Dan dengan adanya mikail, Engkau lalai sedang menghamba padanya. Engkau lupa pada suara tangismu, jiwa jiwa sepimu serta rindu tanpa muaramu. Saat matamu terbuka hanya DIA yang hadir di sela-sela sendirimu, risaumu juga bias harapanmu. Sampai kau tak sadar lagi arti kecewa.
Kau salahkan siapa, jika sunyi ini benar-benar merdu, jika hanya keheningan yang mengajariku ramainya dunia. Membawa mimpi-mimpi pengantar lelap. Dan pada hitam yang mampu merangkul semua warna. Benarkah cahaya rembulan seterang air matamu di malam-malam sebelumnya?
#poem#puisi
Kesepian yang sudah-sudah.
Berjalan seperti sama-sama meluangkan hancur yang lantang dan seruan untuk menyerah. Apa karena luasnya samudera kehampaan ini?. Jika sebutir pasir yang merelakan dirinya pada laut begitu ikhlas, bagaimana aku untuk menjelmanya?.
#poem#puisipendek
Aku hanya seorang yang lemah dan kesepian, di sela-sela malam menjelang pagi hanya fajar yang menantiku, walau aku harus mengkhianatinya berjalan diantara bunga-bunga yang membawaku lelap. Seberapa panjang cerita ini berlanjut, hanya menambahpanjang kesunyian.
#poem#puisipendek
Untukmu yang pergi meneriakan kata-kata. Kepada siapa suara sumbang ini bermuara. Aku memang pendosa yang seringkali bermakna taklid pada agama. Apa yang sekarang kujalani adalah jalan penebusan dosa.
#poem#puisipendek
Dibalik eksistensi yang besar, ada pemaknaan atas perjuangan dibaliknya. Kurangi berpikir apa yang indah di depan sana, lakukan saja apa yang menurutmu bisa dilakukan. Gagal?. Pasti terjadi, bangkit dari kegagalan, lain arti. Keep spirit, keep fighting
@FafannL Bolehh sihh, cuma manusia kan posisinya ada ditengah". Kalo liat premis malas,sbg contoh ya, terlalu rajin gak baik, terlalu malas gak baik. Jadi tengah" aja
Aku rasa, semua akan mengeluhkan melakukan rutinitas yang sama tiap hari. Begitupula sekarang, pandemi menghilangkan pelbagai rutinitas yang dulu kita keluhkan, alih-alih berhenti mengeluhkan malah semakin keruh, kan?
Sepertinya, bersyukur menjadi jalan semua masalah.