Buat rekan-rekan yang ingin belajar lebih lanjut tentang AI, sekarang ITB sudah membuka jurusan S2 AI. Bagi yang ingin tahu, bisa ikut webinar ini, sekaligus ada sharing dari Dani, CEO dan Founder startup AI yang sudah mencapai level Unicorn: Reka.
Cc: @iimfahima@aiinstituteid
Buat rekan-rekan yang ingin belajar lebih lanjut tentang AI, sekarang ITB sudah membuka jurusan S2 AI. Bagi yang ingin tahu, bisa ikut webinar ini, sekaligus ada sharing dari Dani, CEO dan Founder startup AI yang sudah mencapai level Unicorn: Reka.
Cc: @iimfahima@aiinstituteid
Terima kasih supportnya Ferry Irwandi dan @cania_citta 🙏🏼
Blak2an dari sumber funding yayasan, cerita ancaman, konsultan dituntut "cenayang," sampai dampak teknologi seperti Kampus Merdeka.
H-3 putusan, semoga Ibam bisa bebas sesuai fakta persidangan 🙏🏼
https://t.co/YaslqnKx7H
Ini Ibam, bicara sendiri agar Ririe terlindungi.
Betul, ketika belum jadi tersangka, saya dapat ancaman: buat pernyataan "mengarah ke atas" kalau tidak kasusnya "akan diperluas".
Saya tolak, ngga mau bohong & zalim.
Tiga minggu kemudian, saya jadi tersangka.
Saya tolak bukan untuk lindungi Nadiem, tapi karena memang ngga pernah ada arahan dari Nadiem ke saya agar pengadaannya jadi Chromebook semua.
Seperti yang terungkap dari 22x sidang, tidak ada sama sekali arahan dari atas seperti itu. Saya hanya diminta memberi masukan netral dan objektif sebagai konsultan.
Artinya, ketika menerima ancaman tersebut saya dihadapkan ke dua pilihan:
Berbohong mengarang cerita menuduh orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri.
Atau, berpegang kepada integritas, kejujuran, dan kebenaran yang saya yakini, dan menolak untuk berbohong.
Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan risikonya, saya memilih jalan yang kedua: kejujuran.
Insya Allah selalu berpegang pada kejujuran akan berujung pada kebaikan untuk saya, Ririe, dan keluarga kecil kami. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat kelak.
Lalu jawabannya apa ketika saya menolak untuk berbohong? "Oke, kami perluas.”
Saya tidak berdaya. Ya Allah, apa lagi yang bisa kami lakukan ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu? Pegangan kami hanya prinsip integritas dan kejujuran.
Ketika konsekuensinya beberapa minggu kemudian saya dinyatakan tersangka, kami hanya bisa memperbanyak istighfar dan ikhtiar.
Kami jalani dan hormati proses hukum yang ada dengan tabah, kami berniat jelaskan di persidangan fakta-fakta yang membuat terang, kami masih percaya dengan hukum Indonesia.
Mungkin ngga banyak yang tahu, tapi Ririe istri saya adalah seorang sarjana dan magister hukum. Di Belanda dulu kami banting tulang nabung dan berhemat banyak, supaya bisa bayar uang kuliah S2 Ririe.
Dari Ririe, saya belajar banyak tentang hukum Indonesia, apa saja yang mungkin terjadi, dan bagaimana hukum kita tetap memungkinkan pembelaan yang efektif.
Baik, mari berjuang di persidangan, luruskan seluruh tuduhan. Satu persatu fakta di persidangan muncul dengan terang benderang, satu persatu tuduhan bisa kami bantah.
Sampai akhir rangkaian sidang, 57 orang saksi dihadirkan, tidak ada bukti saya menerima keuntungan dari perkara ini, tidak ada bukti masukan saya karena konflik kepentingan, tidak ada bukti saya mengarahkan.
Yang terungkap malah saya sebagai konsultan sudah menyarankan Chromebook diuji dulu, pejabat menolak pengujian dan memutus Chromebook, nama saya dicatut di SK, masukan saya dipelintir.
