Selamat Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 BE!
Semoga cahaya kebijaksanaan, kedamaian, dan cinta kasih senantiasa menerangi langkah kita semua. Semoga kedamaian selalu menyertai batin dan lingkungan kita.
Sabbe satta bhavantu sukhitatta.
Prasasti Kedukan Bukit bukan sekadar batu bertulis; ia adalah saksi lahirnya imperium yang mengintegrasikan tradisi lokal dengan ajaran Buddha global. Dimulainya perjalanan suci pada bulan Waiśākha menghubungkan langsung dengan Tri Suci Waisak, menjadikan keduanya bagian tak terpisahkan dari mozaik sejarah dan budaya Indonesia.
Di era modern, prasasti ini menjadi simbol kebanggaan nasional dan toleransi beragama. Perayaan Waisak di Borobudur menarik ribuan umat dari berbagai aliran Buddha, mencerminkan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Hubungan Kedukan Bukit-Waisak mengajarkan bahwa spiritualitas bisa menjadi perekat kekuasaan dan perdamaian.
Utas oleh: @harrysofian – arkeolog
SURAT TERBUKA KEPADA
BPK ( Balai Pelestarian Kebudayaan ) YOGYAKARTA
KRITISI PADA KESALAHAN TEKNIS FATAL PEMASANGAN PENANGKAL PETIR DI CANDI BANYUNIBO SLEMAN YOGYAKARTA
Pemasangan sistem penangkal petir pada bangunan cagar budaya seperti Candi Banyunibo memerlukan standar yang jauh lebih ketat dibandingkan bangunan modern. Berdasarkan bukti visual foto di lapangan, terdapat beberapa kesalahan teknis fatal yang tidak hanya merusak kelestarian fisik candi sebagai situs arkeologi, tetapi juga membahayakan efektivitas proteksi petir itu sendiri.
Berikut adalah paparan mengenai kegagalan teknis tersebut:
1. Kerusakan Fisik Langsung pada Batuan Kuno (Metode Anchoring)
Temuan: Klem penyangga kabel konduktor dipasang dengan cara mengebor langsung ke dalam blok batu andesit candi.
Dampak Fatal: Tindakan ini melanggar prinsip dasar konservasi cagar budaya. Pengeboran memicu keretakan mikro pada batuan purbakala, mempercepat proses pelapukan, dan menciptakan celah bagi air hujan untuk masuk. Air yang terjebak di dalam sela batu akan memicu tumbuhnya lumut dan mempercepat kerusakan struktural internal batuan.
2. Tekukan Kabel Terlalu Tajam.
Temuan: Pada foto terlihat kabel konduktor mengalami tekukan yang sangat tajam (hampir membentuk sudut siku-patah) sebelum mencapai area tanah.
Dampak Fatal: Arus petir adalah arus transien berfrekuensi tinggi yang memicu sifat induktif yang sangat kuat. Secara hukum fisika, arus sisa petir akan mencari jalur lurus terdekat. Tekukan tajam seperti ini menciptakan reaktansi induktif yang tinggi, sehingga saat terjadi sambaran, arus petir berpotensi besar melompat keluar dari kabel langsung ke batuan candi. Loncatan energi masif ini bisa seketika memecahkan atau menghancurkan batu andesit di sekitarnya.
3. Penempatan Jalur Kabel Merusak Estetika dan Relief
Temuan: Kabel dibiarkan menjuntai bebas dan menempel langsung melewati bidang relief serta ornamen arsitektur penting candi.
Dampak Fatal: Selain merusak estetika visual cagar budaya, getaran mekanis kabel akibat tiupan angin lambat laun akan mengikis detail relief kuno tersebut. Terlebih lagi, jika petir menyambar, kabel akan mengalami lonjakan suhu yang sangat ekstrem; kontak langsung antara kabel panas dan batu andesit dapat meninggalkan hangus permanen atau memicu pecah termal pada permukaan relief.
