Ini tuh eps 3 mau mainstreaming marginal issue, ky isu difabel, klo yg dipromote isu wanita terus kapan dong adilnya?
Well, bukan mau menafikkan masifnya KS yg real, yg emang mostly pelakunya guru. The eps teach us untuk gak nelan mentah2 & kebawa emosi gegara konten viral.
Ada satu peristiwa di real life yang mirip dengan kejadian di episode 3 drama Teach You a Lesson.
Seorang guru SMA putri di Busan dikeluarkan dari kegiatan mengajar, gagal menikah, dan menderita tekanan mental setelah menerima tuduhan palsu atas pelecehan seksual pada siswinya.
Pada 13 Oktober 2025, program JTBC "Case Manager" mengungkap kasus tuduhan palsu yang dialami seorang guru SMA putri di Busan.
Guru yang disebut sebagai Guru A telah mengajar selama 5 tahun. Ia dikenal sebagai sosok yang ramah, perhatian, dan lembut sehingga cukup populer di sekolah. Ia diangkat menjadi seorang guru etika.
Seorang siswi kelas 1 bernama B selalu mengikuti pelajarannya dengan sungguh-sungguh. Pada semester pertama tahun 2024, Siswi B pernah meminta nomor kontak pribadi Guru A dengan alasan ingin bertanya mengenai pelajaran. Karena menganggap Siswi B sebagai murid yang baik, A dengan senang hati memberikan nomor teleponnya. Namun sejak saat itu, Siswi B mulai sering menghubunginya untuk urusan pribadi.
Siswi B mengirim pesan kepada Guru A bahwa dirinya pernah menjadi korban bullying di masa lalu dan sering mengatakan bahwa ia "ingin mati". Tak hanya itu, ia juga meminta Guru A datang menemuinya pada akhir pekan untuk bertemu secara pribadi. Bahkan minta diantar untuk mengikuti lomba seni.
Lama-kelamaan, orang-orang di sekitar mulai mengatakan bahwa Siswi B tampaknya menyukai Guru A. Karena itu, Guru A memutuskan untuk menjaga jarak dengan siswi tersebut.
Guru A mengatakan bahwa sebaiknya jangan terlalu sering bertemu. Lagipula Siswi B sudah terlihat ceria dan mulai memiliki banyak teman. Guru A juga menegaskan bahwa ia ramah karena profesionalisme sebagai guru. Di akhir pekan mereka hanya orang asing yang memiliki kehidupan sendiri.
Setelah seminggu berusaha memberi batasan, Guru A justru dilaporkan oleh Siswi B dan seorang temannya atas tuduhan pelecehan seksual. Dalam pemeriksaan polisi, Siswi B dan temannya mengaku saat konseling, Guru A memijat betisnya, mengelus tangan, memegang lengan, serta menyentuh dada.
Akibat kejadian itu, Guru A dikeluarkan dari kegiatan mengajar. Namun pada bulan Maret 2025, kejaksaan memutuskan untuk menghentikan kasus mempertimbangkan beberapa hal, antara lain:
• Kesaksian Siswi B dan temannya tidak konsisten,
• Rekaman CCTV di sekolah menunjukkan pada saat kejadian, Siswi B terlihat tersenyum dan menyampaikan rasa hormat,
• Sehari setelah kejadian, Siswi B menulis surat tangan kepada Guru A bahwa ia ingin menjadi guru sepertinya.
Setelah dinyatakan tidak bersalah, Guru A memutuskan kembali ke sekolah untuk memulihkan nama baiknya. Namun, respons pihak sekolah justru sangat dingin. Pihak sekolah terus mendorongnya untuk pindah agar tidak menimbulkan masalah. Ketika Guru A ingin mengajukan sidang Komite Perlindungan Hak Guru, pihak sekolah justru berkata bahwa Guru A jadi orang yang bakal menghancurkan hidup para siswa.
Hingga semester kedua tahun 2025, Guru A masih sepenuhnya dikeluarkan dari jadwal kegiatan mengajar dan dikucilkan di lingkungan sekolah. Bila tidak mau pindah, ia diancam akan dikeluarkan oleh kepala sekolah dengan wewenang jabatannya.
Sementara itu, kedua siswi yang memfitnahnya masih menjalani kehidupan sekolah dengan normal. Mereka bahkan tidak pernah meminta maaf. Karena itu, Guru A akhirnya melaporkan keduanya atas dugaan laporan palsu.
Guru A juga menceritakan dampak tuduhan palsu tersebut dalam hidupnya. Setelah mendengar kabar tersebut, ibunya jatuh pingsan. Ia juga gagal menikah dengan tunangannya. Guru A mengalami guncangan mental yang berat hingga didiagnosa menderita gangguan stres dan depresi.