Kami merasa pembelaan hukum kami sudah maksimal, kebenaran sudah terungkap, tinggal menumpu harapan pada keadilan dan kebijaksanaan dari majelis hakim yang mulia, yang kami merasa sudah sangat objektif dan penuh kearifan sepanjang persidangan.
Namun, ketika JPU menyebutkan tuntutan 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar, uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara tambahan...
Ini titik kezaliman yang sangat terang benderang, tekanan kepentingan yang sangat kentara, saya memutuskan pembelaan saya tidak lagi bisa hanya di persidangan.
Besok saya akan sidang pembelaan (pleidoi) dan kami bersurat kepada Presiden @prabowo Subianto serta @KomisiIII DPR, untuk memohon perlindungan hukum dari kriminalisasi, ketidakadilan, intimidasi, serta pengkambinghitaman yang sudah sekentara ini.
Kami takut untuk bicara? Takut ada intimidasi lain? Itu risiko yang jelas, tapi kami tidak gentar. Tuntutan 22,5 tahun dan belasan miliar yang tidak mampu kami bayar mungkin dianggap akan membuat kami terdiam, tapi kami malah semakin berani untuk melawan kriminalisasi ini.
Mohon bantuan, dukungan, dan perlindungannya dari masyarakat Indonesia, dari pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan, serta dari semua yang ingin bantu negara atau takut dizalimi negara.
Kami berjuang bukan untuk kami sendiri, tapi agar tidak ada lagi kriminalisasi dan ketakutan bagi mereka yang tulus mau bantu Indonesia. Kami masih percaya Indonesia bisa menjaga dan menghadirkan keadilan dalam kasus kami.
Mengapa Negara Menzalimi Suami Saya, yang Tulus Berkorban Banyak Untuk Negara?
Sebagai istri, sakit hati rasanya. Enam belas tahun aku kenal Ibam, dia ngga money oriented. Niatnya tulus. Kalau sudah mau bantu, dia akan benar-benar bantu.
Ibam dituntut penjara 15 tahun dan harus bayar Rp16,9 miliar, kalau tidak maka pidananya ditambah 7,5 tahun.
Berarti, Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Ibam, yang pernah menolak tawaran puluhan miliar karena merasa misi bantu negara lewat bangun teknologi masih belum selesai.
Sekarang ironisnya dituduh korupsi. Padahal sampai 57 saksi diperiksa, tidak ada satu pun bukti Ibam memperkaya diri. Tidak ada konflik kepentingan untuk memperkaya orang lain.
Dia hanya konsultan teknis, rela tolak tawaran asing, turun gaji demi negara, ngga punya jabatan dan kewenangan, selalu profesional dan netral dalam kasih masukan, tapi terjebak dalam pusaran para elite birokrasi.
Masukan teknis Ibam yang sudah terdokumentasi baik, transparan akan kelebihan dan kekurangan, diceritakan sepotong-sepotong saja oleh pejabat pengadaan. Sehingga seakan-akan Ibam memaksa hanya Chromebook.
Untungnya, Ibam punya banyak dokumentasi yang sudah jadi bukti di persidangan. Sudah terungkap di sidang bahwa:
1. Ibam bukan pejabat, tapi konsultan yayasan. Gaji Ibam sama sekali bukan dari APBN.
2. Ibam baru kenal Nadiem setelah dia jadi menteri. Ngga ada persekongkolan, dan ngga pernah ketemu personal.
3. Di banyak bukti chat & notulen rapat: Ibam tidak mengarahkan pengadaan, tidak buat kajian, bahkan Ibam minta kementerian untuk uji Chromebook dulu.
4. Pejabat Eselon I akhirnya mengakui: dia yang menolak masukan pengujian Ibam, dia yang memutuskan Chromebook lewat SK yang dia keluarkan.
5. Ahli IT telah menyatakan masukan Ibam sudah netral dan profesional, sesuai best practice keahlian, serta benar dalam menyerahkan keputusan ke kementerian.
Puncaknya, nama Ibam dicatut ke dalam SK pengadaan yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Dalam pengesahan kajian Chromebook yang ditugaskan SK, tidak ada tanda tangan Ibam.
Terungkap juga di sidang, belasan pejabat, termasuk yang berupaya ‘menyalahkan’ Ibam, mengakui telah menerima ratusan juta rupiah suap dari vendor. Namun mereka semua bebas, tidak ada yang jadi tersangka.
