From 1975 to 2025, countless legends have won the Ballon d’Or… yet only a few managed to win it in consecutive years. Lionel Messi didn’t just do it once—he won it three times in a row, proving his dominance on the world stage. 👑🏆🐐❤️
Come and visit London’s Home of Trophies. 🏆
Book your Stadium Tour at Stamford Bridge now. ⭐️⭐Come and visit London’s Home of Trophies. 🏆
Book your Stadium Tour at Stamford Bridge now. ⭐️⭐Come and visit London’s Home of Trophies. 🏆
Book your Stadium Tour at Stamford Bridge now. ⭐️⭐Come and visit London’s Home of Trophies. 🏆
Book your Stadium Tour at Stamford Bridge now. ⭐️⭐Come and visit London’s Home of Trophies. 🏆
Book your Stadium Tour at Stamford Bridge now. ⭐️⭐Come and visit London’s Home of Trophies. 🏆
Book your Stadium Tour at Stamford Bridge now. ⭐️⭐️
Dear football,
Today, I want to share with you that this season will be my last as a professional footballer. After so many years living my dream, I feel it’s time to start a new chapter in my life.
Being honest, even though I have been preparing myself for this moment, I found it hard to write this letter. After 20 seasons , many people have played an important role in my career.
When I first kicked a ball as a child in Pamplona with my schoolmates, I never imagined the amazing journey ahead. I’m grateful for every moment: the wins, the tough losses, the challenges, and most of all, the people I’ve met and the friendships I’ve made along the way.
To my teammates, coaches, and every staff member at all the clubs I’ve been lucky to be part of, thank you for helping me grow as a person and a player every day. Wearing the shirts of CA Osasuna, Olympique Marseille, Chelsea FC, Atlético de Madrid, Sevilla FC, and representing my country at the biggest stages has been a true privilege. Every moment has meant so much to me…
Tepat hari ini 14 tahun lalu… 🎯
Lob dingin Ramires di Camp Nou bikin FC Barcelona terdiam, momen penting yang menjaga langkah Chelsea FC menuju final UEFA Champions League tetap hidup.🏴
"Otak buat nyari ide, pita suara buat dubbing, sampai tangan buat editing masa harus bayar, Tuhan aja ngasih gratis."
Mungkin dipikirnya konsepnya gitu kali ya, etapi emang dia mikir?
Gue suka banget sama statement ini nih:
Sebenarnya pekerjaan yang lagi lo tekunin sekarang itu adalah hadiah terbaik yang Allah kasih khusus buat lo. Makanya lo ditakdirin berada di posisi ini, meskipun dari sananya bukan bidang atau pilihan lo sama sekali.
Lanjut...
Bismillahirahmaanirahiim OFFICIAL TRAILER NA WILLA! 👧🏻✨
Selamat datang di dunia Na Willa, cerita terbaru dariku, mengadaptasi novel Ibu Reda Gaudiamo lewat hati & imajinasi!
Izinkan LEBARAN 2026 ini kuajak kalian #JadiAnakAnak dalam perayaan terbesar untuk keluarga di BIOSKOP!
Banyak pertanyaan yang nadanya serupa, datang dari saudara, kerabat, teman, bahkan orang yang tak begitu dikenal.
"Gia, Fira, sudah punya anak belum?"
"Fira sudah hamil?"
"Sudah isi belum, Fir?"
Aku sebenarnya tak terlalu terganggu. Aku tahu, nyawa itu hak prerogatif Tuhan.
Tapi aku khawatir Fira akan kepikiran. Maka malam itu, dalam suasana kamar yang tenang, aku bertanya pelan,
"Sayang, kamu terganggu enggak sih sama pertanyaan-pertanyaan tadi?"
"Lumayan, kepikiran juga." Jawabnya sambil berusaha senyum.
Aku memandangnya penuh kasih. "Gak perlu terbebani. Karena pertanyaan kayak tadi bakal terus ada. Bahkan setelah punya anak pun, akan ditanya lagi, kapan anak kedua, ketiga, dan seterusnya."
Fira menggenggam tanganku. "Bukan itu Sayang yang bikin aku kepikiran, aku berharap, kalaupun sampai aku enggak bisa punya anak, jangan tinggalin aku, ya."
Aku langsung memeluknya. "Enggak, Sayang. Kalau kita belum punya anak, itu bukan salah siapa pun. Kita usaha dan berdoa. Jangan pikir aneh-aneh. Kamu adalah rumahku, dengan anak atau tidak."
Lalu, dengan nada ringan agar tak membuat malam jadi terlalu serius. aku ingin berbagi sesuatu yang sering aku pelajari,
"Say, kamu tahu enggak? Otak laki-laki dan perempuan itu beda banget cara kerjanya."
Dia menatapku dengan penuh rasa ingin tahu. "Oh ya? Gimana tuh?"
"Otak laki-laki itu seperti kumpulan kotak-kotak kecil. Ada kotak isi mobil, kotak isi kerjaan, kotak isi keuangan, kotak isi istri, dan kotak isi hobby seperti sepak bola." Fira mendengarkan serius.
"Prinsipnya untuk laki-laki, dia akan susun kotak itu sedemikian rupa agar setiap kotak tidak bersentuhan sama sekali. Sehingga Kalau ada dua laki-laki bertemu, maka masing-masing hanya akan mengambil 1 kotak bahasan dan hanya bahas isi kotak itu saja. Satu kotak sekali buka."
