Penipu ngasi kita duit kecil.
Kasi tugas sederhana.
Setelah selesai, dibayar.
Ditransfer 50rb.
Ditransfer lagi 100rb.
Ditransfer lagi 200rb.
Kita tergiur.
Dikasi syarat, kalo mau lagi harus deposit dulu 5 juta.
Kita yakin karna duit 350rb beneran masuk ke rekening.
Sudah cuan.
Akhirnya dapet juga cara nyari duit segampang itu.
Udah ngitung potensi keuntungan.
Ga mikir lagi potensi ditipu.
Udah kebayang mau beli HP, motor, mobil, tanah, rumah, kapal pesiar, dll.
Gas, transfer aja 5 juta.
Eh, dapet tuh duit 6.500.000.
Udah cuan lagi 1.500.000.
Gila ini, LUAR BIASA.
Tapi 6.500.000-nya baru berupa angka.
Blom bisa ditarik.
Untuk bisa withdraw, harus masukin duit 10 juta.
Buat sistem rilis uang deposit sebelumnya.
Katanya gitu sebagai persyaratan.
Ya, gas lah.
Uang sudah didepan mata.
Tinggal selangkah lagi.
Masa iya dilewatkan begitu saja.
Akhirnya semakin dekat jadi milyarder.
Orang-orang yang dulu meremehkan ku, akan ku balas hinaan kalian semua.
Aku akan jadi jauh lebih kaya dari kalian.
HAHAHAHA.
Transfer duit 10 juta.
Selesai.
Dah ceritanya sampe di situ aja.
Duit Rp15.000.000 sudah pindah ke rekening sindikat.
Para penipu sudah cuan.
Mereka dapet cara nyari duit yang segampang itu.
Potensi keuntungan maksimal.
Modal Rp350.000.
Udah bisa beli HP, motor, mobil, tanah, rumah, kapal pesiar, dll.
Kisah berakhir bahagia.
Untuk para penipu ulung.
Makes sense ya.
💚 TW // PHYSICAL ABUSE
CW // TIKTOK
di negeri ini kerja taruhannya kalo gak nyawa atau pengorbanan yg lainnya
sumpah baca ini langsung sedih banget sebagai perempuan 😢💔
Lagi rame kasus kejahatan seksual serius di salah satu RS Bandung.
> Ada pasien dirawat di ICU lagi persiapan operasi butuh darah.
> Pelaku (diduga residen ppds) nawarin periksa darah ke anak cewe si pasien yg nunggu
> Dibawa ke ruang sepi dan dibius
Serem banget wtf 💀💀💀
✅️ RESMI: TIMNAS INDONESIA LOLOS PIALA DUNIA U-17!!! 🇮🇩🥰
Indonesia dipastikan lolos setelah berhasil meraih 6 poin dengan sangat mengesankan dan masih menyisakan 1 laga fase grup.
Korea Selatan 0-1 Indonesia
Indonesia 4-1 Yaman
KELAS. 🇮🇩❤️
Ketika Negara Doxing Rakyatnya Sendiri
Saya masih ingat, data pribadiku seperti nama, alamat, nomor telepon, bahkan fotoku, ditelanjangi dan dilempar ke ranah digital oleh buzzer seperti daging segar bagi kawanan hyena, hanya karena esai kritis saya yang mengoreksi kebijakan rezim. Saya menjadi korban doxing, diperkosa privasinya oleh buzzer yang diduga berasal dari parpol, kepolisian, hingga rezim itu sendiri. Dan parahnya, saya bukan satu-satunya korban. Jurnalis, aktivis, dan rakyat biasa yang berani bersuara kini menghadapi nasib yang serupa. Diburu, diintimidasi, dan “dibunuh” secara mental oleh negara yang seharusnya melindungi. Tindakan itu bukan sekadar kejahatan personal, tetapi kejahatan sistemik yang dirancang untuk memperkosa martabat warga negara yang kritis.
Negara, yang seharusnya menjadi benteng keadilan bagi rakyat, kini berbalik menjadi algojo yang membiarkan, bahkan mendorong doxing sebagai senjata melawan suara-suara kritis.
Jürgen Habermas, dalam teori Demokrasi Deliberatif, menegaskan bahwa ruang publik yang bebas adalah napas demokrasi. Namun, ketika negara membiarkan doxing merajalela, ruang itu direnggut, digantikan oleh teror digital yang mematikan diskusi rasional. Investigasi Tempo pada 2024 mengungkapkan, ratusan kasus doxing terhadap jurnalis dan aktivis dalam dua tahun terakhir, banyak di antaranya ditelusuri ke akun-akun yang terkait dengan kekuatan politik tertentu. Sebuah bukti bahwa ini bukan kecelakaan, melainkan strategi.
Doxing yang dilakukan oleh rezim membuat kita semua bertanya, “Apa artinya hidup di negara yang memperkosa hak warganya sendiri?”. Bahkan, ketika TNI dan Polri, dua pilar yang seharusnya menjaga kedaulatan rakyat, malah dijadikan algojo oleh rezim untuk membungkam kritik. Saya sudah tidak lagi berbicara tentang demokrasi, tetapi saya berbicara tentang tirani yang menyamar dalam jubah konstitusi.
Sebuah Esai