Bu @sumarsih11 di @AksiKamisan ke-805 di depan Istana sore tadi :
“Prabowo terlibat dalam peristiwa 98, harapan saya anak muda harus siap kalo kalian nanti diculik, ditembak, diberangus suaranya, dibunuh karakternya”
Such a powerful words. Pengingat untuk kita semua.
@dsuperboy Lucu ya, tiap kali ada yg bersuara selalu disuruh 'fokus kerja aja'. Seakan kebijakan gak ngaruh ke profesi lo. Coba deh, pas tarif pajak lo naik, buku lo disensor atau panggung lo dibredel apa lo masih mau fokus kerja doang? Diam itu cuma bisa dinikmati saat lo belum jadi korban
pilihan2 untuk menjaga stabilitas makro itu ga ada yg enak:
- legowo BI menaikkan suku bunga cukup drastis
- menekan belanja signifikan, terutama MBG + KMP
- stop gaya komunikasi asbun, apalagi mengacak2 independensi BI
sayang pemerintah ga mau jujur ke diri sendiri & publik
@IndollandRT@TheEconomist Just like the most presidential candidate.. seperti presiden presiden lainnya punya kegilaan dikarenakan mereka harus mendaki punggung orang lain untuk naik ke atas (John Kiriaokou).
Untuk mahasiawa ekonomi. Ada banyak pertanyaan ke saya tentang ratio Debt/GDP vs Debt Service Ratio (DSR)/ Revenue
Mengapa indkator DSR/Revenue lebih relevan dibanding Debt/GDP.
Dalam bahan kuliah ini saya tunjukkan walau Debt/GDP sama, tapi jika DSR/Revenue lebih tinggi maka ruang fiskal atau fiscal space yg tersedia bisa lebih rendah.
Maaf ini memang bahan kuliah jadi sangat teknis. Buat non ekonom, intinya: walau dg rasio utang/PDB yang sama, kalau DSR/Revenue tinggi krn bunga dan cicilan utang yg tinggi atau Tax/PDB yg rendah, maka fiscal space akan lebih kecil. Itu sebabnya DSR/Revenue lebih penting dari Rasio utang/PDB karena pertanyaan paling pentinh adalah berapa besar ruang fiscal kita
Mengapa Negara Menzalimi Suami Saya, yang Tulus Berkorban Banyak Untuk Negara?
Sebagai istri, sakit hati rasanya. Enam belas tahun aku kenal Ibam, dia ngga money oriented. Niatnya tulus. Kalau sudah mau bantu, dia akan benar-benar bantu.
Ibam dituntut penjara 15 tahun dan harus bayar Rp16,9 miliar, kalau tidak maka pidananya ditambah 7,5 tahun.
Berarti, Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Ibam, yang pernah menolak tawaran puluhan miliar karena merasa misi bantu negara lewat bangun teknologi masih belum selesai.
Sekarang ironisnya dituduh korupsi. Padahal sampai 57 saksi diperiksa, tidak ada satu pun bukti Ibam memperkaya diri. Tidak ada konflik kepentingan untuk memperkaya orang lain.
Dia hanya konsultan teknis, rela tolak tawaran asing, turun gaji demi negara, ngga punya jabatan dan kewenangan, selalu profesional dan netral dalam kasih masukan, tapi terjebak dalam pusaran para elite birokrasi.
Masukan teknis Ibam yang sudah terdokumentasi baik, transparan akan kelebihan dan kekurangan, diceritakan sepotong-sepotong saja oleh pejabat pengadaan. Sehingga seakan-akan Ibam memaksa hanya Chromebook.
Untungnya, Ibam punya banyak dokumentasi yang sudah jadi bukti di persidangan. Sudah terungkap di sidang bahwa:
1. Ibam bukan pejabat, tapi konsultan yayasan. Gaji Ibam sama sekali bukan dari APBN.
2. Ibam baru kenal Nadiem setelah dia jadi menteri. Ngga ada persekongkolan, dan ngga pernah ketemu personal.
3. Di banyak bukti chat & notulen rapat: Ibam tidak mengarahkan pengadaan, tidak buat kajian, bahkan Ibam minta kementerian untuk uji Chromebook dulu.
4. Pejabat Eselon I akhirnya mengakui: dia yang menolak masukan pengujian Ibam, dia yang memutuskan Chromebook lewat SK yang dia keluarkan.
5. Ahli IT telah menyatakan masukan Ibam sudah netral dan profesional, sesuai best practice keahlian, serta benar dalam menyerahkan keputusan ke kementerian.
Puncaknya, nama Ibam dicatut ke dalam SK pengadaan yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Dalam pengesahan kajian Chromebook yang ditugaskan SK, tidak ada tanda tangan Ibam.
Terungkap juga di sidang, belasan pejabat, termasuk yang berupaya ‘menyalahkan’ Ibam, mengakui telah menerima ratusan juta rupiah suap dari vendor. Namun mereka semua bebas, tidak ada yang jadi tersangka.
Disaat mereka bebas, Ibam ditahan dan dituntut penjara. Bagiku perkara ini jelas. Suamiku bukan pelaku, tapi korban permainan elite birokrasi yang seenaknya melempar semua keputusan mereka pada Ibam.
Sekarang, kami hampir sampai di ujung jalan.
Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Dua terdakwa lain, pejabat Eselon II di Kemendikbud, yang mengatur pengadaan dan sudah mengakui ada aliran dana sampai miliaran rupiah, dituntut 6 tahun saja.
