Blunder F1 tahun ini cukup banyak. Regulasi 2026 memang salah satu faktornya, tapi F1 memperburuk keadaan dengan cara mereka menangani sentimen negatif publik.
- Sensor dan hide komentar.
- Sensor superclip.
- Tidak posting apa pun soal kiprah Verstappen di Nurbugring 24 Jam. Malah memposting sesuatu yang beri indikasi kalau F1 tidak ingin kalah pamor.
Poin ketiga ini cukup menarik. Menurut kami ini bukan cuma faktor Verstappen sebagai 4x juara dunia yang sempatkan diri tampil di event legendaris semacam Nurburgring 24 Jam. Sebelumnya ada Fernando Alonso di Indy500 & Le Mans 24 Jam, mereka tetap posting.
Tapi ada hubungannya dengan sentimen negatif F1 akhir-akhir ini. Mereka tidak ingin berikan ruang kepada publik untuk memberi kritikan soal apa yang terjadi di F1 sekarang.
Namun eksekusinya blunder.
Malah posting sesuatu yang seolah-olah menggambarkan jika F1 begitu iri dengan popularitas balap ketahanan yang menanjak dalam tiga tahun terakhir dengan sajian balapan yang diklaim "lebih berkualitas".
F1 tahu kalau popularitas mereka menurun karena regulasi 2026 yang banjir kritikan dan faktor libur sebulan serta jarak balapan yang panjang di bulan Mei. Segala cara dilakukan untuk menaikan kembali hype, namun eksekusinya salah.
Justru lucu jika F1 sampai merasa iri dan tersaingi dengan ramainya penonton Nurburgring 24 Jam yang diadakan setahun sekali, dan itu pun jumlahnya masih kalah dari total penonton dalam satu race F1.
Nurburgring 24 Jam menunjukan kepada kita semua soal apa yang hilang dari Formula 1: tidak semuanya harus melulu soal komersial atau cuan.
Fans merindukan suasana balapan yang murni. Saling adu kecepatan. Saling adu nyali. Saling adu skill ditemani suara mesin yang merdu.
Tontonan seperti ini yang kita rindukan dan jadi alasan kenapa balap ketahanan seperti Le Mans, Nurbugring, Daytona, atau bahkan Bathurst, selalu dinantikan & selalu ramai setiap tahunnya.
Kami masih menyukai dan mencintai Formula 1. Mau bagaimanapun F1 punya value tersendiri yang menjadikannya sebagai olahraga yang sangat populer dengan perkembangan pesat.
Tapi dari kenikmatan menonton balapan.
Balap 24 jam di Nordschleife jauh lebih nikmat ditonton daripada 2 jam di F1.
buat yang bingung atau penasaran gimana sih sebenernya rasanya jadi WNI, liat aja cuplikan video lomba cerdas cermat kemaren
juri adalah gambaran nyata kebanyakan pejabat kita, MC sebagai buzzer pemerintah, siswa SMAN 1 Sambas sebagai rakyat yang nggiatheli memanfaatkan kesusahan sesama rakyat demi keuntungan pribadi, siswa SMAN 1 Sanggau sebagai WNI yang cari aman dan adek² peserta lomba terutama dari SMAN 1 Pontianak adalah rakyat dengan status WNI yang terdzolimi
Disitu terlihat jelas kalo pejabat kita yang salah namun secara terang²an nyalahin org lain karena mereka ngerasa dirinya berkuasa, dan mereka semakin besar kepala karena bisa berkelit didukung oleh para buzzer yang mau gimanapun salahnya si pejabat ini mereka tetep dukung karena udah dibayar sama si pejabat
terus rakyatnya gimana? Yaa cuman bisa nerima dengan terpaksa karena ketika mereka protes pun malah di gaslighting & diserang sama buzzer peliharaan pemerintah ini
sementara sesama rakyat lain pun sebagian ada yg diam takut dijadiin sasaran, namun juga ada yang bukannya bantu sesama rakyat malah manfaatin moment demi keuntungan pribadi, hahahaha
miris...