Ia menambahkan, "Saya menjadi guru karena menyukai anak-anak. Namun sekarang saya sudah kehilangan keberanian dan kepercayaan diri untuk berdiri di depan para murid. Saya bahkan sedang mempertimbangkan untuk meninggalkan profesi guru."
-------------------
Based on article by Newsis (Reporter Choi Hyunho)
Indonesian summary by jeongjeonginuna
Dang! yang aku protes itu SoP & petugas yang nggak ramah disabilitas, gak manusiawi, bukan cuma masalah gedungnya. apa nyuruh nyebrang jalan raya dengan lawan mobil segitu banyak, trotoar juga bahaya. Yakin nyaranin kayak gitu pengguna kursi roda? Kapok wes @BNICustomerCare
2025 mau tes TOEFL, @BNI terdekat dari @fisipolugm_ ada di samping balairung. Saya meluncur pakai kursi roda. Sepi kantornya & nggak ada ramp tapi tellernya nggak mau keluar dan nerima uang saya. Mana panas banget nunggu 15 menit lebih, diliatin orang pula. (1)
Sewaktu nge-tag BNI, status saya akhirnya direspon oleh BNI lewat akun resminya.
BNI bilang mereka "juga pihak yang terdampak" dalam kasus Rp28 miliar dana umat Paroki Aek Nabara. Secara teknis benar. Tapi kan ada jurang besar antara "terdampak" dan "bertanggung jawab".
Apakah mereka sedang coba menyamarkan dua kata itu jadi satu?
BNI memang keluar Rp7 miliar talangan pada 26 Maret 2026. Reputasi mereka tergerus di mana-mana (lihat saja di X). OJK dan BI sedang mengawasi ketat, dan bisa saja ada sanksi kalau terbukti lalai awasi internal.
Secara bisnis, ya, mereka rugi.
Tapi "terdampak" bukan sinonim "korban", bukan?
Benarkah klaim BNI, yaitu "ada oknum di luar sistem resmi"?
1. Andi Hakim Febriansyah bukan tukang sapu. Dia Kepala Kantor Kas BNI Unit Aek Nabara resmi.
2. Selama 7 tahun (2019 sampai 2026), dia memakai fasilitas resmi BNI sepenuhnya: layanan pick-up service untuk jemput uang, bilyet deposito BNI, rekening koran BNI, seragam, kartu identitas pegawai.
3. Suster Natalia dan pengurus Credit Union tidak menyerahkan uang ke "Andi pribadi". Mereka menyerahkannya ke BNI sebagai institusi, lewat mekanisme yang BNI sendiri sediakan.
4. Semua data transaksi tercatat di sistem BNI. Tapi yang lucu, BNI justru meminta CU menyediakan "bukti pendukung" berulang kali. Padahal catatannya ada di server mereka sendiri.
Kalau seorang pegawai bank memakai jabatan, fasilitas, dan dokumen resmi bank untuk menipu 1.900 umat selama 7 tahun tanpa terdeteksi audit internal, itu bukan "oknum di luar sistem".
Itu namanya kegagalan sistem!
Secara hukum, ada prinsip tanggung gugat pengganti (Grok bilang, istilah ini disebut: vicarious liability). Bank wajib bertanggung jawab atas tindakan pegawainya yang dilakukan dalam kapasitas jabatan.
Ini bukan opini saya, Gais. Ini ada di UU No. 10/1998 tentang Perbankan dan POJK tentang perlindungan nasabah.
Di satu sisi, BNI adalah Bank BUMN, dengan aset triliunan rupiah, punya tim hukum dan tim humas korporat yang sibuk membangun narasi "kami juga korban".
Di sisi lain, ada 1.900 umat Paroki Aek Nabara. Mayoritas dari mereka adalah petani dan buruh kecil. Mereka menabung selama lebih dari 40 tahun, rupiah demi rupiah, untuk biaya sekolah anak, dan biaya sakit.
Rencana masa depan yang sederhana, bukan?
Jawaban BNI sah secara korporat. Strategi "oknum dan tunggu dokumen" itu klasik. Tapi dari sisi keadilan, ini sangat miskin empati. Uang itu tabungan umat kecil yang dikumpulkan selama 40 tahun, bukan duit korporasi yang bisa dihitung ulang di pembukuan kuartal berikutnya.
Kalau setiap kali ada pegawai berulah, jawaban resmi bank selalu "itu oknum, bukan kami", lalu kepada siapa nasabah harus percaya?
Besok saya mau menutup rekening saya. Kalau masih antre, ya, saya tarik semua uang saya dari sana.
