Tragedi Pembantaian
Konfrontasi melawan Malaysia akhirnya menjadi cikal bakal kehancuran Kesultanan Bulungan, pada 1964 silam, karena dianggap berafiliasi dengan negeri jiran.
Petinggi tentara di Kalimantan menuduh seluruh keluarga Kesultanan Bulungan membantu berdirinya Malaysia yang saat itu mendapat dukungan dari Inggris. Tuduhan itu berakhir tragis. Sebagian besar anggota kerajaan dieksekusi.
Dia mengenang, "Brigadir Jenderal Suharyo memerintahkan anak buahnya membantai kami tanpa alasan yang jelas. Setidaknya 50 keluarga saya dieksekusi di Tarakan karena dianggap membantu Malaysia, termasuk keluarga raja tertua, Raja Muda."
Tentara bersama rakyat kemudian menjarah seluruh harta benda Kesultanan Bulungan berupa ratusan benda-benda antik buatan Tiongkok dan Eropa. Istana kerajaan yang berusia ratusan tahun di lahan seluas 6 hektare juga dibakar tanpa meninggalkan bekas sedikit pun.
"Bangunan sekarang ini dibangun Pemda Bulungan sesuai bentuk istana kesultanan yang dulu," ucap dia.
Datuk Abdul Hamid menjadi salah satu keluarga Kesultanan Bulungan yang tersisa. Sendirian, dia berjuang mempertahankan warisan sejarah Kesultanan Bulungan yang nilai kebesarannya sebenarnya tidak kalah jika disandingkan kerajaan lain di nusantara.
Sudah berulang kali Datuk Abdul Hamid menyurati para pemimpin pemerintah sejak zaman Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono, tapi tak ada tanggapan.
Keturunan raja terakhir itu hanya memohon agar pemerintah menjaga tapak sejarah Kesultanan Bulungan seperti halnya Kerajaam Mataram yang kini beralih jadi Yogyakarta.
Ia berharap agar pemerintah membangun kembali istana Kesultanan Bulungan, Lamin, hingga makam keluarga raja di kawasan Gunung Putih. Berdasarkan perhitungan dia, dana yang dibutuhkan mencapai Rp 3,3 miliar.
"Kami hanya ingin agar peninggalan sejarah Kesultanan Bulungan bisa terawat. Potensinya juga bisa menjadi obyek wisata sejarah di Kaltara di masa mendatang," pinta dia.
Hamid beranggapan pemerintah harus mampu menjaga warisan sejarah Kesultanan Bulungan ini yang kekuasaanya sudah dihibahkan pada negara sejak konvensi Malinau pada 66 tahun silam.
"Kalau memang tidak dihargai, lebih baik kami cabut kembali hak kekuasaan Kesultanan Bulungan dari Indonesia," dia menegaskan.
Sejarah Kesultanan Bulungan dimulai pada 1771 dengan raja pertama Sultan Amril Mukminin yang berasal dari Sulawesi. Wilayah kekuasaannya meliputi seluruh wilayah Provinsi Kalimantan Utara; Sabah, Malaysia; hingga Sulu, Filipina, yang berpusat di tepi Sungai Kayan.
Sebanyak 13 generasi raja-raja Kesultanan Bulungan saat itu memerintah dengan bergelimpangan kekayaan yang didapat dari hasil hutan, sungai dan laut perbatasan Kalimantan.
"Lapar, tinggal menangkap udang sebesar lengan anak-anak dan memancing ikan patin sebesar guling di Sungai Kayan. Hewan dan buah-buahan sangat gampang ditemui saat itu," kata Pemangku Sultan Bulungan Datuk Abdul Hamid saat ditemui di Istana Kesultanan Bulungan, beberapa waktu lalu.
Masa kejayaan Kesultanan Bulungan berlangsung berabad-abad sejak 1771 hingga 1938. Hebatnya, kesultanan bisa tegak berdiri tegak tanpa menarik upeti dari penduduk di wilayahnya.
Kesultanan Bulungan bahkan memiliki ratusan pasukan terlatih bersenjatakan senapan hingga meriam yang digunakan mengusir perompak yang marak di perbatasan.
