@kepinets@wiraaaaa27@pm_aji Kan di awal jg sdh ada statement ditempatkan di seluruh Indonesia, ya ini sm dgn lu tes CPNS milih instansi pusat yg pny kantor daerah, dan sdh jelas dari namanya, Koperasi DESA/KELURAHAN Merah Putih, ya berarti penempatan bisa di seluruh DESA/KELURAHAN di Indonesia.
@spargowentgone Tetap bahaya. Karena rem adalah lawan dari gas, menginjak pedal rem pake kaki yg sama dgn kaki yg digunakan menginjak gas (kaki kanan) memastikan pd saat ingin memperlambat/menghentikan kendaraan tidak ada kaki yg scr tdk sengaja menginjak gas.
Gua udah punya jawaban kalo ditanya soal ini.
https://t.co/Kj7BQ2oS4r
Apakah kasihan? Tidak sama sekali. Sekarang kita balik:
- Apakah kalian kasihan dengan ibu2 kantin yang penghasilannya 0 rupiah karena MBG?
- Apakah kalian kasihan dengan orangtua yang menangis karena anaknya keracunan MBG?
- Apakah kalian kasihan dengan jutaan orang yang bayar pajak, namun uang pajak itu dipakai untuk korupsi dalam MBG?
- Apakah kalian kasihan dengan orang yang kena PHK akibat multiplier effect dari MBG ?
Sejawat kalian saja suka pamer gaji di SPPG dan merendahkan orang lain. Ngapain juga kasihan.
🧐Eh, temen-temen ASN!
Ada yang lagi mikir pengunduran diri?
Cek ini dulu!
BKN rilis fitur keren di MyASN namanya "Peduli ASN Jaga ASN". Intinya, sekarang pengunduran diri (dari Jabatan atau dari ASN) bisa diajukan langsung oleh kamu sendiri lewat aplikasi, biar jelas ini keputusan mandiri, bukan ada yang main-main.
Kenapa bagus?
- Akuntabel banget → pasti dari kamu sendiri
- Gak perlu nunggu klarifikasi 1-3 hari lagi
- Bisa diajukan kapan saja, di mana saja
- Gratis, mudah, aman pake MFA
Cara kerjanya sekarang:
Admin instansi tinggal klik sinkronisasi di I-Mut, langsung nyambung ke inbox Pyb → PPK → Audiman BKN. Gak perlu upload surat pengunduran diri manual lagi. Proses selanjutnya tetep sama, cuma lebih cepet & simpel.
Mantap kan?
Kalau kalian ada rencana resign, sekarang jauh lebih gampang dan transparan.
Source: https://t.co/j761kpts5e
#MyASN #BKN #ASN
Guys, ada analisis yang menurut gue paling jujur dan paling berani tentang sesuatu yang setiap hari kita lihat di jalanan tapi tidak pernah kita pahami dengan benar.
Kenapa tiba-tiba semua orang jualan seblak, cilok, gorengan, dan cimol?
Jawabannya bukan karena mereka jadi wirausahawan.
Jawabannya karena mereka tidak punya pilihan lain.
Pertama tentang konsep yang paling penting untuk dipahami:
Dalam ilmu ekonomi tenaga kerja ada dua jenis wirausaha yang sangat berbeda.
Opportunity entrepreneurship berwirausaha karena melihat peluang pasar, ada inovasi, ada riset, ada rencana bisnis yang matang.
Necessity entrepreneurship berwirausaha karena terpaksa. Karena tidak ada pilihan lain.
Karena kalau tidak jualan tidak bisa makan hari ini.
Dan mayoritas besar dari ledakan pedagang kaki lima kuliner yang kita lihat sekarang masuk ke kategori kedua.
Bukan wirausahawan.
Mereka adalah pengangguran yang menyamarkan statusnya dengan gerobak tepung.
Dan ini kenapa tepung dan aci yang dipilih
bukan karena cinta kuliner:
Modal paling rendah.
Tidak butuh keahlian khusus.
Tidak perlu izin.
Tidak perlu riset pasar.
Tidak ada resep rahasia yang perlu dijaga.
Beberapa kilogram tepung, minyak goreng curah, penyedap sintetis, bubuk cabai, dan wajan aluminium dan seseorang sudah bisa mengklaim punya usaha.
Bagi yang baru dapat surat PHK dari pabrik garmen ini adalah jaring pengaman terakhir.
Bagi ratusan ribu sarjana yang lamarannya tidak pernah dijawab ini bukan tentang membangun warisan bisnis. Ini tentang memastikan ada beras yang bisa dimasak besok pagi.
Dan ini tentang angka pengangguran yang paling sering disalahartikan:
BPS melaporkan pengangguran terbuka Februari 2026 di angka 7,24 juta orang atau 4,68%.
Pemerintah menyebutnya sebagai keberhasilan.
Tapi angka itu menipu.
