Hantu Jepang
Anjirr lah, mau gak percaya tapi itu cewe bisa tiba tiba ada di dalem mobil, kalo lu ada di posisi cowo ini apa yang lu lakuin? Gua auto pukul sih 😭😱
Masih di sitkom Bajaj Bajuri. Kali ini kita geser dari ruang tamu Emak ke tempat Ucup dan Said nongkrong. Di permukaan, mereka berdua mungkin terlihat seperti komedian komplek biasa, tapi kalau kita lirik dari aspek visual dan pola dialognya, mereka sebenarnya sedang ceramah tentang krisis identitas dan hegemoni kultural yg mencekik masyarakat kelas bawah.
Mari kita lihat dari salah satu detail visual: kebiasaan Ucup yg selalu pakai jersey KW.
Pemilihan kostum ini menurutku bukan sebatas kebetulan komedik, melainkan kritik di ranah semiotik. Jersey olahraga pada dasarnya diciptakan sebagai simbol produktivitas fisik, keringat, kedisiplinan, dan kompetisi yg sehat. Tapi di sini, kostum itu justru melekat pada tubuh karakter yg gak "produktif", seorang pengangguran yg menghabiskan waktu luntang-lantung di pos ronda. Menurutku ini adalah bentuk eskapisme.
Ketika struktur kapitalisme membuat Ucup gak punya identitas kelas yg bisa dibanggakan—tanpa pekerjaan, uang, dan status sosial—ia meminjam "eksistensi ternama" dari klub-klub bola raksasa. Jersey KW itu menjadi simulakra, sebuah pelarian di mana ia merasa terhubung dengan entitas yg megah, demi menutupi realitasnya sebagai kaum marginal yg nasibnya mentok di gang sempit.
Tragedi krisis identitas ini berlanjut pada sosok Said. Kalau Ucup meminjam identitas dari klub bola, Said meminjam identitas dari figur otoritas kulturalnya.
Perhatikan betapa Said hampir gak pernah memiliki opini orisinal. Seringkali waktu berdebat, menasihati, atau bahkan menipu, kalimat andalannya "Kata Wan Abud..." atau berlindung di balik nama atau pamannya yang lain. Menurutku ini adalah bukti dari kurangnya agensi diri.
Said adl pemuda yg gak punya kapital ekonomi maupun kapital intelektual utk bertahan hidup. Karena gak pny kapasitas utk membangun otoritasnya sendiri, Said secara gak sadar terus-menerus mereduksi eksistensinya menjadi sekadar corong bagi otoritas di atasnya. Ia tidak eksis sebagai individu yg merdeka, melainkan hanya sebagai kepanjangan tangan dari dogma pamannya, mencari validasi dari figur bernama untuk diakui di masyarakat.
Keterasingan dan kelumpuhan intelektual ini mencapai puncak ironinya lewat satu adegan komedi ikonik. Adalah momen di mana paman Said, sedang berbicara menggunakan bahasa Arab—entah itu sekadar mengobrol biasa, hingga bahkan marah-marah. Tapi respons warga kampung lainnya (termasuk pak RT) secara refleks tangkupkan tangan dan menyahut khusyuk, "Amiiin... Amiiin." Adegan ini jelas bukan cuma slapstick receh, tapi juga dekonstruksi tentang hegemoni linguistik dan komodifikasi kesakralan.
Di masyarakat akar rumput, bahasa Arab telah mengalami objektifikasi sebagai sesuatu yg sakral. Warga mengalami alienasi terhadap substansi teologis; mereka gak sepenuhnya paham makna bahasanya, tapi secara buta tunduk pada bunyi dan simbol.
Momen tersebut menyentil fenomena kepatuhan di masyarakat, di mana ketika agama hanya dihayati lewat cangkang luarnya saja, orang bisa dengan mudah dibodohi atau disuruh mengaminkan sumpah serapah murni karena kata-kata itu dibungkus dengan bahasa yang dianggap suci.
Semua elemen yang mengalir dari jersey ilusi Ucup, ketiadaan agensi Said, hingga kepatuhan buta warga pada hegemoni bahasa ini merangkum betapa rentannya kelas bawah perkotaan era itu. Mereka gak punya kuasa atas uang, pikiran, dan bahkan pemahaman spiritual mereka sendiri. Semuanya serba meminjam, dan semuanya serba ilusi.