Sedikit berbeda dari konteks, tapi mau cerita soal Ibu.
=======
🧑: Mas, Ibu gak mau ah hidup sampe yang tua banget.
👶: Kenapa emang Bu?
🧑: Nanti kamu sama adek malah berantem gak mau ngurus Ibu. Nanti malah jadi pada dosa.
👶: Ya gak mungkinlah Bu, masa aku sama adek tega begitu."
🧑: Ya iya, sekarang kamu masih bisa ngomong begitu. Karena Ibu masih sehat, masih bisa jalan. Tapi kalo nanti tua, kan belum tentu.
👶: Ya gak mungkinlah, Bu.
🧑: Udah, pokoknya Ibu gak mau hidup sampai tua banget. Ibu udah cukup kalo nanti bisa lihat Mas sama Adek nikah, ngerasain punya cucu. Udah cukup.
Ibu juga berdoanya Ibu meninggal duluan dibanding Bapak. Soalnya Ibu gak mau ditinggal Bapak.
Tapi Bapak jangan lama-lama nyusulnya. Terus Ibu juga mau dikubur di kampung Ibu.
Semakin menyadari percakapan yang seolah mengalir ringan itu, gua semakin mengerti bahwa dalam pembicaraan tentang topik yang ditakuti banyak orang yaitu kematian, Ibu masih memikirkan dan menomorsatukan anak-anaknya.
Dan semua harapan Ibu itu terwujud.
Kita ini sadar nggak sih….?
Narasi yg dijual Trump ke Prabowo memang terdengar begitu manis dan penuh sanjungan, “Palestina butuh kehadiran Indonesia sebagai saudara muslim yg mereka percaya.” Namun jauh dari sorotan kamera pers, peta Gaza tidak ditandai dengan zona aman untuk pengungsi, melainkan zona penyangga strategis.
Israel walau tidak peduli, tapi lelah juga dengan kecaman global dari banyak negara yg mengutuk aksi kejahatan kemanusiaannya. Belum lagi ancaman serangan dari negara pendukung Palestina yg tak berkesudahan, mereka membutuhkan “tameng pelindung” baru.
Tembok beton bisa diledakkan, dan Iron Dome bisa ditembus, tetapi ada satu penghalang yg jauh lebih sulit untuk diserang oleh pejuang Palestina atau para sekutunya, yakni saudara muslim yg mendukung mereka sendiri.
Rencana itu bukanlah tentang memberdayakan tentara Indonesia sebagai Penjaga Perdamaian, melainkan menempatkan mereka sebagai pion di papan catur yg paling mematikan.
Mengingat watak Zionist Israel dan liciknya Trump, hampir dapat dipastikan posisi-posisi pos penjagaan Indonesia tidak akan dirancang untuk melindungi warga sipil Gaza, melainkan diletakkan secara presisi mengelilingi titik-titik operasi klandestin Israel.
Ini adalah jebakan psikologis yg sempurna. Ketika unit-unit khusus Israel melancarkan serangan “bersih-bersih” atau provokasi senyap dari balik garis pertahanan koalisi, setiap balasan roket atau serbuan dari faksi perlawanan Palestina akan dipaksa melewati pos penjagaan Indonesia terlebih dahulu.
Dilema itu dirancang untuk mencekik para pejuang Palestina. Menembak berarti membunuh tentara dari negara sahabat yg selama ini mendukung mereka (sebuah bunuh diri diplomatik yg akan mengucilkan Palestina dari pendukung terbesarnya). Namun jika tidak membalas berarti membiarkan Israel menyerang tanpa hukuman dari balik punggung “Garuda” yg tidak sadar sedang diperdaya.
Bagi Trump di Gedung Putih, ini adalah kemenangan mutlak. Jika tentara Indonesia gugur terkena serangan balasan, narasi global akan bergeser, “Lihat, teroris bahkan membunuh penjaga perdamaian Muslim”, tapi jika serangan balasan terhenti karena keraguan, Israel bebas beroperasi, menembaki penduduk sipil, bahkan wanita dan anak-anak.
