukan bahasa inggris.