"Susunan pemerintahan kerajaan kami cukup lengkap dari pengawal hingga menteri yang mengatur pemerintahan dalam negeri," ujar Hamid.
Masa Penjajahan
Masuknya kolonial Belanda di Kalimantan ternyata tak mampu menggoyahkan eksistensi Kesultanan Bulungan saat itu. Keberadaan tentara penjajah justru memperkuat pertahanan dan keamanan Kesultanan Bulungan melawan kerajaan lain di sekitarnya.
"Mereka baik pada kami dan menawarkan keamanan Kesultanan Bulungan. Itu yang membuat ada perjanjian keamanan yang disepakati antara Kesultanan Bulungan dengan Belanda," ucap Hamid.
Sebagai gantinya, Belanda berhak mengeksploitasi sumber minyak dan gas di Tarakan yang saat itu dalam kekuasaan Kesultanan Bulungan. Hasil penjualan sumber energi itu kemudian dibagi dengan Kesultanan Bulungan.
Pendapatan itu selanjutnya digunakan untuk membangun jalannya pemerintahan, termasuk pendidikan para keluarga raja.
"Kami senang saja saat itu karena memang saat itu hanya tahu soal ikan, hewan dan buah-buahan saja yang melimpah," ucap Hamid.
Kedekatan juga dibangun antara Kesultanan Bulungan dengan tentara Jepang. Baik keluarga raja maupun masyarakat tidak pernah merasakan kerja paksa atau bentuk penindasan lain. Kedekatan emosional pun tercipta.
"Kondisi saat itu beda halnya dengan di Jawa di mana ada kemiskinan, kerja paksa dan penindasan Belanda dan Jepang pada rakyat. Di sini, semua baik-baik saja dan kerja sama berjalan baik," Hamid menuturkan.
Meski begitu, Kesultanan Bulungan sepakat untuk bergabung dengan Indonesia di bawah kesepakatan Konvensi Malinau yang dihadiri seluruh raja-raja nusantara pada 7 Agustus 1949.
"Presiden Sukarno kemudian menunjuk kami sebagai kepala daerah di wilayahnya masing masing," ujar dia.
Tragedi Buktiken ini bermula pada subuh dini hari, Jumat, 3 Juli 1964, ketika pasukan tentara dari satuan tempur Brawijaya 517 tiba-tiba mengepung istana Kesultanan Bulungan, dan berakhir setelah Istana Bulungan yang bertingkat dua habis dibakar oleh para tentara tersebut. Aksi itu berlangsung selama dua hari dua malam hingga rata dengan tanah pada hari Jumat, 24 Juli 1964.
Namun, ada museum Kesultanan Bulungan yang dibangun oleh pemerintah di lokasi di mana dulu terdapat Istana Kesultanan Bulungan. Museum ini masih menyimpan sebagian benda-benda peninggalan dari Kesultanan Bulungan dahulu yang masih bisa diselamatkan.
Di dalam museum ini juga terdapat replika dari singgasana Kesultanan Bulungan pada saat masih berdiri. Di halaman depan museum juga terdapat meriam sebagai peninggalan Kesultanan Bulungan dahulu. Demikianlah tragedi runtuhnya Kesultanan Bulungan.
Tragedi pembantaian Kesultanan Bulungan 1964
Kesultanan ini dituduh berafiliasi dengan Malaysia yang saat itu didukung oleh Inggris. Tuduhan tersebut berujung tragis, karena sebagian besar anggota kerajaan dieksekusi.
Brigadir Jenderal Suharyo, yang memimpin tentara di Kalimantan, memerintahkan pasukannya untuk membantai anggota Kesultanan Bulungan tanpa alasan yang jelas. Harta benda kesultanan, termasuk ratusan benda antik buatan Tiongkok dan Eropa, dijarah. Istana yang sudah berdiri ratusan tahun pun dibakar habis tanpa sisa.Datuk Abdul Hamid, salah satu anggota keluarga Kesultanan Bulungan yang tersisa, terus berjuang mempertahankan warisan sejarah kesultanan ini. Ia berharap pemerintah menjaga tapak sejarah Kesultanan Bulungan, seperti halnya kerajaan-kerajaan Nusantara lainnya, dan membangun kembali istana yang telah hancur.