Disaat mereka bebas, Ibam ditahan dan dituntut penjara. Bagiku perkara ini jelas. Suamiku bukan pelaku, tapi korban permainan elite birokrasi yang seenaknya melempar semua keputusan mereka pada Ibam.
Sekarang, kami hampir sampai di ujung jalan.
Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Dua terdakwa lain, pejabat Eselon II di Kemendikbud, yang mengatur pengadaan dan sudah mengakui ada aliran dana sampai miliaran rupiah, dituntut 6 tahun saja.
Semakin kontras ketika surat tuntutan sendiri mengakui: tidak ada aliran dana ke Ibam.
Tuntutan bilang di laporan SPT 2021, kekayaan Ibam naik Rp16,9 miliar. Ibam sudah tunjukkan bukti di persidangan kalau itu dari saham Bukalapak yang didapat jauh sebelum Ibam menjadi konsultan Kemendikbud, tidak ada kaitannya sama sekali dengan Chromebook atau Gojek.
Bukti itu ditolak JPU dalam tuntutannya. Mereka bilang karena Ibam sudah resign, sahamnya hangus. Mereka tidak paham kata-kata dalam surat pemberian saham, bahwa yang hangus hanya “saham yang belum diberikan”. Padahal, sebelum resign juga ada sebagian saham yang sudah diberikan.
JPU menyatakan, karena mereka tolak bukti itu, Rp16,9 miliar Ibam diduga hasil korupsi, jadi mereka tuntut 15 tahun ditambah 7,5 tahun.
Bagi kami, ini puncak dari kezaliman. Ibam yang tidak pernah, sekali lagi, TIDAK PERNAH ADA ALIRAN DANA SAMA SEKALI, dikriminalisasi atas prestasinya bantu negara, yang tidak ada hubungannya dengan perkara.
Dua minggu lagi putusan Ibam akan dibacakan oleh Majelis Hakim, kami tetap berharap keadilan putusan bisa sesuai dengan fakta persidangan.
Karena, ini bukan sekedar perkara hukum, ini menyangkut nasib seseorang, masa depan keluarga kami, anak-anak kami, serta kemerdekaan kami sekeluarga.
Setahun terakhir ini adalah masa yang sangat berat bagi kami. Keluarga kami kehilangan penghasilan, kesehatan jantung Ibam kian memburuk, bahkan tabungan hidup kami terkuras habis untuk biaya medis dan biaya hukum.
Namun, aku bersaksi bahwa Ibam adalah seorang perintis. Hidupnya penuh perjuangan dari kecil, insya Allah kami siap bangun dari nol lagi.
Hanya saja, jika pengabdian untuk Indonesia harus dibayar semahal ini. Jika bukti persidangan sudah seterang ini, dan jika upaya mengkambinghitamkan Ibam sudah sekentara ini, dia tetap dipenjara puluhan tahun...
Ini adalah ketidakadilan yang teramat pahit.
Bukan hanya bagi Ibam, tapi bagi siapa pun yang pernah atau akan bantu bangsa ini dengan niat tulus.
Apa memang berbakti bagi merah putih seberbahaya ini?
Apa memang tidak ada keadilan bagi orang jujur yang sudah berkorban banyak bagi negara?
Tolong bantu kami mencari keadilan untuk Ibam selagi masih ada waktu. Mohon bantu bagikan tulisan ini, pada rekan atau kerabat, konsultan atau pejabat, siapapun yang bisa bantu menyuarakan keadilan dan memberi perhatian.
Agar tidak ada lagi profesional seperti Ibam yang jadi korban kriminalisasi.
Jakarta, 16 April 2026
Ririe - Istri dari Ibrahim Arief (Ibam)
⚠️New Paper Alert⚠️
Introducing PingPong: A Natural Benchmark for Multi-Turn Code-Switching Dialogues
Ever seen a 4-player ping-pong game with chaotic turn-taking? That’s a perfect analogy for multi-party polyglot in code-switching conversations.
