Satan is not opposed to good morals.
He’s opposed to Jesus Christ.
Read that again because most Christians miss this completely.
Satan doesn’t care if you’re a “good person.” He doesn’t care if you volunteer at the food bank, recycle your trash, and help old ladies cross the street. He doesn’t care if you’re kind, generous, and well-liked by everyone in your community.
He cares that you don’t bow the knee to Jesus.
Here’s the deception that’s damning millions:
Satan has convinced people that morality equals spirituality. That being a “good person” is the same as being a Christian. That if you just live right, treat people well, and avoid the “big sins,” you’re acceptable to God.
This is a lie straight from the pit of hell.
The Pharisees had impeccable morals. They followed the law meticulously. They were respected, disciplined, and religiously devoted.
Jesus called them children of the devil.
Why? Not because their morals were bad. Because their morals replaced Christ.
Satan’s greatest trick isn’t making bad people worse. It’s making good people think they don’t need a Savior.
Think about it:
The atheist who feeds the homeless thinks he’s good enough without God.
The Buddhist who meditates and practices compassion thinks she’s enlightened without Christ.
The Muslim who prays five times daily thinks he’s righteous without Jesus.
The moral Christian who goes to church, pays his tithe, and avoids scandal thinks he’s saved without surrender.
All of them are headed to the same place: eternal separation from God.
Because morality doesn’t save. Jesus saves.
“For by grace are ye saved through faith; and that not of yourselves: it is the gift of God: Not of works, lest any man should boast.” Ephesians 2:8-9
Satan loves moral people who reject Jesus. They’re his best advertisement for the lie that you can earn your way to heaven.
They’re living proof that you can:
•Be kind without Christ
•Be generous without God
•Be disciplined without the Holy Spirit
•Be respected without redemption
And still be lost.
The most dangerous people in hell won’t be the murderers and rapists. They’ll be the moral, upstanding citizens who thought their goodness was good enough.
Their morals became their idol. Their goodness became their god.
And Satan smiled because he’d accomplished his goal: Keep them from Jesus.
Here’s what most Christians don’t understand:
Satan doesn’t need to make you do bad things. He just needs to keep you from doing the ONE thing that matters: surrendering to Christ.
If he can get you to:
•Trust your morals instead of Christ’s sacrifice
•Rely on your goodness instead of God’s grace
•Believe in your works instead of Jesus’ finished work
He’s won.
You can live a moral life and still die lost. You can be a good person and still face judgment. You can avoid all the “big sins” and still end up separated from God forever.
Because the only sin that damns you eternally is rejecting Jesus Christ.
“He that believeth on the Son hath everlasting life: and he that believeth not the Son shall not see life; but the wrath of God abideth on him.” John 3:36
Not the murderer who repents and believes in Christ is damned.
Not the thief who turns to Jesus on the cross is damned.
Not the prostitute who washes Jesus’ feet with her tears is damned.
The moral, religious person who rejects Christ is damned.
That’s why Satan loves morality without Jesus. It sends people to hell with a smile on their face, convinced they were good enough.
Stop trusting your morals. Start trusting Jesus.
Your goodness won’t save you. Your works won’t redeem you. Your morality won’t justify you.
Only the blood of Jesus Christ can wash away your sin and make you acceptable to a holy God.
Everything else is just Satan’s distraction from the one thing that actually matters.
—TBM
A Christian employee glorifies God by:
• Always being on time.
• Not complaining.
• Striving for excellence in their tasks.
• Treating customers with love and grace.
• Working with joy.
• Never engaging in gossip.
“While his son was still a long way off, the father saw him and felt compassion, and ran and embraced him and kissed him.” Luke 15:20
He saw.
He felt.
He ran.
He embraced.
He kissed.
As a Harvard psychiatrist who worked with the Dalai Lama, I discovered…
Why despite horrendous traumas, the Tibetans were immune to anxiety, chronic stress and the depression epidemics
Here's the ancient wisdom Western medicine is hiding from you: 🧵
Menara Babel adalah salah satu kisah paling terkenal dalam Alkitab — meskipun panjangnya hanya 235 kata.
Kisah ini telah menginspirasi banyak karya seni dan spekulasi tak berujung selama berabad-abad: seperti apa bentuknya? Apakah kisah ini didasarkan pada bangunan sungguhan?
Berikut ini beberapa kemungkinan jawaban...
Dulu, saya pikir perkara menunda-nunda pekerjaan yg saya alami adalah karena kemalasan. Jadi akhirnya seperti lingkaran setan. Menunda pekerjaan, merasa bersalah, menghakimi diri sendiri, makin tidak dikerjakan pekerjaannya.
Tapi, ternyata menunda itu terkait dgn hal lain
10. If you hang around someone & feel like your energy was zapped out of your body take that as a signal to not hang around that person anymore.
11. Your diet consists of the food you put into your body, the information you take in & the friends you hang around.
Kalo liat berita di sosmed bikin kamu pesimis, ga ada salahnya cuti sosmed dulu.
Fokus membenahi apa yang harus dibenahi.
Ndak semua topik/isu kita harus terlibat.
Tiga faktor yg meningkatkan risiko anak tantrum dan emosinya meledak-ledak: kebanyakan gula, kebanyakan gadget, dan orang tua yang hubungannya ngga akur.
Ini buat introspeksi saja, untuk dibaca dengan santai.
Posisi sebagai mayoritas, seharusnya membuat kita perlu sering bertanya: Apakah keberadaan kita sudah membuat minoritas aman?