Semakin kontras ketika surat tuntutan sendiri mengakui: tidak ada aliran dana ke Ibam.
Tuntutan bilang di laporan SPT 2021, kekayaan Ibam naik Rp16,9 miliar. Ibam sudah tunjukkan bukti di persidangan kalau itu dari saham Bukalapak yang didapat jauh sebelum Ibam menjadi konsultan Kemendikbud, tidak ada kaitannya sama sekali dengan Chromebook atau Gojek.
Bukti itu ditolak JPU dalam tuntutannya. Mereka bilang karena Ibam sudah resign, sahamnya hangus. Mereka tidak paham kata-kata dalam surat pemberian saham, bahwa yang hangus hanya “saham yang belum diberikan”. Padahal, sebelum resign juga ada sebagian saham yang sudah diberikan.
JPU menyatakan, karena mereka tolak bukti itu, Rp16,9 miliar Ibam diduga hasil korupsi, jadi mereka tuntut 15 tahun ditambah 7,5 tahun.
Bagi kami, ini puncak dari kezaliman. Ibam yang tidak pernah, sekali lagi, TIDAK PERNAH ADA ALIRAN DANA SAMA SEKALI, dikriminalisasi atas prestasinya bantu negara, yang tidak ada hubungannya dengan perkara.
Dua minggu lagi putusan Ibam akan dibacakan oleh Majelis Hakim, kami tetap berharap keadilan putusan bisa sesuai dengan fakta persidangan.
Karena, ini bukan sekedar perkara hukum, ini menyangkut nasib seseorang, masa depan keluarga kami, anak-anak kami, serta kemerdekaan kami sekeluarga.
Setahun terakhir ini adalah masa yang sangat berat bagi kami. Keluarga kami kehilangan penghasilan, kesehatan jantung Ibam kian memburuk, bahkan tabungan hidup kami terkuras habis untuk biaya medis dan biaya hukum.
Namun, aku bersaksi bahwa Ibam adalah seorang perintis. Hidupnya penuh perjuangan dari kecil, insya Allah kami siap bangun dari nol lagi.
Hanya saja, jika pengabdian untuk Indonesia harus dibayar semahal ini. Jika bukti persidangan sudah seterang ini, dan jika upaya mengkambinghitamkan Ibam sudah sekentara ini, dia tetap dipenjara puluhan tahun...
Ini adalah ketidakadilan yang teramat pahit.
Bukan hanya bagi Ibam, tapi bagi siapa pun yang pernah atau akan bantu bangsa ini dengan niat tulus.
Apa memang berbakti bagi merah putih seberbahaya ini?
Apa memang tidak ada keadilan bagi orang jujur yang sudah berkorban banyak bagi negara?
Tolong bantu kami mencari keadilan untuk Ibam selagi masih ada waktu. Mohon bantu bagikan tulisan ini, pada rekan atau kerabat, konsultan atau pejabat, siapapun yang bisa bantu menyuarakan keadilan dan memberi perhatian.
Agar tidak ada lagi profesional seperti Ibam yang jadi korban kriminalisasi.
Jakarta, 16 April 2026
Ririe - Istri dari Ibrahim Arief (Ibam)
Sayangnya ini real, ikan asin itu sebenarnya sudah masuk kategori karsinogen sejak 30 tahunan lalu. Alasannya karena kandungan tinggi nitrosamines, zat yang bisa merusak DNA.
Ikan asin yang diteliti itu gaya China, dan mayoritas ikan asin Indonesia pakai metode ini juga (garam + jemur).
Tapi kenapa masyarakat Indonesia jaman dulu bisa tetap sehat? Salah satu rahasianya ternyata: kebiasaan makan lalapan dan sayur.
Lalapan dan sayur yang kaya akan vitamin C terbukti memblok efek buruk nitrosamines.
Selain itu? Moderasi, tidak dimakan rutin atau berlebih.
Nitrosamines juga memiliki efek berlipat pada anak-anak, jadi hindari pemberian ikan asin pada anak-anak.
Suka ikan asin? Imbangi dengan konsumsi sayur dan buah yang kaya vitamin C.
After much reflection, I have decided to resign from my position as Director of the National Counterterrorism Center, effective today.
I cannot in good conscience support the ongoing war in Iran. Iran posed no imminent threat to our nation, and it is clear that we started this war due to pressure from Israel and its powerful American lobby.
It has been an honor serving under @POTUS and @DNIGabbard and leading the professionals at NCTC.
May God bless America.
Gang Berkeley itu masih mending, semuanya akademisi berpikiran luas tanpa pertentangan kepentingan. Geng D*n****r* sekarang pengusaha spekulatif penuh pertentangan kepentingan.
Khamenei is dead. Good.
But I have family in Iran. My dad is there right now. And I'm not celebrating yet. Here's why.
Iran built the most layered contingency plan on Earth for this exact moment. Four levels of succession for every key position. Pre-authorized military strikes. Regional commanders who don't need orders from Tehran to act.
As you read this, there is already a new Supreme Leader. We just don't know who.
This isn't Maduro. The government didn't get overthrown. The system absorbed the hit. That's what it was designed to do.
Every credible intel assessment says the same thing: a post-Khamenei Iran is more likely to get harder, not softer. More IRGC. More dangerous. Potentially worse for the Iranian people than Khamenei himself.
Don't breathe yet. There's a long way to go.