Di suatu negara yang aneh
Negara tropis = buah mahal
Negara maritim = ikan mahal
Negara CPO = migor mahal
Negara SDA = listrik dan BBM mahal
Negara hukum = tunggu viral
Swasembada pangan = beras mahal
Bebas aktif = ikut BOP
Negara religius = korupsi nya banyak, sampai kitab Tuhannya dikorupsi
Semuanya karena sistem yang buruk dan political will yang tidak berpihak rakyat tapi berpihak cepat balik modal dan nambah kekayaan pribadi hehe
Pemikiran dangkal seperti ini merupakan bentuk dari apa yang disebut dengan kesadaran palsu: sebuah kondisi dimana kelas pekerja secara tidak sadar didorong untuk membela sistem yang merugikan kepentingan mereka sendiri, lalu menganggap beban dan ketimpangan sebagai sesuatu yang wajar, alami, atau sekadar bagian dari akal sehat.
Penguasa suka sekali dengan pola pikir begini karena sangat efektif mengaburkan persoalan utama.
Perhatian digeser dari dampak nyata kenaikan ongkir dan logistik terhadap harga barang pokok, lalu diarahkan ke sikap sok kuat seolah semua masih aman.
Saat harga BBM nonsubsidi naik, publik dijinakkan dengan cerita lama tentang subsidi yang tetap dijaga, padahal tekanan biaya merembes ke mana-mana dan yang paling duluan terpukul tetap kelas pekerja bawah serta menengah bawah.
Di saat yang sama, kelas menengah perlahan dibujuk supaya merasa lebih dekat ke atas daripada melihat ke bawah, supaya ketidakadilan terasa wajar sehingga kemarahan sosial menjadi kehilangan tenaga.
Ini tidak pernah cuma soal kopi mahal, tapi soal siapa yang terus dipaksa menanggung risiko setiap kali harga naik sementara narasi publik dipaksa untuk menormalkan itu semua.
Banyak orang kaya yang sengaja mendesain bisnisnya UMKM, padahal omzet, margin dan laba bisnisnya sudah GEDE (omzet di atas 4,8 milyar).
Biasanya taktiknya dengan pecah usahanya jadi banyak biar omzetnya keliatan kecil.
Atau dengan tukar faktur dengan bisnis kawannya, dimana banyak bon penjualannya mengatas namakan toko kawannya biar omzet keliatan kecil.
Kenapa tetap pengen keliatan sebagai UMKM?
Supaya bisa menggaji karyawannya di bawah UMR + dapat keringanan pajak + menghindar dari sebagian aturan UU Ketenagakerjaan.
Sering terjadi di bisnis FnB hehehe
Ini hal yang keliru, dan harus ditindak tegas.
Bayangin karyawan2 itu bisa jadi kerja di atas 12 jam, tapi malah penghasilannya di bawah UMR.
Bener, Budiman Sudjatmiko yang bilang. Tapi Budiman tetap milih Prabowo karena sebagai politikus tulen dia bisa kalkulasi kekuatan politik Prabowo saat itu. Nah, untuk mengakomodasi misi "besarnya", dia butuh dukungan dari orang yang akan memegang pemerintahan pasca Pemilu 2024.
@sibambaang Seberantem-berantemnya, kalau nggak ada pihak ke 3 pasti baikan laginya cepet
Pihak ke 3 belum tentu lawan jenis, bisa jadi sahabat atau keluarga kandung yang jadi tempat curhat. Masalah kecil bisa jadi besar.
Udah selesaiin aja berdua kalau suami istri ada masalah apapun
@andikamalreza Menurutku agak sulit berharap pada "aparat muda" untuk merevolusi sistem di Polri jika pangkatnya bintara seperti yg ada di video, mereka memiliki jenjang karir yg membutuhkan 15-20 Tahun lebih untuk menjadi perwira, itu saja blm tentu memiliki jabatan yg bisa mengubah kebijakan.
video cukup bikin ngakak.🤣
gorila jantan,
narik rambut turis cwek...
setelah dilepas, gorila jantan lgsg kena labrak gorila betina.
di indonesia,
knp malah si cewe y.
yg byk kena labrak?
harusnya kn marah ke suami yg gatel.
Laksamana Shahram Irani ditunjuk sebaga komandan Angkatan Laut IRGC menggantikan Alireza Tangsiri.
Berlatarbelakang dari suku Kurdi dan penganut Sunni, Shahram Irani menjadi ujung tombak dalam rangka menyambut rencana serangan darat dari kaum penjajah AS.
Laksamana Shahram Irani merupakan figur yang sejak awal mengancam untuk menargetkan kapal induk USS Abraham Lincoln, ancaman yang bukan sekedar gertak sambal karena beberapa waktu lalu tanpa gebrak meja dan tanpa bakar kemenyan Shahram Irani memerintahkan serangan rudalke arah kapal induk tersebut. Serangan yang membuat kapal induk USS Abraham Lincoln harus terbirit-birit meninggalkan perairan Iran.
