Claude Code creator Boris Cherny ( @bcherny )
"For people who aren’t building agentic products but are using Claude Code, every 6 months, delete your claude.md file, delete your skills, and delete your hooks. Then see what the model does. It might surprise you.
For Opus 5, we strongly recommend trying to delete all of these things because the model may no longer need the extensive instructions that were necessary for previous models."
- at Y Combinator Startup School 2026.
----
From "Y Combinator" YouTube channel, (full video link in comment)
Jawaban buat pertanyaan zee sebenernya udah jelas, namanya Telkomsel. Operator paling gede, paling kaya, paling banyak pelanggan di negeri ini, yang paling pertama maju dan paling lantang soal masa aktif 28 hari, lalu dengan entengnya bilang ini semua demi kebiasaan pelanggan. Seakan-akan jutaan orang Indonesia ngantri minta jatah internetnya dipotong dua hari tiap bulan.
Indosat ikut nimbrung, XL katanya ikut di sebagian paket walau katanya mayoritas paketnya masih 30 hari. Tapi yang ngebuka pintunya Telkomsel, dan mereka ngebungkusnya pakai kata manis soal customer behaviour. Padahal lo ga butuh gelar ekonomi buat ngerti, ga ada satu pun pelanggan yang behaviour-nya pengen bayar lebih sering buat barang yang sama.
Mainnya halus, makanya jarang ada yang ngeh. Setahun ada 365 hari. Masa aktif 30 hari berarti lo beli 12 kali. Begitu jadi 28 hari, lo dipaksa beli 13 kali buat nutup tahun yang sama. Satu belanja ekstra, tiap tahun, dikali puluhan juta pelanggan. Simulasi IDN Times nyebut selisihnya bisa sekitar Rp100 ribu per orang per tahun, walau angkanya tergantung ke paket dan pola pakai, jadi cek lagi sesuai kasus lo. Kecil di kantong lo, tapi jadi gunung everest di laporan keuangan mereka.
Belum kelar di situ. Sisa kuota yang udah lo bayar bakal hangus begitu masa aktif lewat. Operator ngotot istilah hangus itu ga tepat, katanya yang lo beli cuma hak akses jaringan buat periode tertentu, dianalogiin kayak obat yang ada tanggal kadaluarsa. Tapi pas PLN diseret ke sidang, mereka jelasin token listrik ga pernah hangus, karena yang ngurangin saldo itu pemakaian, bukan jam dinding. Pertanyaannya, kenapa listrik bisa, internet enggak?
Soal hukum gw ga mau lebay, sampe detik ini belum ada putusan yang nyatain operator bersalah, karena perkaranya emang masih jalan. Yang nggugat bukan orang gede, cuman pengemudi ojol Didi Supandi dan kawan-kawan, plus sekelompok mahasiswa hukum, yang nilai kuota dihapus sepihak tanpa kompensasi adil itu nabrak hak atas harta benda di UUD 1945. Dan lo tau siapa yang pasang badan belain operator? Pemerintah sendiri, lewat Komdigi, yang bilang rollover atau refund bakal nambah beban biaya.
Jalannya berdarah-darah. Satu gugatan emang udah dipentalin MK pertengahan Mei 2026, tapi gugurnya gara-gara berkasnya dianggap kabur, bukan karena isunya kalah. Ibarat lamaran ditolak gara-gara formulirnya nggak lengkap, bukan gara-gara orangnya nggak layak, hakim bahkan belum sempet nimbang inti perkaranya. Tiga gugatan lain masih bertahan dan lagi diperiksa isinya. Di sidang, ada hakim yang nanya tajem ke operator, "kok kuota belum habis tapi udah hilang". Dari luar, YLKI ikut ndorong. Jadi tekanannya datang dari dua arah sekaligus.
Tapi apakah bisa menang?
Di Afrika Selatan, rakyatnya ngeluh soal hal yang sama persis bertahun-tahun, kalah terus, sampe akhirnya regulatornya nyerah dan maksa operator ngerollover otomatis kuota yang belum kepake mulai 2027. Bedanya, di sana yang ngalah duluan itu lembaga pengawasnya yang bikin aturan baru, bukan hakim lewat pengadilan. Di kita malah sebaliknya, lagi diperjuangkan lewat gugatan ke MK. Beda pintu masuk, jadi belum tentu hasilnya bakal sama.
