Pernyataan Yenny Wahid menguliti absurdnya hukum di Indonesia yang bahkan bikin heran ekspatriat & pengamat luar negeri : "Ijazah SMA tak ditemukan MK, tapi kok tetap bisa jadi Wakil Presiden?"
Penjelasan Yenny sangat gamblang:
1. MK mengunci fakta: Bukti kehadiran (attendance) TIDAK SAMA dengan bukti kelulusan (graduation)
2. MK tidak mendiskualifikasi murni karena terbentur tenggat rezim Pemilu pasca-pelantikan.
3. MK sengaja mengunci temuan fakta ini & menunjukkan "Pintu Konstitusi" lain: DPR/MPR via Pasal 7A UUD 1945.
Ketika dunia luar saja terheran-heran melihat kontradiksi ini, DPR kita malah pura-pura buta dan tuli. Malu-maluin.
Sudahlah…
Jangan lagi terlalu keras berkelit..
Pada akhirnya nanti akan membuat yg seharusnya mudah menjadi sulit..
Hentikanlah…
Semakin dalam engkau berdusta…
Semakin jelas semua akan terbuka..
Mundurlah…
Jangan biarkan kekecewaan memuncah menjadi kamarahan dan perlawanan.
Fakta Pendapat Sekolah Gibran Bertebaran Dunia Terasa Sempit Simak Vidio Ini
Hallo Termul Tamatan SMP Berdasar Hasil Survey Pendukung Jokowi Tamatan SMP
Tonton Termul Biar Bisa Lanjut SMA
Satu alasan mengganjal, apa alasan Fufufafa tidak melanjutkan ke A level, tdk masuk JC, IB, atau politeknik yg menjadi variasi umum bagi anak-anak di Singapura setelah menyelesaikan O level?
Tapi memilih ke UTS Insec ?
Sy jelaskan, ada banyak kemungkinan. Namun, kemungkinan besar ini terkait dengan “passing grade” atau kapasitas intelektual ybs. Karena untuk masuk A level (jalur yg dipakai utk mendapat bachelor dan inilah yg paling mendekati setara SLTA persyaratannya salah satunya TOEFL tinggi) atau jalur lain, nilai di O level sangat menentukan meskipun lulus. Ya istilahnya, mau masuk sekolah favorit tentu ada bar grade yg harus mencukupi. Apakah berarti gampang ke UTS nya dan ‘kapasitas’ Fufufafa cukup? Belum tentu, karena UTS Inset hanya program persiapan, jadi hanya pakai O level saja tak masalah karena nilai tdk menjadi acuan, karena yg akan jadi acuan adalah setelah rampungnya program foundation/pathway itu. Nah dari Hakim Saldi Isra kita mendengar ada nilai nilai Fail, meski ada HD dan D dari transkrip nilai. Di sinilah letak alasan Fufufafa kembali lagi ke Singapura, lagi-lagi terbentur dgn kapasitas intelektualnya dan gagal masuk UTS yg mana mgkn tidak ‘menerima’ nilai nilai Fail (untuk mendapatkan Bachelor). Terus kok bisa ke diploma di MDIS?
Bisa, di Singapura, jika usia sudah mencukupi (kemungkinan Fufufafa 20an tahun) modal O level saja cukup. Jadi jeda 1-2 thn ini dianggap gap year, dan sekolah spt MDIS, SIM, Kaplan atau private education dll ‘tidak butuh syarat lain’ selain O level, usia cukup, dan tentu saja duit🙏. Nah di sinilah kemudian Fufufafa mendapatkan angin surga untuk mengkarbit kapasitas intelektualnya. Di titik inilah, 10 tahun kemudian, riwayatnya yg ‘hilang’ selama 2 tahun dipertanyakan, mana ijazah mu? —— setara SLTA nya ia pakai loncat2 itu.
Namun satu hal yg ganjil adalah, tidak ada—-hingga sekarang, satu pun orang Indonesia yg bersaksi pernah ‘berinteraksi’ dgn Fufufafa dalam rentang waktu 2007-2010 saat dia menyelesaikan program adv diploma + bachelor. Padahal, saat itu dia anak seorang walikota yg jaya-jayanya. Tidak perlu satu kelas pun, anak-anak Indo disana biasa muncul saat solat Ied, natal, 17 an, atau sekedar main futsal, makan bareng usai jumatan, dan saling mengenal satu sama lain atau paling tidak mendengar bisik-bisik oh ada anaknya pejabat itu dll. Istilahnya ‘ngeblend’. Selesai program sekolah pun, biasanya mereka lapor ke KBRI (untuk mendapatkan surat keterangan yg dibutuhkan untuk misalnya penyetaraan) atau ya sekedar main aja ke KBRI lah. Itu kan ‘rumah’ kita selama di luar negeri. Pamit gitu sama mas dan mba local staff di sana. Yaaa istilahnya unggah-ungguh lah.
Tapi dimana Fufufafa?
Pembelanya pasti akan jawab: Ooh tentu saja Fufufafa selama sekolah belajar terus di kamar, di perpustakaan, menyiksa diri agar mendapatkan nilai ujian terbaik.
Tapi jika melihat perangainya, gaya komunikasinya, jawaban kemungkinan besarnya: ia kuper, di kamar terus, buka laptop, lalu masuk akun Kaskus dan melakukan hobinya: membully.
Inilah, kegiatan satu-satunya org bernama Fufufafa selama sekolah. Ya … karena memang kapasitasnya serendah merisak dan merundung orang.
Fakta menarik lain tentang Gibran.
Ke Singapura bukan untuk menempuh pendidikan yang lebih baik tapi dalam rangka rehabilitasi.
Untuk mengisi kesibukan di masa rehab, maka berbagai kursus di ambil, termasuk kursus bahasa inggris.
Baca ini 👇