Karena seseorang yang berjualan gorengan tiga jam sehari secara resmi tercatat sebagai bekerja bukan pengangguran.
Dalam ilmu ekonomi ini disebut pengangguran terselubung secara administratif bekerja, tapi produktivitas ekonomi marginalnya sangat rendah, tidak sesuai kapasitas atau keahliannya.
Dan buktinya sangat jelas: proporsi pekerja di sektor informal Indonesia secara persisten berada di 57 sampai 60% dari total angkatan kerja.
Lebih dari separuh orang yang dihitung sebagai "bekerja" sebenarnya berada di sektor yang tidak ada jaminan kesehatan, tidak ada asuransi, tidak ada dana pensiun.
Dan ini tentang kanibalisme ekonomi yang paling menyedihkan:
Ketika satu pedagang cimol terlihat ramai minggu depan muncul 10 gerobak cimol dalam radius 100 meter. Semua menjual produk identik.
Menyasar konsumen yang sama.
Dengan harga yang sama.
Mereka tidak sedang bersaing dengan korporasi multinasional.
Mereka sedang bersaing dengan sesama yang baru saja kena PHK dari pabrik yang sama.
Dan kue yang diperebutkan tidak membesar justru menyusut. Karena daya beli masyarakat sedang hancur. Kelas menengah turun kasta.
Inflasi menggerus pendapatan.
Pinjol mencekik.
Uang yang beredar untuk beli jajan pinggir jalan makin sedikit.
Hasilnya: perang harga yang brutal.
Margin yang sudah setipis kertas makin menipis.
Dan tidak ada yang menang.
Dan ini tentang ironi terbesar yang jarang dibicarakan:
Indonesia adalah negara yang jutaan penduduknya menggantungkan hidup pada tepung terigu tapi tidak bisa menanam gandum satu biji pun di tanahnya sendiri.
Hampir 100% kebutuhan gandum Indonesia diimpor dari Australia, Kanada, Amerika, Rusia, Ukraina.
Dan volume impor itu diperkirakan terus naik rata-rata 6,38% per tahun hingga bisa menembus 21,67 juta ton.
Artinya: ketika ada El Nino di Australia, ketika ada perang di Ukraina, ketika rupiah melemah terhadap dolar harga tepung di pasar tradisional langsung naik.
Dan yang pertama kena dampaknya adalah pedagang gorengan yang tidak punya instrumen lindung nilai, tidak bisa menaikkan harga, dan tidak bisa memangkas margin yang sudah nol.
Kenaikan Rp50.000 per karung tepung 25 kg bisa menghancurkan seluruh bisnis mereka.
Sementara korporasi pangan besar bisa meng-hedge risiko itu di pasar berjangka.
Dan ini yang paling menohok tentang narasi pemerintah:
Setiap kali ada kenaikan angka UMKM pemerintah menyebutnya sebagai keberhasilan.
Setiap kali muncul berita tentang jutaan pedagang kaki lima media memujinya sebagai ketangguhan ekonomi rakyat.
Tapi itu adalah romantisasi penderitaan.
Negara sedang mencuci otak jutaan orang untuk percaya bahwa kemiskinan mereka adalah bentuk kemandirian.
Bahwa kelelahan fisik 12 jam di belakang wajan adalah jiwa kewirausahaan yang patut dibanggakan.
Padahal yang sedang terjadi:
negara melepaskan diri dari tanggung jawab menyediakan lapangan kerja formal,
jaring pengaman sosial, dan sistem yang melindungi pekerja dengan cara merayakan keputusasaan mereka sebagai prestasi.
Gerobak seblak dan cilok di pinggir jalan bukan tanda kebangkitan ekonomi. Itu adalah simbol dari sistem yang gagal menyediakan pekerjaan formal yang layak dan memaksa jutaan orang berjualan tepung sebagai pelarian terakhir dari rasa malu menjadi pengangguran.
Mereka berjalan di atas treadmill. Energi habis setiap hari. Tapi posisi finansialnya tidak bergeser satu sentimeter pun ke depan.
Dan ketika fisik mereka tidak lagi sanggup berdiri 12 jam di bawah asap jalanan tidak ada yang menunggu mereka. Tidak ada dana pensiun. Tidak ada asuransi. Tidak ada landasan pendaratan.
Dan janji 19 juta lapangan kerja?
Dika dari Bekasi sudah kirim 120 lamaran.
Tidak satu pun dijawab.
Mungkin besok dia juga akan membeli wajan dan tepung aci dan disebut wirausahawan.
Kenapa dapur MBG pakai skema yayasan?
Karena biar BEBAS PAJAK
Udah dapat insentif segudang, ditambah korupsi miliaran per hari, masih bebas pajak pula.
Ini namanya perampokan berjamaah dan terstruktur.
MBG = Maling Berkedok Gizi
Saudara kandung gw seorang psikolog yg sehari-hari kerjaannya dengerin dan beresin isi kepala orang lain yg berantakan. Pas kita lg kumpul kemarin, dia buka obrolan.
