Pemerintah Orde Baru pernah mau intervensi Muktamar NU. Namun Gus Dur dan para ulama saat itu melawan.
Bagi Gus Dur, NU harus berpihak pada kepentingan umat, bukan penguasa.
Jadi ceritanya bbrp hari lalu tiba2 ibu gw nelpon. Dalam kondisi agak panik, katanya ga sengaja ngeklik undangan digital yg formatnya APK.
Langsung lah gw minta forward APKnya ke gw. Lalu gw coba bongkar untuk caritau apa yg dilakukan sama app tersebut.
Saya bukan pakar, tapi saya lumayan mengikuti dinamika di Timur Tengah. Kita di Indonesia sebetulnya pernah mengalami fase ketika perbedaan Sunni-Syiah nyaris tidak menjadi isu. Pada dekade 2000-an, Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad justru dipuja sebagai simbol keberanian melawan hegemoni Barat dan Israel.
Alhamdulillah Muhammadiyah sudah secara resmi mengakui bahwa berpuasa mulai 18 Feb itu MENDAHULUI sebelum hilal wujud di manapun di muka bumi, dalam hal ini di Alaska 🇺🇸
Dan menyatakan “berpuasalah 18 Feb karena hilal AKAN terlihat siangnya”
Jadi jelas ya kalau berubah drastis
kalau sebelumnya Muhammadiyah kadang-kadang lebih cepat puasa/lebaran dengan argumen:
Muhammadiyah dulu:
“berpuasalah karena hilal SUDAH wujud (>0⁰ pada maghrib), meski BELUM kelihatan”
(hilal musti kelihatan adalah prinsip mayoritas umat Islam dunia mengikuti hadits Rasulullah SAW berpuasalah karena melihat hilal — yang juga diikuti oleh Saudi, Salafi/Wahabi dan NU)
kini berubah drastis memaksimalkan perbedaan dengan mayoritas umat Islam Indonesia, Asia Tenggara bahkan dunia:
Muhammadiyah kini:
“berpuasalah karena hilal AKAN kelihatan di ujung dunia lain nanti siang, tarawihlah meskipun hilal BELUM wujud”
kalau sudah faham perubahan drastis ini, silahkan ditanyakan kepada hati masing-masing, apakah mengikuti perintah pimpinan ormas ini sesuai dengan perintah hadits Rasulullah SAW:
Rasulullah SAW bersabda:
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ يَوْمًا
“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya. Bila penglihatan kalian tertutup mendung maka sempurnakanlah bilangan (bulan Sya’ban) menjadi tiga puluh hari.”
kalau sudah faham betul, bahwa tarawih anda pada 17 Feb mendahului wujudul hilal (Indonesia Timur) dan puasa anda mendahului terlihatnya hilal di manapun di muka bumi, tapi tetap memutuskan untuk taqlid ikut perintah ormas, ya monggo mawon
🙏💚
Kalo ga bangun rumah gw gabakal tau kalau:
1. Cat dinding rumah yg bagus : Jotun
2. Stop kontak /kelistrikan yg badak: Broco
3. Kran yang awet: Onda
4. Atap kanopi yang kuat: Alderon
5. Shower/sanitari bagus dan awet: Paloma
6. Kloset bagus dan affordable: Toto
7. Keramik lantai: Roman
8. Lampu terang hemat energy: Philips
Ada yg mau nambahin?
Menyederhanakan NU
Kisruh dan dinamika internal PBNU belakangan ini seperti membuka kembali lembaran lama tentang betapa rentannya jam’iyyah ketika struktur kepemimpinan melebar tanpa kejelasan garis komando. Semua pihak merasa memiliki legitimasi—Rais ‘Aam dipilih Muktamar, Ketua Umum juga dipilih Muktamar. Keduanya merasa memegang mandat langsung dari jama’ah, dan di titik inilah roda organisasi mulai tersendat, bahkan berhenti berbulan-bulan.
Dari sini, muncul satu kebutuhan mendesak: menyederhanakan NU.
1. Menata Ulang Struktur Puncak Jam’iyyah
Sudah saatnya NU mempertimbangkan model yang lebih ringkas dan jelas. Pada Muktamar mendatang, posisi yang dipilih langsung oleh Muktamar mungkin cukup Rais ‘Aam saja. Setelah itu, Rais ‘Aam terpilih diberi mandat untuk menunjuk Ketua Umum, bukan melalui kontestasi terbuka.
Model ini menyelesaikan dua persoalan sekaligus:
- Tidak ada lagi dualisme dua figur yang sama-sama merasa dipilih Muktamar;
- Konsolidasi Syuriyah dan Tanfidziyah menjadi lebih stabil karena Ketua Umum berangkat dari amanah Rais ‘Aam, bukan menjadi “kutub” tandingan.
NU berdiri di atas hikmah tatanan ulama; bukan pertempuran kuasa yang menggerus marwah jam’iyyah.