Saya mohon teman2 untuk berhati2 dalam menyerang Gibran.
Gibran tercela karena dia mengakali aturan, bukan karena tidak punya ijazah SMA.
Kalau ia diserang karena tidak punya ijazah SMA, banyak diaspora Indonesia yg tersinggung dan merasa haknya dicabut hanya karena tidak punya ijazah SMA, padahal sudah menempuh S1 bahkan S3 di luar negeri.
Kalau tidak hati2, angin malah bisa berpihak ke kubu Jokowi.
Gibran harus kita kalahkan karena ia curang, dan tidak kompeten. Bukan karena tidak lulus SMA
Ada satu babak dalam debat rimpang vs partai yang jarang disorot: Zen RS sebenarnya meminjam semangat tradisi Marxisme Italia, operaismo, tanpa pernah menyebutnya sekali pun. Metode conricerca dari Panzieri di Quaderni Rossi punya irama yg mirip dengan "sublasi" yang ia tawarkan.
seenggaknya yang jarang dibahas di timelineku: Rua Aksara;
jujur baru punya tiga buku ini, tapi sejak seri novela climate fictionnya masuk ke koleksi pribadi, penerbit ini berkesan banget di aku. buku-buku ini ceritanya lokal, sederhana, dan nostalgis banget.
Terjemahan buku ini sudah berusia 20th lebih. Bukan cuma akademisi, pengarang fiksi juga mestinya baca buku ini ketika akan menjelaskan dan mendeskripsikan komunitas rentan dalam karyanya.
1. Saya akan bercerita arkeologi mengapa sistem kuncian antara candi di Indonesia berbeda dengan Asia Tenggara Daratan khususnya Kamboja. Trit kali ini saya membahas sistem penguncian candi di Kompleks Candi Angkor, Kamboja yang menggunakan penjepit/klem/krampon dari besi
Buku Panduan Pengawasan Ketenagakerjaan dalam Pencegahan dan Penanganan Diskriminasi, Pelecehan dan Kekerasan Seksual di Tempat Kerja versi soft copy sudah bisa diunduh di: https://t.co/j6kwet3Fif
Semoga bermanfaat bagi rekan pengawas ketenagakerjaan, pekerja, dan perusahaan!
Benar, bahwa diantara para guru juga ada yang sentimen terhadap sesama mereka yang sedang berjuang dalam kesejahteraan. Itu juga sedang dialami para dosen. Konteks sosial memang nyata.
Dan persoalan seperti ini, bukan hal yang baru. Mungkin itu sedang terjadi diantara profesi lain, seperti nakes. Atau kita para pendidik, perlu belajar kepada teman-teman buruh. Namun bukan berarti mereka tidak memiliki persoalan.
Tapi percayalah, pada satu waktu di masa lalu, saya sempat menganggap adanya serikat dosen, seperti Serikat Pekerja Kampus, adalah sesuatu yang utopis. Saya sendiri ketika menjadi guru, tidak membayangkan bahwa organisasi guru bisa mewakili keresahan guru.
Ternyata itu mungkin terjadi, dan sekarang terwujud. Hal tabu yang pada masa lalu tidak bisa dicapai, kini bisa. Dan memang pasti akan menghadapi masalah baru yang mungkin diluar yang bisa kita bayangkan.
Delapan kali sidang di MK, saya tidak selalu hadir, bukan karena alasan heroik, tapi alasan biasa terjadi pada orang biasa-biasa saja, dan @penduduk_lokal_ kadang tertahan kemacetan, kepala pusing belum ngopi, dan menertawakan nasib sendiri. Bersama teman-teman koalisi, kami lebih sering bercengkrama sebagaimana orang-orang biasa.
Tentu, tidak perlu menghebat-hebatkan apa yang kita lakukan. Tidak ada aktivis guru, kita hanya guru. Perjuangan upah minimum pendidik [guru dan dosen], bukan ide baru. Ini estafet yang pernah disuarakan orang-orang di masa lalu. Perjuangan atas hak pendidikan juga bukan kali pertama. Kebetulan Reza itu paling nekat, 1 diantara jutaan guru lainnya.
Bahwa, agak naif, kami, mencintai profesi kami sebagai guru, dan merasa, ada harga diri yang harus dipertahankan, demi pilihan profesi ini. Gugatan MBG ke MK, dilakukan bukan karena tahu kita akan menang, tapi karena kita sadar, merebut kembali anggaran pendidikan, layak dimenangkan.
Mungkin, inilah yang dimaksud Freire, dalam konteks perjuangan, kita membuat jalan sambil berjalan, karena kita mencintai perjalanan-- sebagai guru.
Kalau ada rekan dosen yg cerita kalau gajinya kecil, jangan buru-buru dikomentari “pasti karena nggak X, pasti karena belum Y, kalau saya sih Z!”
Coba direfleksikan, wajar nggak, untuk dapat gaji layak, dosen harus X, Y, dan Z dulu. Kenapa nggak bisa cukup dari gaji pokoknya?
@dosenhukumnotes@FreakyBatman_ Agak aneh ga si pa dosen ini sidangnya semua pemberatnya ga masuk akal kaya dia terlahir dari keluarga berkecukupan dan berpendidikan (???) terus kerugian negara karena di daerah 3T Chromebook tidak terpakai (??) itu juga IKN ga dipakai tapi ga dipenjara jokowinya....
Rapatkan barisan gais!
Kalo belum bisa ikutan, bantu sebarkan.
Karena biasanya aksi yang begini ga muncul di media mainstream.
Kalo bukan kita, siapa lagi?