Dia bilang, "lo tau nggak paradoks paling lucu dari profesi gw?"
Dia cerita, pernah nanganin pasien yg semuanya punya pola masalah yang sama. Mereka gak ada yang bener2 sakit secara fisik, tapi badannya rontok karena pikirannya selalu merantau ke masa lalu atau masa depan.
Siksaan batin yg dijelasin saudara gw ini namanya Mental Time Travel.
Kondisi dimana otak kita terlalu canggih sampe bisa loncat ke masa lalu buat nyeselin hal yg udah lewat, atau loncat ke masa depan buat nyemasin hal yg belum tentu terjadi.
Efeknya? Lo kehilangan masa kini. Lo lagi makan makanan enak tapi nggak ngerasain rasanya, lo lagi jalan sama anak-istri tapi pikiran lo lagi sibuk mikirin cicilan 5 taun ke depan, atau sibuk nyeselin blunder kerjaan minggu lalu.
Dia cerita, banyak pasiennya yg kalau malem sebelum tidur, otaknya kayak muter kaset rusak. Mereka selalu terjebak di zona "Regret & What if"
"Kenapa ya dulu gw gak ambil kesempatan itu?"
"Gimana kalau nanti umur 40 gw mendadak di PHK dan gak punya tabungan?"
Siksaan batinnya adalah masa lalu udah jadi abu, masa depan masih jadi kabut, tapi lo ngorbanin satu2nya hal nyata yg lo punya sekarang, yaitu detik ini. Lo dapet capeknya, tapi gk dapet solusinya.
Gw tanya ke dia, "Kenapa otak kita secara psikologis bisa se terjebak itu?"
Dia jelasin kalau secara evolusi, otak manusia itu emg didesain buat bertahan hidup dg cara mengantisipasi bahaya (masa depan) dan belajar dari kesalahan (masa lalu).
Tapi di jaman sekarang, insting itu malah jadi bumerang. Tiap hari kita liat pencapaian orang lain di medsos yg bikin kita cemas ama masa depan kita sendiri.
Kita dipaksa buat selalu berlari ngejar target, sampe lupa caranya berhenti sebentar buat napas.
Ada satu istilah psikologi yg ngena banget buat kondisi ini:
"The Illusion of Control"
Kita mikir dg merenungkan masa lalu berulang kali, kita bisa mengubah rasa bersalah kita. Atau dengan mencemaskan masa depan, kita bisa mengendalikan hasil akhirnya.
Padahal itu semua cuma ilusi. Satu2nya momen dimana lo punya kekuatan penuh buat bertindak dan mengubah sesuatu itu cuma ada di masa kini.
Gimana cara kita buat lepas dari penjara waktu ini?
Saudara gw kasih terapi simpel yg biasa dia kasih ke pasiennya:
Grounding Technique (5-4-3-2-1)
Pas pikiran lo mulai melayang entah ke taun berapa, paksa mata dan tubuh lo buat fokus ama sekitar.
Sebutin 5 benda yg lo liat sekarang, 4 hal yg bisa lo sentuh, 3 suara yg lo denger, 2 bau yang lo cium, dan 1 rasa di lidah lo.
Cara ini bakal menyeret paksa kesadaran emosional lo kembali ke realita tempat lo berdiri.
Langkah kedua adalah bergaul sama kenyataan, bukan asumsi.
Kurangi bikin skenario terburuk didalam kepala. Kalau emg ada hal yg perlu disiapin buat masa depan, tulis di kertas jadi action plan yg nyata, after itu tutup bukunya.
Belajarlah buat menikmati hal-hal kecil yang gratis.
Dinginnya air pas lo wudhu atau cuci muka, angetnya obrolan ama pasangan sebelum tidur, atau rasa pahit manisnya kopi yg lagi lo seruput.
Pesan dari saudara gw ini:
Masa lalu itu udh selesai tugasnya, dan masa depan itu bukan urusan lo sekarang.
Satu2nya tanggung jawab lo adalah menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya.
Jgn biarin hidup lo lewat begitu aja cuma karena lo terlalu sibuk jadi penjelajah waktu di dalam kepala lo sendiri. Rebut kembali kendali pikiran lo mulai hari ini.
tulisan by ryn pedia
cc: istory selebriti (facebook)
@Hidupsebagai62 Lagipula senang banget dengan acara2 simbolis seremonial. Kyknya cuman negara kita yang paling sering upacara? Katanya menumbuhkan sikap nasionalis? Apa benar? Toh buang sampah aja masih sembarangan, toh masih banyak juga ya melanggar lampu lalu lintas.
@dimarsasongko98@tedy_bambang Pemerintah rezim siapa sih nganggap keputusan MK cuma saran?
Kok keputusan soal batas umur wapres dulu, gak dianggap saran?
Heran. Hukum dipilih....mana yang menguntungkan.