4. Masalah Terminasi Bawah dan Risiko Korosi
Temuan: Di bagian bawah, sambungan kabel menggunakan klem/baut penyambung yang posisinya terbuka di atas tanah dan batuan fondasi tanpa adanya pipa pelindung (conduit). Tampak pula sisa isolasi plastik yang tidak standar.
Dampak Fatal: Bagian terminasi menuju elektroda pembumian (ground rod) adalah titik krusial. Membiarkannya terekspos tanpa pelindung mekanis membuatnya rentan terhadap korosi akibat kelembapan tanah, air hujan, dan benturan fisik. Korosi atau kelonggaran pada titik ini akan menaikkan nilai resistansi pembumian. Jika resistansi pembumian tinggi (di atas 5 Ohm), arus petir tidak akan terserap maksimal ke dalam bumi, melainkan berbalik arah (back-flash) ke struktur candi.
Solusi Standar Konservasi yang Seharusnya Diterapkan
Untuk melindungi situs sekelas Candi Banyunibo, sistem proteksi petir seharusnya dirancang dengan pendekatan khusus:
Sistem Tiang Mandiri: Menempatkan tiang penangkal petir independen di sekitar luar area struktur candi, sehingga jika terjadi sambaran, energi petir sama sekali tidak melewati tubuh bangunan candi.
Klem Non-Invasif: Jika terpaksa menempel pada dinding candi, pemasangan klem tidak boleh mengebor batu. Klem harus memanfaatkan celah antar-batu (nat) dengan sistem jepit non-destruktif yang dilapisi isolator timbal atau karet khusus.
Sudut Kelengkungan Lebar: Setiap belokan kabel konduktor harus dibuat melengkung halus dengan radius kelengkungan yang lebar (minimal radius 20 cm) untuk menjamin kelancaran arus AC frekuensi tinggi menuju tanah tanpa risiko side-flashing.
cc: @JogjaUpdate@fadlizon
Jadi teringat dulu pernah kuliah di Jurusan Elektro sebelum pindah ke Jurusan Arkeologi dan pengalaman mendalami arkeologi bawah air, sangat membantu menjalin komunikasi dengan teman-teman teknik.
Tidak ada ilmu yang sia-sia jika dipelajari dengan baik.
Saya senang menjadi bagian tim penelitian ROV (Remotely Operated Vehicle) untuk membantu meneliti objek arkeologi bawah air yang dikembangkan oleh teman-teman Teknik Elektro dan Geodesi ITB.
7 bilah demung slendro milik FIB UGM dicuri Pria Solo (warga Solo), pria tersebut juga melakukan pencurian gamelan di ISI Jogja dan ISI Surakarta.
Gamelan yang dicurinya itu kemudian dijual ke tukang rosok.
7 bilah demung slendro seberat 18 kg dijual oleh pelaku seharga 1.8 juta di tempat rosok.
Kementerian Kebudayaan buka link survey pandangan masyarakat tentang rencana pemasangan cattra:
Laman utama: https://t.co/iVQvlbuTK7
Survei dalam Indonesia: https://t.co/IXuzwV4LEm
Survei dalam bahasa Inggris: https://t.co/87zk8mewmG Sila bantu isi & teruskan ya. Thanks much
Muara Jambi in Sumatra deserves to be on every traveler’s shortlist. Already in c700 it was a major Buddhist learning centre.
On e-bike, zip along jungle paths between temples and orchards in this vast complex. And, you’re never far from small warungs with tasty local food.
Chattra Brobobudur dalam Jejak Arkeologi
Candi Borobudur adalah Candi Buddha terbesar di dunia yang berada di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah. Jadi secara administratif, Candi Borobudur tidak terletak di Provinsi D.I. Yogyakarta, namun Candi Borobudur lebih dekat jarak tempuhnya dari Kota Yogyakarta jika dibandingkan jaraknya dari Kota Semarang, Jawa Tengah.
From a materials science perspective, the pillar’s resistance is due to:
•Thermodynamically stable passive film (δ-FeOOH)
•Phosphorus-assisted passivation kinetics
•Heterogeneous microstructure aiding film adhesion
•Mild atmospheric exposure (no chloride-driven breakdown) #metallurgy