Kalian sendiri gimana baca sikap BNI sejauh ini?
petugas di cafe Wondr FEB terus bantu bikin komplain resmi dan malamnya ada email langsung dari Manager branch. Isinya ternyata bagong banget dibilang kalau emang di balairung situ nggak akses, aku malah diminta ke BNI jl. Persatuan atau yang SPS biar akses. (3)
tetapi perubahan relasi antara penguasa dan yang dikuasai. Relasi tersebut bergeser dari kontrak sosial yang berbasis hukum, menuju relasi yang berbasis pada persepsi kekuatan dan dominasi. (2)
Ketika seorang presiden meragukan fakta lembaganya sendiri, menantang warga untuk turun ke jalan di tengah kriminalisasi aktivis, atau membandingkan luka fisik aktivis dengan "luka politik" dirinya, yang terjadi bukan sekadar misspeak, (1)
udahlah NU bikin partai aja 2029 nanti, kembali seperti Pemilu 1955 jadi tiga besar partai
berkoalisi sana-sini ujungnya cuma ditunggangi dan dikhianati
dihina-hina dan difitnah
bahkan kalah lobby sama yang lebih kecil
NU itu besar, kuasailah demokrasi, kuasailah politik
Tahun ini Perpusnas terbitkan 100 buku alih aksara, alih bahasa, saduran, dan kajian Naskah Kuno Nusantara.
Selain itu untuk memperingati 200 Tahun Perang Jawa juga telah terbit 25 buku bacaan anak dan komik bertema Diponegoro.
Sila didownload bebas di https://t.co/360SdTEWxG
Dekonstruksi narasi yang menarik. Your lens is Practical Economics & Familial Duty. it's technically logical from a purely utilitarian standpoint, yet it dismisses the emotional & spiritual economy that the film itself argues is more valuable than all the diamonds in the world.
Growing up is realising that in Titanic, Rose decides to throw away a $250 million pendant in memory of an unemployed man with whom she had sex one time.
Meanwhile, her husband worked hard all his life to maintain her and give her and her children a life of luxury, and he would surely have also appreciated the inheritance and lived peacefully.
She could have also given the pendant to her granddaughter, who took care of her her whole life.
The real villain of the movie was Rose.
Please watch the trailer for The Voice of Hind Rajab, which was nominated today for a Golden Globe and which opens in U.K. & Irish cinemas from Jan 16th 2026. It is powerful, important & heartbreaking. Congrats to the team, inc director Kaouther Ben Hania, producer @iamodessarae@AltitudeFilms@alphonsedoisnel@aliboombayoo & everyone who supported this film.
The “male loneliness epidemic” is largely because men haven’t learned how to behave.
Women are fed up.
I had an ex who didn’t “believe” my food allergies were severe.
He made dinner one night and snuck spices into the food to trap me in a “gotcha”
@QueenSilence_ "Di dunia ini banyak manusia bangsat yg mereka itu akan menjadikan kita target, jika mereka menganggap diri kita lemah & tdk bisa memberikan konsekuensi jadi caranya adl dg membuat fisik kuat agar mental kita kuat."
Saya difabel. Dari perspektif saya beliau tone deaf. #NotJustMe
Oke Pak Felix:
Mari kita alihkan semua anggaran untuk konseling kampus dan program inklusi menjadi voucher keanggotaan gym. Mari kita ukur kesehatan jiwa bangsa ini dengan lingkar lengan dan massa otot, bukan dengan indeks empati dan belas kasih.
Wahai Orangtua ..⚘️
Jan biarkan anak²mu sendirian dan kesepian ..
Temani mereka disetiap fase hidupnya, kehadiran orgtua modal utama mereka membangun kepercayaan diri dan karakter diri yg kuat, bukan dari lingkungan, sekolah/kampus, guru/dosen ..
RIP Timothy 🥀
'Disabilitas anugerah' = alat negara cuci tangan! Riset ini bukti: sistem ableist dikukuhkan lewat dunia akademik. Kita yg hidup sbg disabilitas tahu ini bukan anugerah, tapi politik pengabaian! #PoliticsOfPity#DisabilityRights#HukumKeluarga
@KemensosRI Anda mengorbankan kebutuhan siswa difabel yg sedang bersekolah demi siswa2 fiktif yg belum ada? Menggusur SLB agar program presiden terlihat sukses? 🤮
Pembongkaran SLBN A Pajajaran di kompleks Wyata Guna Kota Bandung, Jumat, 16 Mei 2025. Rencananya pemerintah, melalui Kementerian Sosial, berencana mendirikan Sekolah Rakyat di sini.
#SLBNAPajajaran#WyataGuna
@rickydotalfan Tepatnya Selatan jomplangan sepur -perempatan dekat stasiun jombang, timur jalan dekat musola sebelum toko Sinar Damai.
https://t.co/v4EXhkLe73