dr. Icha.
Dokter jaga IGD RS Leona, NTT.
Tanggal 13 Juni 2026: ditunjuk mukanya. Dibentak. Di depan pasien. Di tempat kerjanya.
Pelakunya bukan preman.
Pelakunya: anggota DPRD Kabupaten TTU.
Tanggal 26 Juni 2026: dr. Icha meninggal dunia.
Sambil ngabuburit, karena ini rame & gw pernah liput konsernya Isyana, mau cerita dikit soal Isyana yang shifting dari musik Pop R&B ke metal/progresif rock, dan soal simbol-simbol yang erat dengan genre musik keras ini.
-thread-
Sebagai orang tua, Kurniahu tak memaksa Marcus jadi atlet.
Tapi begitu Marcus punya komitmen, Kurniahu menggembleng habis-habisan.
Kurniahu juga tak ikut campur saat Marcus berseteru dengan Herry IP.
Kurniahu bahkan ikut kecewa dengan keputusan Marcus.
https://t.co/solR75EfeN
https://t.co/Hoj3QYz2ml
Statementmu ini yg memperumit keadaan, playing victim!
Ini pak Ted ngomong di H+23, kalau ucapanmu ini di H+3 tp dinyinyirin masih bisa diterima dan dibela. Seka iler mu di tepi bibir, jijik.
Paragraf penutup analogi yg kubuat menggambarkan apa yg kalian sajikan ke publik
Ini aku beli centang biru biar counter narasi ibukotamu yg penuh dgn ABS, bagiku langkah bijak utk protes kebijakan dan tingkah polah kalian yg menyoroti kawasan bencana dr menara gading. Inilah sikap paling bijak saat ini untuk bantu SELURUH korban terdampak, bukan sebagian.
Ego mas Prabs mu yg bikin ini makin rumit, clear ya kalian gk berhasil bikin ini melandai masih banyak korban yg menjalani hidup di bawah standar. Udah tiga pekan lebih. Hingga sore ini temanku bawa bantuan dari organisasi tidak berhasil tembus ke daerah yg dituju karena terisolir. Dan itu satu titik ya yaitu Tamiang, belum lg Aceh Tengah, Gayo, Nagan, Pijay dan lainnya. (video terakhir Ferry Irwandi lebih komprehensif). Video satu lagi dari komunitas teman ku tembus daerah yg masih ada buayanya, terpaksa diakses krn darat masih putus.
Ketika H+5 sorot utama fokus di Tapteng sementara Tamiang tak tersentuh. Begitu jg H+16 semua mata ke Tamiang namun pemberitaan ttg Takengon masih minim (AHY H+6 udah ke sana tp hanya bisa cover bbrp posko saja, efek kunjungannya tdk booming dan fenomena warga jalan kaki berkilometer belum massif terjadi dan belum terekspos).
Maka, tervalidasi kali ini Presiden dan kakitangan nya dinobatkan terburuk dalam menangani bencana pasca reformasi. Padahal zamannya teknologi lebih canggih ketimbang pendahulu2nya.
Andai H+2 (Jumat) Kepala BNPB mengatakan yg sebenarnya ttg beratnya kondisi lapangan beserta nauzubillah nya skala dampak siklon #Senyar tentu penetapan status #BencanaNasional jd hal yg rasional. Namun gk abis pikir kita sekaliber jenderal gk tau rasio, malah blunder bilang hanya mencekam di sosmed.
Jangan menihilkan protes, relawan punya keterbatasan di lapangan. Ada yg pulang dr sana sebagian kecil sakit dan lelah fisik namun sebagian besar lelah psikis krn gk nyangka kawasan yg diabaikan masih sebanyak itu ditambah ucapan para pejabat yg bikin miris mengiris hati. Relawan murni swadaya sendiri2, inisiatif masing-masing, BERDIKARI serta minim info, yg diharap alat negara bisa dimanfaatkan pemerintah malah sebaliknya yg terjadi. Relawan yg bantu pemerintah, bukan pemerintah yg fasilitasi relawan.
Kalau dikatakan upaya pemerintah sudah maksimal namun hasilnya masih begini ya artinya butuh bantuan asing! Minimal tetangga terdekat!