Tentunya ini mimpi buruk bukan hanya bagi AS secara militer, namun juga pukulan telak bagi kaum wahbabi yang selama ini memainkan isu pertentangan antara Syi'ah dan Sunni.
Iran sekali lagi membuktikan kepada dunia bahwa persatuan Islam dan Sunni menjadi kekuatan yang akan menjungkalkan hegemoni AS di Timur Tengah.
Iran Emang Kurang Ajar...!!! 🤗
Dah tahu Trump itu tantruman, suka Marah, Emosian malah Iran barusan merilis video Animasi tentang eskalasi perang di selat Hormuz. 😡
NEVER FORGET, NEVER FORGIVE
- US and Israel attacked Iran's air bases
- Iran atracked their air bases in return
- US and Israel attacked Iran’s energy infra
- Iran attacked their energy infra in return
- Israel attacked Iran's school kids 💔
- But Iran didn't attack their school kids ❤️
Now tell me, who is EVIL?
SHOCKING 😳 🇮🇷
We just discovered that 80% of the population in Iran has Master's degrees and PhDs.
Their President is an excellent heart surgeon, and The Foreign Minister and almost all members of Parliament holds a PhD.
Irán also has a 94% literacy rate and one of the largest populations of women scientists in the world.
They are an ancient empire that innovated mathematics and science.
94% literacy rate? ❤️
A reported dialogue between Ali Larijani and Ayatollah Ali Khamenei before his martyrdom:
Ali Larijani, Secretary of Iran’s Supreme National Security Council, came to Ayatollah Ali Khamenei carrying a cold report — but his heart was not cold.
After a long silence he said:
“My leader… this time the threat is not just a passing message of pressure. A decision has been made. The enemy wants to kill you, even if the sky burns with missiles. We have prepared a fortified location, a place carefully secured and hidden from all eyes — a place bombs cannot easily reach and aircraft cannot strike. It is not hiding, my leader… but a temporary disappearance until the storm passes.”
The Leader remained silent for a moment, then slowly stood up — as if history itself had risen with him.
He approached and asked calmly:
“And when you came to me… what answer did you expect?”
Larijani replied after hesitation:
“I expected you would refuse. But my leader, the nation needs you, and the battle needs its commander.”
The Leader smiled — a smile carrying both sadness and wisdom.
“You are right in the calculations of states and the books of security. But let us speak for a moment in a language older than politics.
How can I ask a soldier to face death if his commander disappears?
How can I tell the people to stand firm… if I am the first to leave the field of danger?”
He paused, as if a door to Karbala had opened within his chest.
“We are the sons of a man named Hussein ibn Ali — the Imam who knew his fate and still walked toward it as one walks toward God’s promise. He did not disappear because his army was small — for he had a greater army in the heavens.”
Larijani replied:
“But my leader, history is not one page. We also have a Hidden Imam whose absence taught us that disappearance is sometimes wisdom, not fear.”
The Leader sighed and answered:
“The difference, Mr. Larijani, is that when the Imam disappeared, he had no army and no nation capable of defending the truth. But we… how can I disappear when I have a nation fighting? How can I vanish while my soldiers stand under fire?
When a leader disappears while he is alone, it may be wisdom.
But when a whole nation stands behind him, his disappearance may become a heavy question in the conscience of history.”
Larijani fell silent, unable to respond.
The Leader shook his hand, thanking him for his concern. After Larijani left, he gathered his family and told them about the proposal — a safe place they could go until the war ended.
They looked at him as children look at the meaning of dignity and simply said:
“We are wherever you are.”
And so the man remained where he was — not because he did not know the danger, but because he knew something deeper:
Some leaders, when they disappear from death, may also disappear from the memory of their nation.
Ketegaran Perempuan Iran
A [Jurnalis]: Siapa nama anakmu?
B [Perempuan Iran]: Hamin
A: Berapa usia anakmu?
B: Dua setengah tahun
A: Masih pakai popok ya?
B: Ya
A: Nyonya, jika air panas terputus, bagaimana kamu mau mengganti popok anakmu? [di Iran, hampir semua rumah ada keran air dingin & air panas]
B: Pak.. Allah itu Mahabesar! Kami sama sekali tidak memikirkan hal remeh kayak gini. Bagaimana dengan anak-anak Palestina yang bertahun-tahun mengalami situasi seperti ini? Apa beda anak kita dengan mereka? Saat ini kita berperang supaya besok mereka bisa hidup lebih nyaman; anak saya juga bisa memiliki masa depan yang lebih baik.
Jika kita hari ini masih memikirkan soal ada air panas atau tidak, ada popok atau tidak, dunia akan terus berlangsung seperti ini. Harus ada yang berdiri melawan mereka [para opresor/pelaku kezaliman di dunia, yaitu AS-Israel].
A: Nyonya, saya salut pada semangatmu!
sumber video: @iranscreenshot