@hrdbacot Dari lb bulus susah dapet ojol 😭, alhasil nekat nyetop orang random buat nebeng sampe ciputat atau sekitarnya, beruntung dianter sampe pamulang
Early this morning, a massive fire struck residential areas and rows of kiosks at Kasongan Market, Katingan Regency, Central Kalimantan, Indonesia 🇮🇩(26/26)
The fire spread rapidly, destroying nearby buildings. No official details yet on casualties.
@ipehoverhere@kompascom Yang ini kan ya beritanya? 👇
Ini jelas femisida. Peristiwanya terjadi tahun 2024, & sampai sekarang pelakunya masih belum terungkap.
https://t.co/QEFERQxyeF
Jangan berhenti ngomongin bencana di Sumatera plis.
Kondisi di sana masih jauh dari bagus. Jauh banget.
Terus omongin sampe hutan-hutannya banyak yg dipulihkan.
Kalo ngga, tiap 1-2 tahun bencana besar begini, cilaka.
Saya yg bodoh tidak berpendidikan jadi dong dan mengerti setelah dapat share dr kawan : hitungan Alumni ITB jur matematik menganalisa kenapa terjadi banjir di Sumatra..👇
DUKA KITA, DUKA ALAM: SEBUAH RENUNGAN UNTUK ACEH, SUMUT, DAN SUMBAR
Angin hari ini berhembus lebih berat. Seakan membawa kabar duka dari Aceh, Sumut, dan Sumbar, dari lembah-lembah yang luluh, dari sungai-sungai yang berubah menjadi amukan,
dari rumah-rumah yang tak lagi berdiri, dan dari wajah-wajah
yang kehilangan segalanya kecuali kesabaran.
Banjir bandang itu datang bukan sekadar luapan air, ia datang membawa cerita tentang luka bumi yang lama kita abaikan.
Di Tesso Nilo, seekor gajah, makhluk lembut yang menjadi penjaga sunyi rimba, rebah tak lagi bernyawa. Ia bukan hanya binatang yang mati, tetapi simbol bahwa hutan telah kehilangan pelukannya,
bahwa alam telah kita telanjangi dari haknya untuk hidup.
Dan kita bertanya,
Mengapa semua ini terjadi? Mengapa alam seakan murka?
Padahal jawaban itu telah Allah isyaratkan sejak lama:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia…” (QS. Ar-Rūm: 41)
Kerusakan itu bukan sekadar badai yang turun dari langit,
tetapi juga izin pembukaan lahan yang diberikan dengan ringan, penebangan yang tak mengenal batas, pertambangan yang menelanjangi tebing dan bukit, dan kerakusan yang pelan-pelan menghapus warna hijau yang dulu pernah kita banggakan.
Kita sering menyalahkan hujan.
Padahal gunung-gunung telah lama menangis, akar-akar telah lama tercerabut, dan sungai-sungai telah lama kehilangan tepiannya karena kita menggusur mereka demi alasan yang kita sebut “pembangunan”.
Mungkin bencana ini bukan hanya ujian, tetapi peringatan halus dari Allah agar kita kembali menundukkan kepala,
merapikan langkah,
dan menyadari bahwa bumi bukan sekadar tempat tinggal,
ia adalah amanah yang harus kita jaga.
Hari ini kita berduka,
tapi semoga duka ini tidak datang sia-sia. Semoga setiap tetes air mata menjelma doa,
dan setiap kepedihan melahirkan kesadaran baru.
Untuk saudara-saudara kami di Aceh, Sumut, dan Sumbar,
doa kami menyertai kalian,
dalam kehilangan, dalam harapan, dan dalam bangkit kembali.
Dan untuk kita semua,
semoga Allah melembutkan hati kita agar lebih bijak menjaga bumi, lebih takut meninggalkan jejak yang merusak,
dan lebih cepat kembali ke jalan yang diridhai Nya, sebelum alam kembali berbicara dengan suara yang lebih keras.
Dari saudaramu,
(Hilmi Firdausi)
🚨URGENT - BANTU SEBARKAN 🚨
Teman-teman di sekitar lokasi bencana Sumatera yang ingin bantu mendistribusikan bantuan bagi korban terdampak silakan dapat menghubungi kami.
Balas twit ini untuk kita koordinasi lebih lanjut.
Tolong bantu Retweet agar makin banyak simpul-simpul yang bisa mendistribusikan bantuan.
‼️Bantu Saudara Kita yang Terdampak. ‼️
Tim Humanies Project membuka bantuan kemanusiaan untuk warga yang terdampak. Setiap kontribusi Anda sangat berarti bagi perjalanan pemulihan mereka.
Donasi dapat disalurkan melalui:
Link: https://t.co/6ntdoJBxMH
Bank BRI: 118501000499563 (a/n Yayasan Huma Inisiatif Indonesia)
Berikut data korban tragedi bencana di Sumatera, angka bisa bertambah 🙏
#PrayForSumatera
Silahkan bagikan untuk membuka mata pemerintahan dan segenap element nya
Sumber; bnpb pusat dan daerah serta dari Polda