Fira tertawa kecil.
Aku lanjut, "Sementara otak perempuan, itu kayak gulungan kabel kecil berwarna-warni yang tersambung semuanya. Everything is connected to Everythiing. Jadi lagi mikirin satu hal, bisa nyambung ke seribu hal lainnya. Lagi bahas keuangan bisa nyambung ke mertua ke hobby suami dll, dashyat banget koneksinya. Dan aliran listrik kabel-kabel itu diperkuat oleh sebuah daya energi bernama EMOSI."
Fira ketawa lagi. Dia menepuk pelan lenganku. "Ooh gitu yaa, Pantes ya aku gampang ke-trigger sama hal-hal kecil."
"Iya. Dan kamu tahu enggak, laki-laki itu punya satu kotak paling favorit. kotak itu akan kita akses kapanpun kita sempat. Namanya kotak KOSONG. Dan Isinya literally nothing."
Fira terkejut. "Maksudnya gimana?"
"Jadi, kalau aku tiba-tiba bengong, ganti-ganti channel TV cepat banget, atau buka buku cuma satu menit, itu artinya aku lagi di kotak kosong. Enggak mikir apa-apa." Fira ngangguk2.
“Kayak kalau kamu liat laki-laki lagi di kursi depan indomaret, atau kamu liat laki-laki mancing berjam-jam, percayalah itu mereka lagi mengakses kotak kosong mereka masing-masing.”
Dia tertawa. "kalau gitu Boleh enggak aku masuk juga ke kotak kosong kamu?"
Aku ikutan tertawa. "Enggak bisa, Sayang. Kalau kamu masuk, pasti kamu bawa barang, bawa pikiran, bawa pertanyaan. Itu jadi kotak isi, bukan kosong lagi."
Kami tertawa bersama. Malam itu terasa ringan.
"Dan soal stres pun kita beda. Kalau laki-laki stres, dia akan masuk ke kotak kosongnya. Butuh ruang, butuh diam. Sementara perempuan, harus cerita. Harus diselesaikan lewat kata-kata. Makanya, banyak laki-laki bingung saat istrinya cerita panjang lebar. Mereka pikir harus kasih solusi. Padahal perempuan hanya ingin didengarkan."
Fira mengangguk-angguk lagi. "Bener banget itu."
Aku menatapnya. "Itu kenapa aku cerita ini. Supaya kita saling ngerti. Supaya kita tahu cara jaga hati satu sama lain. Karena cara otak kita bekerja beda, cara sayang kita juga beda. Tapi kita bisa belajar untuk saling mengisi."
Fira menggenggam jemariku. "Trus apa yang terjadi pada Otak yang terganggu oleh penyakit? Jadi mengganggu kepribadiannya karakternya?"
Kenapa kok Allah mengikuti bagaimana prasangka hambaNya saja?
“Jika Allah itu Maha Kuasa, mengapa Dia berkata: ‘Aku sebagaimana persangkaan hamba-Ku?’ Apa gunanya Tuhan jika hanya mengikuti prasangka manusia? Di mana letak kemahagungan-Nya, kalau justru tampak seperti menuruti isi hati kita?”
Pertanyaan yang tak lahir dari keraguan, tapi dari cinta yang ingin mengenal lebih dalam. Mari kita bahas yah…
Dalam Hadis Qudsi, Allah berfirman:
“Aku adalah sebagaimana persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Jika ia berprasangka baik, maka itu yang akan ia dapat. Jika ia berprasangka buruk, maka itu pula yang akan ia temui.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Apakah ini berarti Allah tunduk pada maunya manusia? Tentu tidak. Justru di sinilah letak keagungan dan kelembutan-Nya yang tak tertandingi. Allah tidak berubah karena prasangkamu. Tapi engkaulah yang berubah—dengan prasangkamu, engkau membuka atau menutup pintu rahmat yang selalu terbuka.
Ini bukan soal Allah yang mengikuti kita. Ini tentang kita yang sedang diuji: bagaimana kita melihat-Nya? Apakah dengan kaca mata cinta, atau dengan lensa luka?
Karena prasangka bukan sekadar lintasan pikiran. Ia adalah cermin dari hatimu. Bila hatimu penuh harap dan cinta, maka kau akan temui Allah sebagai Maha Pengasih yang memelukmu dalam letih. Tapi jika hatimu diliputi curiga dan kecewa, maka yang kau temui adalah bayangan dari keraguanmu sendiri—bukan karena Allah berubah, tapi karena hatimu menutup jendela cahaya.
Allah, dalam hadis ini, mengajarimu: Cinta itu bukan paksaan. Cinta itu pilihan. Dan prasangkamu adalah pintu untuk memilih-Nya.
Bayangkan seorang kekasih yang berkata:
“Aku akan menjadi sebagaimana kau percaya padaku.”
Itu bukan kelemahan, melainkan bentuk tertinggi dari kepercayaan dan kelembutan.
Allah tidak perlu tunduk pada kita—tapi Dia memilih untuk dekat dengan hati yang berharap. Itu bukan kelemahan. Itu adalah keagungan dalam bentuk yang paling lembut.
Maka berbaik sangkalah. Bukan karena Allah butuh itu—tapi karena jiwamulah yang akan hancur jika tidak menggenggam harapan.
Begitu romantisnya Tuhan kita. Ia tak memaksa dicintai, tapi Dia tak pernah berhenti mencintai.
Tabik,
Nadirsyah Hosen