Kalau banyak yang terancam, cari akar masalahnya, apakah ada ajaran yang disalahpahami?
Gw tuh kemaren banget baru ngeh setelah temen gw Nasrani tanya kenapa di Islam ada ajaran membunuh non muslim?
Dasar klakuan mayoritas, bukannya langsung empati, gw malah ketawa "Kalo ada perintah itu, kenapa gw nongkrong sama elo di sini?"
Respond itu muncul karena sepanjang hidup gw ga pernah ada di lingkungan yang ngajarin begitu.
Ternyata akarnya dari salah paham ttg ayat perang yang sering dijadikan justifikasi kejahatan terorisme membunuh non muslim yaitu ayat 5 surat At-Taubah.
Padahal ayat 5 sejak awal turun hanya ditujukan kepada non Islam yang memang sedang berkonflik dengan umat Islam dan yang terlebih dahulu melanggar perjanjian, bukan lainnya.
Jadi ada konteksnya:
1. Ayat itu muncul di situasi perang jaman Nabi.
2. Ada perjanjian yang dilanggar saat itu.
3. Sehingga ayat itu ga relevan di situasi yang damai seperti sekarang.
4. Kalo dilihat lebih lanjut, Ayat 6 secara tegas menyatakan, bila ada non Islam yang meminta perlindungan—meski dalam suasana konflik militer—maka tetap harus dilindungi dan dijamin keselamatannya.
5.Andaikan ayat 5 memang merupakan perintah memerangi semua orang non Islam, niscaya orang yang meminta perlindungan tidak boleh dilindungi dan tetap harus diperangi.
6. Kata "Islam" sendiri bermakna "Damai". Kan ga mungkin yang damai trus ngajak mbunuhin orang.
Kalo ada yang begitu, harus dicek pemahamannya atas Islam.
7. Sejak awal muncul, Islam sudah berinteraksi dengan non-Muslim. Ketika masih bertempat tinggal di Makkah, Nabi Muhammad sudah bergaul dan berinteraksi dengan non-Muslim. Apalagi saat di Madinah yang notabene lebih beragam masyarakatnya.
***
Gw baru banget ngeh hal ini karena selama ini temen-temen nasrani ga pernah seterbuka ini bertanya.
Atau bisa jadi mereka merasa ga perlu bertanya karena ngliat gw selama ini santai dengan perbedaan.
***
Beberapa referensi buat dibaca:
https://t.co/xhWFIQv3qa
https://t.co/1m9LnaKPul
https://t.co/iuGmaHfP93
https://t.co/k9kYYH97Kh
https://t.co/Fi4eSuUufW
Bukan berarti kita diminta mencari-cari pengalaman yang menyedihkan & menghindari yang menyenangkan.
Patah hati, kehilangan, gagal, luka, kecewa… lebih mengajarkan pelajaran hidup, dibanding kesenangan, kepuasan, kegirangan.
Perhatikan mana capres yg jawabannya sesuai sama pertanyaannya.
Karena nunjukin kemampuan berdialognya. Itu syarat penting sebagai pemimpin.
Sayang banyak orang pertimbangan memilihnya gak nyampe sedalam itu. Cuma berdasar emosi suka & gak suka.
Perkawinan yang sehat memulihkan
masa lalu yang buruk.
Tidak semua anak yang lahir dari keluarga rusak akan menjadi rusak. Banyak individu yang keluarga asalnya bermasalah, berjuang menjadi lebih baik dan berhasil.
Saya lahir dan besar dalam keluarga pecandu
Dalam proses dan berjuang saya melewati banyak badai dan tetap bertumbuh seimbang.
Saya percaya perkawinan yang sehat dapat memulihkan masa lalu yang buruk.
Marcy contohnya. Ia merupakan salah satu dari tiga anak dalam keluarga asalnya, menceritakan masalah minum ayahnya yang serius. Papanya berulang kali kehilangan pekerjaan, dan menelantarkan keluarganya ketika dia masih berusia 7 tahun.
Meskipun kesulitan keuangan dan stigma sosial dari "rumah yang rusak", Marcy tetap tumbuh dengan cukup sehat. Dia menghubungkan ketahanannya dengan unit keluarga yang kuat dari keluarga ibunya. Ikatan saudara kandungnya yang kuat, dan dukungan yang kuat dari keluarga besar ibunya saat melalui masa-masa sulit.
Dari pengalaman masa kecilnya, Marcy menggambarkan tekadnya yang kuat untuk membangun pernikahan dan kehidupan keluarga yang kuat.
Ketika ditanya apa yang membuatnya tertarik pada Tom, dia langsung menjawab, “Pertama, saya tahu saya menginginkan seorang suami yang tidak minum. Kedua, saya ingin anak-anak saya memiliki ayah yang selalu ada untuk mereka.”
Dia secara sadar mencari dan menikah dengan keluarga yang kuat. Tom, satu dari enam bersaudara dari keluarga yang kokoh dan stabil, adalah seorang suami yang berbakti.
Dia tertarik pada semangat "bisa-melakukan" dan mengagumi kemampuan keluarganya untuk mengatasi kesulitan. Bersama-sama, mereka membesarkan anak-anak mereka dengan baik, menjaga hubungan yang berharga dengan kedua keluarga besar, yang, dengan cara berbeda, menawarkan model pengasuhan yang kuat dan jaringan kerabat yang mendukung.
Buku Strengthening Resilience Family
By Froma Walsh