#intinyadeh 7-8 org gerombolan laki2 di kereta Garut-Purwakarta lakuin pelecehan verbal ke penumpang.
"Ada yg ke toilet gak? Yg perawan aja"
"Teh pas pipis pintu jgn ditutup"
"Pipisnya mau ditemenin"
Dilaporin, didatengin security, diturunin di st. Kiaracondong utk ditindak.
WARTAWAN DI MEDAN DIDUGA DI CULIK ANGGOTA TNI
Dunia pers di Sumatera Utara kembali diguncang kabar duka terkait keselamatan jurnalis. SP, salah satu pimpinan media online, diduga menjadi korban penculikan dan intimidasi oleh oknum anggota TNI AD pada Selasa (12/5/2026) malam.
Peristiwa ini terjadi tak lama setelah media tersebut menayangkan laporan investigasi mengenai dugaan praktik ilegal kondensat dan judi meja tembak ikan di wilayah Kabupaten Langkat.Kronologi Penjebakan: Modus Informasi NarkobaAksi dugaan penculikan ini bermula dari upaya penjebakan yang rapi.
Kepada awak media, SP menceritakan bahwa dirinya awalnya dihubungi oleh seorang oknum wartawan berinisial FK. Dengan dalih ingin membagikan informasi terkait peredaran narkoba di daerah Binjai, FK mengajak SP untuk bertemu di sebuah kafe di Kota Medan.Namun, setibanya di lokasi yang disepakati, situasi berubah drastis. SP tidak mendapati diskusi yang dijanjikan, melainkan intimidasi fisik.“Setelah saya datang ke lokasi, tiba-tiba saya didatangi dua pria tak dikenal.
Saya dipaksa masuk ke dalam mobil dengan dalih harus memberikan klarifikasi atas berita yang saya tulis,” ujar SP dengan raut wajah trauma, Selasa malam.Di dalam kendaraan tersebut, situasi semakin mencekam. SP mengaku melihat sosok pria mengenakan seragam loreng yang diduga kuat merupakan anggota TNI AD. Di bawah tekanan dan ancaman, SP dipaksa untuk menyangkal kebenaran produk jurnalistik yang telah diterbitkannya.“Saya ditekan untuk membuat video klarifikasi.
Isinya, saya harus menyatakan bahwa berita soal kondensat dan judi tembak ikan itu tidak benar. Saya tidak punya pilihan di bawah ancaman seperti itu,” tegas SP.Lebih ironis lagi, para terduga pelaku mencoba menutup-nutupi aksi mereka dengan pesan yang tak masuk akal. Jika ada rekan sejawat atau keluarga yang bertanya mengenai keberadaan SP, ia diperintahkan untuk berbohong.“Mereka bilang, kalau ada wartawan lain bertanya, bilang saja ada acara ulang tahun atau surprise,” ungkapnya menirukan ucapan oknum tersebut
“Bapak pahlawan ekonomi saya pak”😭😭🥺😔
Bayangin ya… S1 di Brown University, S2 di Harvard University pada masanya sepintar apa coba?! Balik ke Indo ngasih kontribusi ke negara dengan bikin 4 juta lapangan pekerjaan buat rakyat, lanjut memperluas kontribusi lagi di Pemerintahan, eh tau-tau DITUNTUT TOTAL 27,5 tahun untuk KASUS GAIB (pidana penjara 18 tahun, denda 1M (subsidair 190 hari), dan pidana tambahan uang. Pengganti (809M) dan 4.8T (subsidair 9 tahun) atas SEDERET DENGAN DAKWAAN 0 BUKTI!! kasus yang sampe sekarang publik aja masih bingung “ini barang buktinya mana?” 😭😭
Yang baju putih nepuk-nepuk Nadiem itu ayahnya, Pak Nono Anwar Makarim, pengacara senior spesialis hukum korporat, penulis, usia 86 tahun, lahir di Pekalongan.
Pendiri firma hukum Makarim & Taira S bareng Frank Taira Supit.
Yang dipeluk belakangan, Ibunya, Ibu Atika Alqadrie, keturunan Arab Indonesia asal Pasuruan. Saya yakin beliau sangat terpukul, karena salah satu perannya adalah sebagai aktivis anti korupsi dan tata kelola pemerintahan dan transparansi publik.
Pak Nono keturunan Arab dan Minang.
Cowok juga butuh cowok, bukan untuk pasangan, tapi bisa jadi teman baik, sosok kakak, atau adik. Karena setiap orang tetap butuh seseorang yang bisa diajak ngobrol, berbagi cerita, dan berdiskusi
Ingat baik-baik namanya, Nalince Wamang
Pelajar asli Papua, 17 tahun, tewas ditembak oleh tentara saat sedang mendulang emas di wilayah bekas aliran limbah tambang PT. Freeport demi mencari uang untuk kuliah
Dimiskinkan sistem, dibunuh aparat negara
Never forget, never forgive
Zara Larsson has announced her withdrawal from a multi-million-dollar deal related to participation in the Eurovision Song Contest due to Israel’s participation, saying: “I cannot support this contest while Gaza is burning”
Udah pada liat kasus di Final Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI 2026 ini belum?
Intinya ada peserta yang udah menjawab pertanyaan dengan benar, namun oleh juri dianggap salah. Pertanyaan kemudian dilempar ke tim lain. Tim lain jawab dengan jawaban yang sama dan dianggap benar.
Peserta yang sebelumnya menjawab protes (dengan cara yang cukup elegan) tapi tidak digubris oleh Juri. Bahkan malah disalahkan oldh juri lain.
Gimana menurut kalian?