"Banyak yang baru sadar setelah ketemu langsung: ternyata chemistry itu nggak bisa dipaksa, bahkan kalau orangnya sesuai tipe." 👀
Ada cerita lucu.
Akhirnya ketemu juga sama cowok tinggi, tampan, berkacamata yang selama ini cuma seperti legenda urban di Gramedia. Aura "suami idaman ibu-ibu komplek" sudah lengkap. 😭
Tapi sayangnya, date batal.
Alasannya?
Pas ngobrol soal buku-buku yang dianggap "berbobot", ternyata dia lebih banyak baca komik dan kartun fiksi. Ketika diajak diskusi yang lebih serius, jawabannya cuma, "Wah, aku nggak ngikutin."
Dan seketika, rasa tertarik yang tadinya muncul perlahan menguap.
Padahal kalau dipikir-pikir, sebenarnya nggak ada yang salah sama masnya.
Dan juga nggak ada yang salah sama mbaknya.
Karena daya tarik itu memang unik.
Kadang dalam 10 detik pertama ketemu, otak kita sudah diam-diam memutuskan:
"Kayaknya orang ini menarik."
Atau...
"Kayaknya kita bakal jadi teman aja."
Sisanya hanyalah proses.
Proses yang membuat dua orang semakin dekat...
Atau justru semakin sadar kalau mereka berasal dari dunia yang berbeda.
Dan perbedaan itu nggak selalu soal baik atau buruk.
Bukan berarti orang yang baca komik lebih kekanak-kanakan.
Bukan berarti yang baca buku filsafat lebih dewasa.
Karena kedewasaan itu nggak diukur dari apakah rak bukunya berisi Nietzsche atau Naruto. 😭
Yang lebih penting adalah apakah dua orang itu bisa saling nyambung, saling menghargai, dan menikmati obrolan tanpa merasa sedang mengikuti ujian skripsi.
Pada akhirnya, ketertarikan bukanlah lomba mencari siapa yang paling hebat.
Tapi mencari siapa yang paling cocok.
Karena secakep-cakepnya orang, kalau setiap ngobrol rasanya seperti presentasi tugas akhir sedangkan yang satu cuma pengen bahas One Piece, ya yang terjadi bukan chemistry...
Melainkan seminar nasional. 😂
Dan menurutku, nggak ada yang salah ketika ketertarikan hilang setelah lebih mengenal seseorang.
Karena tujuan PDKT memang bukan untuk memaksakan cocok.
Tapi untuk mengetahui apakah memang cocok.
Kalau kalian sendiri, pernah nggak awalnya tertarik banget sama seseorang, tapi setelah ngobrol lebih dalam malah jadi kehilangan rasa? Kira-kira apa penyebabnya? 👇
kenapa ya gw merasa di indo tuh ruang gagalnya sempit. i mean umur lu setelah lulus kuliah tuh udah 22-23 loh, and after that you have to chase the age limitation in indonesia, which is 25, to secure your place
Pengalaman ini pasti dialami banyak orang : Dipandang selalu tidak ngapa ngapain, padahal dibalik itu ada perjuangan dan penolakan yg tak terlihat.
1. Silent Struggles
berjuang sendiri tanpa bisa andalin siapa siapa, boro boro ada financial support, emotional support aja ga dapet.
2. Guilt & Pressure
Rasa bersalah yg menghantui karena mau ga ngerepotin orang, tapi disisi lagi juga dapet tekanan kalo posisi yg struggle nya itu masih jadi beban untuk orang lain
3. Lelah yang Dikira Malas
karena setiap usahanya selalu gagal dan ga berhasil posisi kayak gitu juga bisa lelah, karena mereka udah gak tahu lagi harus berbuat apa.
Jobseeker tetep semangat ya!!!
Indonesia punya 56 juta "pengusaha."
Malaysia cuma 3 juta.
Kedengarannya bangga. Padahal itu alarm.
Malaysia 75% pekerjanya formal, bergaji, terserap sistem.
Indonesia? 38%.
Sisanya jadi "pedagang" bukan karena mau, tapi karena nggak ada pilihan lain.
Bukan wirausaha. Survival mode.
Selisih itu bukan bukti kita lebih entrepreneur.
Itu bukti sistem kerja kita gagal nyerap orang.
RED FLAG JENIS BARU 🚩🚩
“Pacar gue dulu pernah nonton porn sebelum kenal sama gue, tapi udah berhenti 2-3 tahun sebelum kita pacaran. Haruskah gue putusin?"
Lho... kata kuncinya kan udah berhenti.
Kadang kita suka lupa bedain antara siapa seseorang dulu dan siapa dia sekarang. Kalau setiap masa lalu dijadiin alat buat menebak masa depan, ya nggak ada orang yang bisa lulus dari sidang hubungan.
Mantan perokok pernah merokok.
Mantan pemalas pernah malas.
Orang yang sekarang rajin nge-gym juga dulu mungkin olahraga cuma pas rebutan diskonan.
Yang perlu dilihat bukan "dia pernah ngapain?", tapi "dia sekarang seperti apa?".
Kalau dia masih melakukan, masih bohong, atau masih menyembunyikan sesuatu, itu cerita lain.
Tapi kalau dia udah berhenti bertahun-tahun sebelum kalian bahkan kenal, terus masih dijadiin masalah sampai mau putus... yang perlu dievaluasi mungkin bukan masa lalunya dia, tapi cara kamu memandang orang.
Karena hubungan yang sehat dibangun dari penilaian terhadap karakter saat ini, bukan investigasi forensik terhadap dosa-dosa era lampau.
Jangan sampai kamu kehilangan pasangan yang baik hari ini gara-gara marah sama versi dirinya yang bahkan sudah tidak ada lagi.
Dan jujur aja, kalau masa lalu seseorang selalu kamu proyeksikan jadi masa depannya, itu red flag juga, kak.
Menurut kalian, seberapa jauh sih masa lalu pasangan boleh dijadiin pertimbangan dalam hubungan?
Yes, it is a scam
jobfair pertama ku waktu itu di singapore,
nama jobfair nya "Asean Career"
maksain minjem duit 2jt cuma buat PP Bandung-Singapore di event yang cuma sehari itu yang untung untungan
eh malah keterima kerja di Nipon as Middleware Engineer (Kerjaan nya mirip kayak Data Science + Embedded System),
kalo di rupiah kan kurs sekarang kompensasinya 3 digit
(belum lulus kuliah padahal, what a scam)
Kebanyakan dari mereka ga bisa berpikir out of the box.
Kalau kalian perhatiin, yang susah cari kerja rata-rata polanya sama semua alias template.
Sekolah dari SD sampai kuliah, pas kuliah sibuk kejar nilai akademik atau join organisasi kampus biar keliatan aktif. Waktu luangnya cuma diisi nongkrong, energi dan pikiran masih fokus ke pacaran. Sama sekali ga kepikiran buat invest waktu ke skill yang relevan, apalagi belajar tentang AI.
Hasilnya? Value mereka identik satu sama lain. Ga ada differentiator.
Akhirnya mereka PVP di oversaturated job market dengan skill set yang sama, lalu heran kenapa 120 lamaran ga ada yang lolos.😂
Masalahnya bukan cuma soal ekonomi, tapi juga commodity trap:
"kalau kamu ga punya sesuatu yang bikin recruiter berhenti scroll, kamu cuma jadi noise di antara ribuan kandidat lain."