Bulungan adalah sebuah negeri yang makmur dan dikarunia wilayah dengan hasil alam yang melimpah. Riwayat kesultanan ini diwarnai banyak entitas asing, seperti Belanda dan Jepang yang saat itu menjajah Indonesia sebelum merdeka.
Saat itu, Kesultanan Bulungan memiliki kekuasaan wilayah administratif meliputi Bulungan, Tana Tidung, Malinau, Nunukan, Tarakan, bahkan hingga Jawi (kini Sabah) Malaysia. Di awal berdirinya, Datuk Mencang didapuk untuk memimpin Kesultanan Bulungan. Masa kepemimpinannya itu berlangsung dari tahun 1555 hingga 1594.
Hingga, Kesultanan Bulungan dikelola dengan sistematis pada abad 18 masehi. Sebab, pemimpin Kesultanan Bulungan telah menyandang predikat resmi yaitu Sultan seperti lazimnya di aturan kerajaan.
Saat Jepang mundur dari Indonesia akibat perang dunia membuat Bulungan dan seluruh kesultanan di bagian timur Kalimantan berada dalam kekuasaan tentara sekutu dan NICA.
Setelah pengakuan kemerdekaan Indonesia dari Kerajaan Belanda, wilayah Bulungan menerima status sebagai Wilayah Swapraja Bulungan atau "wilayah otonom" di Republik Indonesia pada tahun 1950, yaitu Daerah Istimewa setingkat kabupaten pada tahun 1955. Sultan terakhir, Jalaluddin, meninggal pada tahun 1958.
Kesultanan Bulungan dihapuskan secara sepihak pada tahun 1964 dalam peristiwa berdarah yang dikenal sebagai Tragedi Bultiken (Bulungan, Tidung, dan Kenyah) dan wilayah Kesultanan Bulungan hanya menjadi kabupaten yang sederhana.
Adapun, tragedi runtuhnya Kesultanan Bulungan ini dinamai Tragedi Bultiken. Tragedi pembantaian itu dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia yang dipimpin oleh Letnan B.Simatupang, atas perintah Pangdam IX Mulawarman saat itu yaitu Brigadir Jenderal Suhario terhadap para petinggi dan keluarga kerajaan Kesultanan Bulungan, serta aksi pembakaran istana Bulungan dan penjarahan serta perampasan harta benda milik Kesultanan Bulungan yang juga dilakukan oleh para tentara tersebut.
#SobatBKN, hr ini Mimin update kembali tingkat kelulusan dan agregat nasional SKD dan persentase lulus passing grade #Dikdin2021.
Kira-kira bagaimana peluang #SobatBKN semua..? yuk komen disini🤭.
Admin yakin pasti pernah terbesit di pikiran kalian untuk membawa perubahan bagi Indonesia, bukan?
Jika nanti jadi ASN, apa sih perubahan yang akan kalian bawa? Tuliskan jawabanmu dengan reply postingan ini ya.
_
#MomentumPerubahanASN#TransformasiASN#YukASNBerubah#ASNKiniBeda
Teman-teman mengalami penolakan naskah?
Mungkin ada yang perlu diperbaiki di naskah tersebut. Jika penerbit tak memberi tahu bagian yang perlu diperbaiki teman-teman akan kesulitan mengembangkan naskah.
Saya menyediakan jasa review. Ini yang teman-teman perlu.
WA: 087839894689
Pernah kita sedekat Desember ke Januari.
Mengapa kini kita sejauh Januari ke Desember.
Tidak adakah sepercik rindu pun di hatimu?
Selamat pagi, selamat berhari Minggu
Sesekali mungkin kita perlu membandingkan diri dengan orang lain, bukan untuk merasa lebih hebat atau lebih rendah. Namun untuk mengukur seberapa jauh usaha yang telah dilakukan, seberapa banyak hal yang didapatkan. Meski hidup punya jalan masing-masing.