APBN 2026: Berlari di ruang sempit.
Ratio pengeluaran di APBN 2026:
= 43% bunga + cicilan utang
= 8.5% BGN (program MBG)
= 5.9% TNI
= 4.6% Polri
Total = 62%
Sisanya 38% buat seabreg pos lainnya.
Beban bayar utang 43%!!
Why?
Sejak 2015, beban cicilan utang naik 13% per tahun.
Sementara pd periode sama, kenaikan prndapatan hanya 7% per tahun.
Akibatnya jelas : makin tahun beban anggaran buat bayar cicilan hutang makin ngeri.
Bayangkan ibarat gaji enter tiap bulan habis 43% hanya buat bayar cicilan utang.
Kenapa tiap tahun utangnya makin banyak?
Ya kembali lagi : belanja makin tinggi tapi tak diimbangi kenaikan pendapatan pajak dan cukai.
Ini alarm keras dan ciptakan lingkaran setan.
Karena defisit anggaran, maka tiap tahun harus utang baru.
Utang makin banyak.
Cicilan buat bayar hutang makin gila.
Lama lama anggaran negara habis hanya buat bayar cicilan hutang.
Scary.
Solusi :
- kurangi anggaran belanja yg super boros.
Misal anggaran belanja pegawai 500 triliun.
Anggaran mbg 300 triliun.
Kalau dari dua pos itu bisa dihemat 30% saja, akan ada sisa 240 triliun.
- solusi kedua adalah naikkan pendapatan pajak. Kata Prof Chatib, jumlah pegawai pajak KPP Madya amat kurang.
Chatib bilang kenaikan jumlah SDM pajak akan naikkan pendapatan pajak TANPA harus naikkan tarif pajak.
Chatib bilang banyak perusahaan madya dan besar tak bayar pajak dg akurat krn jumlah sdm pajak yg kejar big company amat kurang.
Dua solusi itu relatif mudah dilakukan.
Tujuannya agar turunkan beban bayar hutang dari 43% ke angka 30% saja.
Kalau beban cicilan bayar hutang makin tinggi, hampir pasti RI akan jatuh dlm middle income trap.
Negara RI bisa spt Brazil atau Argentina. Bukan spt China atau Vietnam.
Stuck.
Going nowhere.
As it is, Russia barely does any trade with the US and EU, nearly all of it is under sanctions. Yet, our economy is growing 3% now. We’ll take the advice of Lao Tzu and sit by the river, waiting for the body of the enemy to float by. The decaying corpse of the EU economy