Ke mana @NajwaShihab ? Sepakat banget sama perspektif kawan saya ini @walikonten
Penokohan itu katrok, usang, udah engga relevan lagi untuk zaman post modernisme seperti sekarang ini. Benar dan salah itu relatif, tergantung kalian lihat dari sisi mana. Yes, thats called Post Modernism.
Mungkin saja dengan naik ke gerbongnya @prabowo merupakan hal yang "benar" bagi Najwa dengan perspektifnya sendiri, toh, Najwa pada akhirnya naik ke gerbongnya Jokowi di periode kedua. Ya, walau sampai sekarang hasil dari "Tim Percepatan Keadilan/Hukum" (koreksi kalo salah) nggak keliatan apa aja hasilnya.
Remember this: saya dulu pernah bilang bahwa saya ini tipe orang yang melawan arus, not following the market but "creating" market itself.
Dalam konteks ini, kalian tidak perlu terlalu bergantung pada "sosok" yang menurut kalian "hebat", sehingga ketika "sosok hebat" itu bungkam, kalian seperti kehilangan "pedoman".
Dan yang perlu kalian amati yaitu, jauhi "sosok hebat" yang NPD, yang mengkultuskan dirinya sendiri, yang menganggap bahwa dirinya itu adalah "pencetus" atau apalah.
Najwa itu manusia biasa, punya nafsu dan ego, punya "goal"nya sendiri, punya kehidupannya sendiri.
Wait a minute... you're missing the point bro.. di twit yg lu qrt sama sekali gak ada bahas perihal membaca jdi mulia atau hina, apalagi bahas gibran..
Jadi, tahu dong kenapa membaca itu penting...
@WidyaMP Parah demi membela gibran lo segitunya membela.
Dalam buku madilog karya tan malaka dia bilang
Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi.
Tan Malaka,ย Madilog
Lo kira pahlawan dulu gak baca buku?๐คฃ
Tetap nggak mengubah fakta UKT naik. Menteri kita mau mengotakkan masalah kenaikan UKT menjadi permasalahan segelintir golongan yang tidak berimbas pada yang lain, semua itu agar kita merasa tenang ketika yang lain sengsara. Don't let them make you ignorant.
Mesin Cuci: Electrolux Front Loading
Setrika: Philips Classic
Rice Cooker: Zojirushi tiada 1 helai nasi pun nempel dan nasi tidak pernah basi ataupun bau.
Jadi begini, istilah Empat Macan Asia itu diperuntukkan untuk Singapura, Hong Kong, Taiwan, dan Korea Selatan mengacu kepada pertumbuhan ekonomi mereka yang pesat di dekade 1950-an hingga 1990-an.
Kenapa Jepang tidak masuk? Karena Jepang sejatinya sudah menjadi negara maju sejak Reformasi Meiji di abad ke-19 dan awal abad ke-20. Mereka luluh lantak saat Perang Dunia Kedua tapi kembali bangkit menjadi negara dengan ekonomi raksasa. Nah, sebelum Perang Dunia Kedua, negara Singapura, Hong Kong, Taiwan, dan Korea Selatan belum semaju Jepang. Bahkan Taiwan dan Korea Selatan masih dijajah Jepang.
Kenapa Tiongkok tidak masuk? Karena selama dekade 1950-an hingga 1990-an, performa ekonomi Tiongkok sangat buruk akibat sistem sosialis ugal-ugalan yang diterapkan rezim Mao Zedong. Baru semenjak reformasi yang dilaksanakan Deng Xiaoping, Tiongkok baru bisa maju.
Referensi:
Day, Dong-Ching (2021). "Four Asian Tigers' Political and Economic Development Revisited 1998-2017: From the Perspective of National Identity". Asian Journal of Interdisciplinary Research.
Derek Gregory; Ron Johnston; Geraldine Pratt; Michael J. Watts; Sarah Whatmore, eds. (2009). "Asian Miracle/tigers". The Dictionary of Human Geography (5thย ed.). Malden, MA: Blackwell.
@talangijoo Lu baca Injil kristen pernikahan Ishak dan Rebbeca , Talmud Yahudi, sama aja umur 3 Tahun malah,belum lagi sejarah2 kerajaan eropa dibawah 9 tahun semua ...