Tentara kita tidak dikirim untuk menjadi wasit. Dalam skenario gelap ini, besar kemungkinan mereka dikirim untuk menjadi tameng hidup. Daging dan darah yg dipaksa berdiri di antara pelatuk dan sasaran, sementara dalang sesungguhnya tersenyum aman dari kejauhan, terlindungi oleh “niat baik”yg palsu.
Sejatinya Trump ini mewakili wajah moyang kulit putih Amerika yg dulu membantai penduduk asli negara yg kini dipimpinnya itu. Ia kembar identik non biologis Netanyahu.
Mempercayai apa yg keluar dari mulut keduanya persis seperti mempercayai Iblis dengan Da’jal, yg satu tegas menyatakan akan menjadikan penduduk Palestina terbakar api genosida, dan yg satunya berpura-pura menjadi sahabat agar mudah menikam bangsa Palestina dan para pendukungnya dari belakang.
Aneh dan bodohnya, kok kita dengan begitu na’if menyumbangkan uang dan nyawa tentara sendiri pada keduanya.
Saat jam-jam awal korban jatuh, bisa dipastikan tidak ada alat keselamatan yang memadai di ketinggian seperti itu. Tidak ada yang berharap juga akan ada kejadian tersebut.
Setelah tim SAR dapat report, laporan pertama diterima sekitar pukul 06.30 WITA pada Sabtu, (21/6). Tim tentu perlu persiapan sebelum naik, dan bergerak menuju lokasi dengan membawa peralatan vertical rescue. Memasuki pukul 12.00 WITA, tim mencapai Pos 4 dan mulai mendekati lokasi dugaan jatuhnya korban.
Ada interval waktu sekian jam dari awal jatuhnya korban dan sampainya tim ke titik lokasi setelah menempuh perjalanan, gak mungkin dong tim SAR nya pakai pintu kemana saja atau teleport untuk langsung tiba?
Menurut info, cuaca di gunung Rinjani bisa berubah dalam hitungan menit, bagaimana kalau dalam hitungan jam?
Sementara posisi korban yang kabarnya juga terus turun dan berpindah lokasi, dari titik awal dia dia ditemukan di 300 meter sampai dengan posisi akhir di kedalaman 600 meter. Ini juga disebabkan oleh kondisi pasir dan kerikil di lereng curang Gunung Rinjani yang tidak stabil.
Saat tim SAR sampai, cuaca memburuk, medan curam, near-zero visibility. Lantas gimana evakuasi nya mau berlangsung, sementara keadaan alam nya tidak mendukung? Mau kirim drone atau tembak leser percuma, 600 meter itu dalam, dan kabut di lokasi kejadian tebal.
Tidak semudah itu bertindak dalam kondisi lapangan yang tidak menentu, tim yang di atas juga harus jaga keselamatan dan keamanan mereka juga. Gak mungkin dong tim yang mau nolong justru harus balik ditolong karena mengabaikan SOP dan berlaga seperti layaknya film hollywod? Gak gitu mas konsep dari Search and Rescue.
@ilhampid Di Tanah Lapang dan di sekitar pemukiman warga aja itu drone bawa muatan udh kena angin sampe goyang dan ga bisa stabil, apalagi kalo dipake buat turun ke bawah tebing dalam kondisi angin kencang dan banyak penghalang yang bisa ganggu sinyal
@ilhampid@def0745 Bro itu kondisi korban ditemukan pas pagi hari SAMA PENDAKI YANG LAGI SUMMIT JUGA, yang mana korban di tinggal sama tour guide dan kelompoknya. Kapan tim sar dateng? YA JALAN DULU KEPUNCAK KETIKA ADA INFO ORANG ACCIDENT. Pake Logika Please
@ilhampid Sebelum komen akal sehat juga dipakai kalo mau komen. Jarak dari basecamp ke puncak aja udh makan waktu banyak, dan cuaca di gunung ga bisa ditebak. Coba baca lagi kronologinya dan liat medanya kaya gimana, teori sama penerapan di lapangan bisa beda