Contoh ya pak Ted, anandamu punya PR berjumlah 10 mata pelajaran dari sekolahnya namun anandamu hanya mampu kerjakan 4 dari 10. Dibilang gk ngerjain PR kan gk tepat, tp apa 6 sisanya dianggap selesai? Kan tidak, itu nyawa manusia yg dipertaruhkan!
Balik ke analogi, apa PR itu gk ada tenggang waktu? Ini yg terjadi, kalian buat H+1 dengan H+5 itu tidak berbeda. Apa pantas PR anandamu di kelas 1 dikumpulkannya di kelas 5?.
Udah la gagal maksimal di fase kritis H+0 hingga H+4, fase pemulihan pun tidak serentak.
Seolah Tapteng dengan Tamiang berada pada dimensi berbeda.
Berikut jg usul temanku yg Medan-Tamiang udah 2x seminggu, perahu karet untuk jembatan yg putus!!
Mohon teman2 giatkan lagi donasi, bencana kali ini next level. Semoga diperluas rezeki materi dan imateri kita, pemerintah kita menyedihkan dan bikin malu di mata internasional.
@kompascom Teman saya jadi saksi kunjungan Anda ke Aceh, dan ternyata Anda tidak datang ke pelosok. Hanya berdiri dan diam tanpa berinteraksi dengan masyarakat. Shame on u
Teruntuk presiden kami:
.
"Istana itu nampak megah dengan tembok-tembok tebalnya, namun sayang ia kedap suara. Ia sanggup mendengar bisikan investor dari seberang samudera, tapi tuli terhadap jeritan perut rakyat di balik pagar sendiri."
Film ini menjadi perantara kisah seorang aktivis masyarakat adat yang menelusuri pahit-manis hidup mempertahankan hutan adatnya dari gempuran perusahaan bubur kertas ekstraktif PT Toba Pulp Lestari di Sumatra Utara.
Dan hari ini, setelah bertahun-tahun hutan adat dirampas, banjir besar melanda Sumatra Utara. Gelondongan kayu-kayu ikut terbawa arus air.
Film karya Moses Parlindungan Ompusunggu @mp_ompusunggu ini dapat ditonton selengkapnya di kanal YouTube Project Multatuli.
#MotherlandMemories #FilmDokumenter #ProjectMultatuli
There are some young athletes who somehow have something different. Something beyond the required technical skills. That indefinable “X factor” which you just sense gives them the potential to develop into something special.
I sensed that when I saw Hendra Setiawan and his partner, the late Markis Kido, defeat the former world champions Sigit Budiarto and Candra Wijaya in the final of the 2005 Indonesia Open. So too when I first saw both Tai Tzu Ying and Kevin Sanjaya Sukamuljo.
All had that something extra. Something I can’t quite pinpoint or describe but could tangibly sense was both special and different when compared to other talented youngsters.
I got that same feeling watching Raymond Indra and Nikolaus Joaquin winning the recent #AustraliaOpen2025. They are quite obviously hugely talented individuals, good technical skills, dynamic, adventurous and aggressive, making them exciting to watch.
And there is absolutely no doubt they’ve had an unbelievable start to their partnership. 6 titles from 8 finals in their first 12 tournaments together, including the title in Sydney when playing in their first ever Super 500 event on the #BWFWorldTour.
As a new young pair, they haven’t yet experienced the pressures that go with star status. With the innocence of youth, they have been able to compete with uninhibited freedom. To simply enjoy the thrill of the exhilarating ride while surfing on the crest of the sporting wave of success, blissfully unaware of the dangers that lurk in the murky waters beneath.
But the moment you achieve an outstanding result, the uninhibited innocence is shattered, and you are forced to deal with the harsh reality of sport – pressure and the heavy burden of expectation.
There has been so much talk and excitement surrounding Indra and Joaquin, and with that spotlight comes pressure. But that’s a fundamental and unavoidable part of sport. How they now handle and deal with that pressure will be crucial in their development.
There’s no doubting the raw talent and potential of these two young Indonesians, and I can’t help but sense, we may just have witnessed the start of something special.
📷 @badmintonphoto
#Badminton
Lagi rame di medsos, jadi ada dokter spog salah satu RS di sulteng mau SC ga punya kain penutup pasien dan jubah operasi. Patah hati banget liat story Ignya 💔
Alright, let me give this article for the umpteenth time. I will never get tired of sharing this if it’s about the rape that happened during the 98 tragedy. Happy reading and this is pretty disgusting; https://t.co/v9nVRD4Ew6