Sejarah udah berkali-kali ngebuktiin, raksasa kayak gini tunduk bukan gara-gara digoyang orang gede. Tapi karena orang-orang biasa yang capek haknya dirampok diam-diam, lalu mutusin buat ga diem. Pertanyaannya tinggal satu, dia bakal menang, atau jadi tumbal yang namanya kita lupain begitu palu diketok?
@AnthropicAI@claudeai@darioamodei — I just upgraded to the Max 20x plan ($200/mo) to use Claude Code for work, but I’m locked out of the features I paid for.
My billing dashboard says "Paid," but my account status says "Free." Email support is just giving me automated AI replies. Can someone from the team please force a manual sync?
Invoice/Receipt Number: RUWTWMMF-0004 / 264134244906
@AnthropicAI@claudeai@darioamodei — I just upgraded to the Max 20x plan ($200/mo) to use Claude Code for work, but I’m locked out of the features I paid for.
My billing dashboard says "Paid," but my account status says "Free." Email support is just giving me automated AI replies. Can someone from the team please force a manual sync?
Invoice/Receipt Number: RUWTWMMF-0004 / 264134244906
pak @prabowo 🙏
mewakili kami semua anak-anak teknologi 🇮🇩
ibam adalah representasi terbaik dari kami
ikhlas mengabdi untuk negeri
melepaskan tawaran milyaran gaji dari luar negeri
jika tiada keadilan & betapa kejamnya ia didholimi
niscaya tiada lagi dari kami mau mengabdi
statement “jangan nikah atau punya anak kalau miskin” itu classist dan dehumanizing. kekhawatiran dan standar pribadi lo gak seharusnya dipaksakan ke orang lain, apalagi dalam hal yang halal. definisi “mampu” juga beda-beda, gak bisa diseragamkan dan gak ada titik akhirnya, rezeki juga gak selalu stabil.
kebayang ada keluarga sederhana bonceng tiga naik motor, main ke alun-alun, makan batagor di rumput sambil ketawa-tawa. lalu anaknya mulai besar dan baca kalimat “orang tuamu seharusnya tidak punya anak karena miskin” atau “bapak lo seharusnya gak nikahin ibu lo” di internet. selama ini dia punya prasangka baik dan kenangan hangat, tapi beberapa kalimat bisa meruntuhkan itu semua, bahkan mengubah cara dia memandang orang tuanya sendiri. hati orang tua mana yang gak hancur, seakan yang dihitung cuman uang, bukan cinta, usaha, dan pengorbanan mereka selama ini. yang gue percaya, any sane parent would want the best for their child, life also doesnt always go according to human plans, there are things beyond our control that cant be reduced to rigid standards.
semua ini bukan berarti kita menolak ikhtiar perencanaan yah, tapi menyederhanakan nilai manusia hanya dari finansial itu gak adil buat buat gue. so please, maybe we can be more careful with our words, cobalah lebih berempati. di balik setiap keluarga, pasti ada usaha, cinta, ceritanya masing-masing yang gak keliatan buat lo, jangan lah direduksi jadi duit, duit, duit
Bersama most wanted people on X mas @ainunnajib semoga hapenya lagi gak disita istrinya ya mas 🤣
Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari pertemuan dengan Mas Ainun.
Berasal dari Gresik, Jawa Timur. Anak kiai kampung, alumnus Pondok Pesantren Qomaruddin. Ibunya guru SD. Dari keluarga yang concern dengan pendidikan. Keluarganya sangat anti rokok walaupun berasal dari NU.
Pendidikan awal di Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyah. Dari sana, dia masuk SMAN 5 Surabaya, mewakili Indonesia di berbagai macam Olimpiade Matematika. 2002 ke Glasgow, Skotlandia/UK. 2003 ke Asia Pacific Mathematical Olympiad (APMO) Bronze Medal.
Beasiswa ke Nanyang Technological University (NTU) Singapura, jurusan Computer Engineering. Setelah lulus, berkarir lebih dari dua dekade di Singapura. Pernah menjabat Head of Analytics, Platform and Regional Business di Grab selama 6 tahun. Sekarang memegang posisi Global Head of Data Platform di Dyson.
Yang bikin saya salut: paspor tetap Indonesia. Kecintaan pada daerah, budaya, dan cara hidupnya tidak berubah. Main ke kondo beliau, kayak jadi pak RT disana, kenal semua tetangga 🤣 Pake peci kemana-mana sebagai identitasnya.
