Dewasa gini, ternyata lebih seru ngobrol sama stranger, pedagang keliling, tukang parkir, atau orang orang tua yang kebetulan lagi di tempat yang sama.
energi mereka terasa lebih tulus untuk menyadarkan bahwa banyak hal di dunia ini yang perlu kita syukuri.
Sejujurnya buatku pribadi, yg paling memperkaya wawasan itu ngobrol dgn banyak org.
Melampaui baca buku. Karena baca buku itu msh kayak ngobrol sama satu orang.
Dengan ngobrol kita bisa denger sesuatu yg sebelumnya ga pernah kepikiran samsek.
Human's mind is limitless indeed.
Bayangin jadi cewek ya,
Capek2 kuliah atau kerja, tiap bulan berhadapan sama mens yang sakit minta ampun, didiskriminasi krn cewek..
Ditambah lg ternyata di balik layar, temen2 cowoknya malah ngomongin fitur fisik si cewek.. Either dibilang jelek atau sexy, doang.
Kasian bgt sumpah.
Allah is soooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo kind love him so muchhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
Kalau kamu ingin hidup lebih tenang, hati lebih kuat, dan akhir yang indah, pesan-pesan ini jangan dilewatkan.
Al-Waqiah berpesan:
“Bacalah aku setiap malam, niscaya Allah akan melindungimu dari kemiskinan.”
Ayat Kursi berpesan:
“Bacalah aku setelah sholat, maka hanya kematian yang menjadi jarak antara kamu dan surga.”
Al-Ikhlas berpesan:
“Bacalah aku 10 kali setiap hari, agar Allah SWT membangunkan untukmu sebuah istana di surga.”
Sholat berpesan:
“Jagalah aku selama di dunia, maka kamu akan masuk surga tanpa hisab.”
Al-Mulk berpesan:
“Bacalah aku sebelum tidur, maka aku akan menemanimu di alam kubur yang gelap.”
Sholawat berpesan:
“Bacalah aku setiap hari, kelak kamu akan mendapatkan syafaat dari Rasulullah.”
Aku yakin, Aurelie Moeremans menuliskan memoirnya bkn hny utk pembelajaran bagi perempuan & publik, melainkan jg scr khusus utk dirinya sendiri. Ada byk perempuan yg mengalami kekerasan memulihkan dirinya dgn menulis. Ada byk kata yg tdk bisa terucap, tapi bisa dituliskan.
Apakah kamu ingin rizqi yang baik barokah? Afiyah? Nikah? Keturunan? Ketenangan? Kebahagiaan? Diampuni dosa? Selamat dari fitnah? Bahaya dan Adzab? Semua itu bisa kamu dapatkan dengan: MEMPERBANYAK ISTIGHFAR.”
“Aku Salah Kostum ke Pengajian”
“Aku datang ke pengajian itu dengan niat baik. Niat untuk belajar, untuk kembali. Tapi aku salah kostum. Aku tahu. Bajuku tak sepanjang yang mereka harapkan, rambutku belum tertutup rapi. Tapi bukankah niat harusnya lebih utama?
Aku duduk di sudut, menunduk. Sambil mendengarkan ceramah. Tapi mata-mata itu menatap tajam. Bisik-bisik mulai terdengar. Ada yang menjauhiku. Ada yang menyindir pelan, tapi cukup jelas untuk membuat dadaku sesak. Ustad itu malah melihat kepadaku, dan menghardik: “mbak, kamu mau ke pengajian apa ke mall, rambut kok kelihatan”. Lalu seorang ibu mendekat, menyuruhku keluar dengan alasan “tak sopan”.
Aku keluar dengan gemetar. Malu. Hancur. Aku lepaskan kerudung yg asal melilit di kepalaku. Aku ingin pulang, tapi langkahku malah membawaku ke bar kecil di pinggir jalan. Aku masuk. Bukan untuk mabuk—aku hanya ingin menenangkan hati yang gemetar.
Aku pesan minuman. Tapi karena tanganku masih bergetar, gelas itu tumpah.
Aku kaget. Panik. Tapi bartendernya hanya tersenyum tenang. “Gak apa-apa, Miss.” Ia beri kode ke pelayan. Meja dilap. Gelas diganti. Minuman baru disajikan. Tanpa ribut. Tanpa sindiran. Tanpa tatapan menghakimi.
Aku terdiam. Terpukul. Bukan karena kebaikan mereka, tapi karena aku tak menemukannya di tempat yang katanya rumah Tuhan.
Sejak itu, aku tak pernah ke masjid lagi.
Aku tahu, bar bukan tempat mencari cahaya. Tapi anehnya, di tempat yang mereka sebut penuh dosa, aku diperlakukan sebagai manusia. Tak dihakimi. Tak dipermalukan. Tak diusir.
Tapi dari semua tempat yang kulewati malam itu, hanya satu yang menolakku: tempat yang kucari untuk menemukan-Nya. Aku dinistakan justru di rumah-Nya. Tapi aku dilayani dan diperlakukan sebagai manusia justru di tempat yang katanya penuh maksiat.”
Renungan:
Dakwah itu merangkul, bukan memukul. Dakwah itu memanusiakan kembali kemanusiaan kita. Bukan malah menistakan, menghakimi dan menghardik. Ketika perbuatan kita malah membuat orang menjauh dari Islam, siapakah yang sebenarnya salah? Dan satu lagi, jangan putus asa dari rahmat Allah. Tetaplah kembali ke rumah-Nya 🙏🏻
Tabik,
Nadirsyah Hosen