Udah jauh jauh kemana mana menjauh dari segala hal soal negara terus beneran seneng sibuk sendiri fokus sama diri sendiri eh sekali ketemu bener bener instantly langsung marah gila yaa sama sekali ga ada harapan apa
Hukum sebagus apapun kalau subjek yang gunain jahat ya pasti hancur berantakan juga. Terus kalau hukumnya dari awal udah jahat dan subjeknya yang gunain juga jahat secara bersamaan gimana? Selesai sudah
Cuplikan Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar tingkat Kalimantan Barat viral setelah muncul perbedaan penilaian terhadap dua jawaban yang dinilai memiliki substansi serupa.
Polemik mencuat setelah Tim C dari SMAN 1 Pontianak mendapat pengurangan skor. Juri menilai jawaban peserta kurang lengkap.
Namun, pada pertanyaan serupa dengan jawaban yang sama, tim lain justru mendapat nilai penuh.
Menanggapi protes peserta, salah satu juri menyatakan agar peserta menjaga artikulasi saat menjawab.
"Dewan juri menilai berdasarkan apa yang terdengar jelas. Kalau tidak terdengar, maka juri berhak memberikan pengurangan nilai," ujar salah satu juri.
Terkait kejadian ini, SMAN 1 Pontianak meminta klarifikasi terbuka kepada penyelenggara. Lewat akun Instagram-nya, SMAN 1 Pontianak menilai keputusan juri perlu dijelaskan secara transparan agar objektivitas dan integritas kompetisi tetap terjaga.
Sumber: YouTube/MPRGOID, IG @/smansaptk.informasi
~R #Kalimantan #Peristiwa
Kalau liat full petisinnya di halaman ini. Ada lebih dari 1000 yang udah ikut menyatakan dukungan, tapi tetep semakin banyak lagi yang mendukung pasti akan semakin baik
Temen-temen, kalau kalian ngerasain hal yg sama dgn nama” yg sign petisi ini, please bantu dukung. Kita dorong penanganan yg adil & berperspektif korban, sekaligus kawal agar tdk ada intimidasi dlm prosesnya. Butuh banget bantuan kalian
https://t.co/rkchJtwWpT
#BersamaKorbanFHUI
Tidak ada ruang kompromi untuk kekerasan seksual di institusi pendidikan. Dukung penanganan kasus di FHUI tetap berperspektif korban. Tolak semua ancaman atau pembalasan terhadap mereka yang sedang mengusut kasus ini.
Nyatakan dukungan di petisi ini. Mari menolak patah dan tumbuh bersama.
#BersamaKorbanFHUI
https://t.co/sC5g6iNsS0
Maaf ya kamu ngawur. KS non-fisik & verbal sudah jelas diatur di Pasal 5 UU TPKS & Pasal 7 (2), Pasal 12 (1), (2) Permendikbudristek 55/2024. Tidak harus publik, tidak harus ke korban langsung, tidak harus tindakan fisik. Gugur semua argumen kamu. Banyak baca lagi deh mendingan
Might be unpopular opinion, tapi dalam hal ini gw bukan enabler dan gw cewe dengan riwayat ngebanting dan nyekek orang KS di transport publik ya.
Terlepas dari cupu banget si ade2 mahasiswa ini, JIKA ini masih dalam batas:
- percakapan ruang tertutup
- tidak dilontarkan langsung kepada “objek”nya (gw pake kata objek bukan objektifikasi, tapi Subjek-predikat-objek) ~ dalam hal ini perempuannya
- tidak menjadi aksi langsung (tindakan verbal, sentuhan, pemaksaan, dan lain2)
Maka kasus ini BELUM bisa di cap 100% sebagai KS.
Biarkan sanksi sosial, tapi kurang tepat jika harus DO.
Tindakan real kriminal (pencurian, pemerkosaan, pembunuhan, perusakan fasilitas, kejahatan terencana) baru bisa dikategorikan sebagai layak DO.
Gw kembalikan pada niat < ucapan < ajakan (hasutan) < tindakan. Dan tindakan ini juga ada tingkatan keparahan.
Plus, sebagai nasib yg sering dianggap bro, gw dulu suka terdampar di obrolan cowo (dengan judul Presidium Malam). Dan itu memang kalo didenger perempuan bisa jadi kurang enak banget.
Tapi gak ada yg sampe tindakan, apalagi nyebar foto dll. Mentok di obrolan circle (belom ada wasap jaman itu, tapi kan udah ada kaskus, milis, dll). Apalagi sebar foto pribadi.
Nah, kalo udah sampe “nyebarin” foto pribadi apalagi stalking, itu bisa diperkarakan.
temen-temen alumni fhui yang ingin contribute atau minimal concern soal kasus ps melalui group chat dan ingin mengawal kasusnya agar transparan dan tetep menjaga keberpihakan pada korban, boleh japri ya. Ada inisiasi dari temen-temen lintas angkatan yang bisa kita dukung