Dari pesantren di Gresik sampai memimpin data platform di perusahaan global, dia tetap orang Indonesia.
Kata beliau, di tengah dunia yang serba canggih, di era ledakan AI dan teknologi yang bergerak lebih cepat dari kita bisa bayangkan, satu hal yang perlu kita ingat, yang membatasi diri kita adalah diri kita sendiri.
Set yourself unlimited. Try new things. Don’t be afraid to fail.
Beyond the winners of our "Built with Opus 4.6 Claude Code Hackathon," there were so many amazing projects that deserve a shoutout.
Today I want to highlight Pasal by Ilham Putra. 280 million Indonesians can't easily search their own laws. Pasal fixes that.
Kmaren terima kabar resmi Pak @NataliusPigai2 membatalkan kehadiran di @KompasTV. Apa alasan? Versinya banyak yg nyampe ke saya. Hy mau bilang, sbg pejabat publik hrs jaga mulut. Anda bukan kitab suci yg pasti benar dan butuh tafsir untuk dimengerti. Case closed! Thanks. Tabik
Alhamdulillah Muhammadiyah sudah secara resmi mengakui bahwa berpuasa mulai 18 Feb itu MENDAHULUI sebelum hilal wujud di manapun di muka bumi, dalam hal ini di Alaska 🇺🇸
Dan menyatakan “berpuasalah 18 Feb karena hilal AKAN terlihat siangnya”
Jadi jelas ya kalau berubah drastis
kalau sebelumnya Muhammadiyah kadang-kadang lebih cepat puasa/lebaran dengan argumen:
Muhammadiyah dulu:
“berpuasalah karena hilal SUDAH wujud (>0⁰ pada maghrib), meski BELUM kelihatan”
(hilal musti kelihatan adalah prinsip mayoritas umat Islam dunia mengikuti hadits Rasulullah SAW berpuasalah karena melihat hilal — yang juga diikuti oleh Saudi, Salafi/Wahabi dan NU)
kini berubah drastis memaksimalkan perbedaan dengan mayoritas umat Islam Indonesia, Asia Tenggara bahkan dunia:
Muhammadiyah kini:
“berpuasalah karena hilal AKAN kelihatan di ujung dunia lain nanti siang, tarawihlah meskipun hilal BELUM wujud”
kalau sudah faham perubahan drastis ini, silahkan ditanyakan kepada hati masing-masing, apakah mengikuti perintah pimpinan ormas ini sesuai dengan perintah hadits Rasulullah SAW:
Rasulullah SAW bersabda:
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ يَوْمًا
“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya. Bila penglihatan kalian tertutup mendung maka sempurnakanlah bilangan (bulan Sya’ban) menjadi tiga puluh hari.”
kalau sudah faham betul, bahwa tarawih anda pada 17 Feb mendahului wujudul hilal (Indonesia Timur) dan puasa anda mendahului terlihatnya hilal di manapun di muka bumi, tapi tetap memutuskan untuk taqlid ikut perintah ormas, ya monggo mawon
🙏💚
@kodosunofficial Kita bisa dianggap sesat dari nenek moyang kalau mereka lihat Candi Jawi yang bagian dari kakinya bercorak Siwa dan di puncak ada stupa nya ( bercorak Buddha)
Konteksnya buat yg gak paham:
Jarak rumah ke toko roti 12 km.
Ada banyak pilihan makanan lain, gak perlu2 amat harus makan roti.
Hanya karena kita bisa bayar orang, gak berarti kita harus nyuruh dia ngerjain hal yg ga esensial.
Tiap keluarga punya standard etika yg beda2.
Banyak org yg gak dapat pengajaran yg cukup mengenai penghargaan terhadap orang lain. Kita diajarin mengenai prinsip transaksional lu jual gua beli, tapi seringkali dalam praktiknya meniadakan sama sekali prinsip saling menghargai. Bahkan kadang bilang terimakasih pun nggak.
Dulu jaman Gojek baru2 mulai dan banyak promo free ongkir, adik saya pesen 1 porsi roti kukus dari Tubagus dikirim ke Setiabudi Regensi. Ibu saya ngamuk menyerapah, mengajarkan bahwa ini gak etis, dan gak menghargai orang lain.
Hanya karena kita bisa, gak berarti itu etis.