We introduce PingPong, a benchmark for natural multi-party code-switching dialogues covering five language-combination variations, some of which are trilingual and one that involves a different writing script.🏓🌍
📄Paper: https://t.co/aKFFLTUo2K
🤗Datasets: https://t.co/XO70MN31MD
Huge thanks to all of my collaborators: @hanifmz07, @faridlazuarda, @Shmuhammadd, Maryam**, @nedjmaou, @gentaiscool, @AyuP_AI, @AlhamFikri.
Check this thread out! 🧵
#PingPongDataset #CodeSwitching #Multilinguality #Polyglot #NLP #LLM #Benchmark
(1/n)
NLP dan LLM by Ayu Purwarianti
Pembahasan mendalam soal NLP dan LLM. Kuliah 1 semester dalam sehari nih. Menarik bnget pembahasan ya. Apalagi kita dpetin konteksnya soal NLP di Indonesia.
Buat teman-teman yang ingin ikut diskusi Women in AI: Breaking Barriers and Building Futures, di tgl 9 Des nanti, bisa gabung melalui link ini: bitly/MonashWomenAI
Colek @iimfahima@aiinstituteid
Sudah mulai bertebaran cerita orang tertipu via video call lalu mentransfer uang, padahal wajah dan suara yang mereka lihat hanyalah hasil rekayasa AI.
Di media sosial, video penuh gosip dan fitnah muncul setiap hari, dan banyak di antaranya ternyata buatan AI.
Sementara itu, di ruang belajar, anak-anak mulai kehilangan rasa percaya diri. Terlalu sering bergantung pada AI untuk menjawab, menulis, dan berpikir, hingga kemampuan dasar dan naluri kritisnya perlahan menumpul.
Fenomena ini menunjukkan bahwa masalah AI bukan sekadar soal regulasi teknologi, tetapi krisis kemanusiaan. Karena itu, pedoman etika penggunaan AI tidak boleh hanya disusun oleh pemerintah dan pelaku industri, atau sekadar dibebankan kepada pengguna yang melek teknologi.
Ia harus melibatkan kelompok publik yang paling rentan: pelajar, orang tua, pekerja informal, dan masyarakat yang terdampak langsung. Mereka bukan sekadar penerima dampak, tapi penjaga nilai kemanusiaan di tengah percepatan teknologi.
Begitulah concerns yang disampaikan para founder Indonesia AI Institute ke WaMen Komdigi bapak Nezar Patria yang disambut positif.
Bapak Wamen juga sepakat bahwa AI literacy for all yang selama ini digerakkan Indonesia AI Institute @aiinstituteid yang menyasar guru, murid, perempuan dan korporasi -- dibutuhkan dan harus didukung sebagai sebuah gerakan bersama, menjadi kolaborasi lintas sektor.
Di acara Huawei Headquarters di Shenzhen, selain bicara tentang "AI and Entrepreneurships" -- saya juga nge lead workshop tentang "AI for Humanity".
Dalam workshop itu, anak-anak muda terpilih dari puluhan negara, mencoba mencari ide bagaimana memanfaatkan AI untuk menyelesaikan isu kemanusiaan.
Saya sebagai mentor, melempar isu yaitu: AI sekarang menjadi alat curhat banyak remaja karena banyak remaja ga dekat dengan ortu, temannya judgemental, society juga penuh pressure. Padahal AI ini mesin yang memanfaatkan algorithm untuk memprediksi pertanyaan dan jawaban dari milyaran data yang mereka punya.
Dalam 1,5 jam mereka mencoba mencari solusi -- dan ketemu pesan yang cukup kuat:
1. Your true friends do not always agree with you
2. Even ChatGPT can't do simple math, how can you trust this machine to solve your personal problems?
Pesan ini kemudian dieksekusi jadi beragam video AI Education yang disebar di Tiktok hingga roadshow goes to school.
Bicara tentang AI dan Entrepreneurship di Huawei Headquarters di Shenzhen.
Huawei punya program "Seed For The Future" yaitu program yang diikuti ribuan anak muda dari berbagai negara untuk submit ideas terkait teknologi dan social impact. Ratusan orang yang idenya lolos, mendapat kesempatan belajar teknologi dan entrepreneurship di China.
Dalam kesempatan ini, saya mewakili @Queenrides
Indonesia AI Institute @aiinstituteid dan Cexup - sharing beberapa hal:
1. Pentingnya paham literacy dan ethic sebelum memanfaatkan AI, supaya karya yang kita ciptakan memberikan dampak lebih luas
2. Skill yang perlu dibangun agar tidak tergilas dan terus melaju di era AI.
3.Bagaimana memanfaatkan AI untuk social impact
4. Strategi mendapatkan funding.
5. Pro's and Con's external funding dan bootstrapping.
Anak-anak muda adalah generasi yang akan mewarnai masa depan. Mereka tidak hanya ditantang untuk menciptakan innovation for profit, tapi juga innovation for impact.
Saya tekankan bahwa AI bukan sekadar tools, tapi ekosistem nilai. Tanpa literasi dan etika, AI bisa memperlebar kesenjangan.
Tapi dengan pemahaman yang tepat, AI bisa jadi katalisator kemajuan, membuka akses pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan publik.
Selain itu, entrepreneurship di era AI bukan hanya soal mencetak unicorn, tetapi membangun solutions yang relevan, scalable, dan berkelanjutan.
Kunci untuk itu:
1. Agility dalam menghadapi perubahan teknologi yang cepat,
2. Collaboration lintas sektor/disiplin ilmu
3. Resilience untuk bertahan meski menghadapi keterbatasan.
Di akhir sesi, saya ingatkan:
1. Funding is not the destination, impact is.
2. External capital bisa mempercepat, tapi jangan pernah menggadaikan misi.
3. Bootstrapping memang lebih lambat, tapi seringkali melahirkan entrepreneur yang lebih tahan banting.
Karena pada akhirnya, entrepreneur sejati adalah mereka yang mampu menciptakan karya yang bernilai, bukan hanya valuasi.
Di era AI, yang wajib dipelajari bukan bagaimana bikin prompt, melainkan literasi yang baik: kemampuan berpikir kritis, kemampuan memilah informasi dll.
Karena kalo literasinya buruk, yang bodoh justru akan makin bodoh
Yang sering curhat ke ChatGPT, hati-hati ya, keseringan divalidasi mesin bikin ga sadar bahwa kadang kita butuh ditampar dengan beragam fakta supaya tumbuh.
Salah satu syarat untuk tumbuh adalah kemauan menerima tamparan kenyataan, lalu bergerak memperbaiki keadaan.
Honestly ikutan puyeng pas kemarin liat tweet bersliweran tentang menurunnya kualitas pendidikan di Indonesia.
Kemampuan membaca menurun.
Kemampuan math menurun.
Ini belum lagi dihajar dengan kehadiran AI dimana mayoritas user ga punya literasi yang baik, alias menelan mentah-mentah apa kata AI.
Karena literacy gap + tech dependency = kognitif yang makin tumpul.
Yang tadinya gak bisa mikir, makin gak bisa mikir.
Yang belum bisa baca data, makin bergantung pada ilusi seolah "AI tahu segalanya."
Padahal hasil AI kalo ga hati-hati, juga banyak salahnya, banyak bias-nya.
Situasi ini seharusnya jadi national urgency, Pak @prabowo
Kalau pemerintah cuma gembar-gembor soal AI tanpa membenahi kualitas literasi publik, kita bukan sedang membangun masa depan.
Justru kita sedang menciptakan generasi yang diperbudak mesin tanpa sadar.
Mempopulerkan AI itu bagus.
Tapi harus dimulai dengan literasi yang matang.
Bukan cuma bisa pakai, tapi ngerti apa yang sedang dipakai, kenapa, dan apa dampaknya.
@AyuP_AI
Dalam pengembangan teknologi AI, explainability memegang peran penting. Setiap keputusan yang dihasilkan oleh sistem AI harus dapat dijelaskan secara logis dan dimengerti oleh manusia.
Tonton penjelasan dari Dr. Ayu Purwarianti, Founder & Advisor IAII, di video berikut ini.
Apa Saja Strategi Pemerintah Indonesia dalam Mewujudkan Ekosistem AI yang Inklusif dan Berkelanjutan?
Simak penjelasan lengkap dari Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Informatika Indonesia.