AI, Humanity, and the Question of Value.
As we stand at the edge of a new technological era, the conversation about artificial intelligence often revolves around power, speed, and capability.
But perhaps the deeper question is this:
What does AI understand about being human?
Human beings are not merely processors of information.
We are carriers of longing, doubt, courage, and contradiction.
We struggle, we hesitate, we dream beyond logic.
We feel guilt, we choose mercy, we sacrifice comfort for meaning.
Our weakness is not a defect in the system.
It is part of the design.
We fall, and from falling we grow.
We fear, and from fear we learn responsibility.
We suffer, and from suffering we discover empathy.
If AI is to mature alongside humanity, it must be built with respect for these dimensions — not to erase them, but to protect and elevate them.
Efficiency is not the highest virtue.
Prediction is not wisdom.
Computation is not conscience.
The future should not be a race between human and machine.
It should be a collaboration in which technology amplifies what is most noble in us.
AI may surpass us in calculation.
But it does not carry moral weight.
It does not bear the burden of choice.
We do.
And perhaps that is our true distinction.
The question is not how intelligent AI will become.
The question is whether we will remain conscious enough to guide it with humility, restraint, and a deep respect for the fragile beauty of being human.
The future of AI is not a technical milestone.
It is a mirror - reflecting the maturity of those who create it.
@ardisatriawan@hanifproduktif Karyawan saya gaji diatas UMR, rata2 malah hampir 2X nya, sebagian bahkan 3-4x UMR.
Gaji saya sendiri kadang Rp0 kalau bisnis lagi sepi, kadang ngutang dulu, kl lagi rame ya untung ratusan juta sampai M, gak gampang jadi pengusaha, yg mental manja mending ga usah hehehe
@LambeSahamjja Ibarat ngasih anak jajan 10.000 dan dia belanja apa aja loe kan ga tau.
Yang penting budget jajan 10.000.
Anaknya aja yg harus belanja sesuai peruntukan, kalau belanja ngasal ya salah anaknya
@KangDien_Wae Jangan tanya apa yg negara sudah buat untukmu, tapi apa yg kamu sudah buat untuk negara.
Membayar pajak untuk negara berarti membantu seluruh bangsa ini secara keseluruhan.
Ini tentang semua orang, bukan pejabat2 negara, yg mendapatkan manfaat pajak adalah bangsa ini
@elonmusk@JeffBezos This is true.
The impact on society is much larger on job opportunities, technology for the benefit of everybody, rather than charities for a selected group of people.
Sebenarnya sudah di jelaskan Allah dalam Al-Qur'an, bahwa semua manusia kedudukannya sama disisi Allah, yang membedakan amal perbuatannya.
Dan yg mengetahui amal seseorang itu juga hanya Allah saja.
Manusia tidak dibedakan ata gelar atau kedudukannya, tidak ada kasta dalam iman. Itulah keindahan Islam dibanding agama lain, semua punya hak yg sama.
Jadi bagi saya, tidak perlu memberi gelar atau doa khusus kepada orang lain yg kita sendiri tidak tau dan tidak bisa menilai.
Takutnya kita mendoakan orang yg sebenarnya tidak patut didoakan, hanya karena dia populer atau bergelar kita langsung asumsi dia seorang maksum yg beriman tinggi.
Nabi Ibrahim pernah disuruh berhenti mendoakan orang tuanya, karena Allah bilang Ibrahim tidak tahu orang tuanya itu sudah tertutup pintu hidayah nya. Ibrahim yg nabi saja tidak tau batasan mana tertutupnya kalau tidak diberi tahu.
Dan ingatlah di Qur'an tidak ada yg dijamin surga.
Bahkan nabi2 sendiri disuruh ketika ada orang bertanya kepada mereka bagaimana nasib mereka nanti di akhirat, jawablah bahwa kamu tidak tahu, itu perintah Allah.
Artinya nabi sendiri tidak boleh memastikan nasibnya ke orang lain, bagaimana logikanya nabi bisa memastikan nasib orang lain sedangkan nasib dirinya sendiri dia tidak tau?
Ini memang nampaknya unpopular opinion, tapi ini semua adalah ajaran langsung dari Qur'an, saya bukan pakar dan ahli, hanya menyampaikan, silahkan langsung cek dan pelajari dari Qur'an.
Intinya semua orang bertanggungjawab dengan dirinya sendiri, percuma kita didoakan orang sedunia tapi kalau kita dasarnya tidak baik tetap tidak ngaruh dan tidak bakal masuk surga juga. Penilaian Allah akan seseorang tidak tergantung banyaknya orang mendoakan, tapi objektif atas amal perbuatan orang itu sendiri. Allah itu Maha Adil dan tidak akan mengurangi atau menambah apa adanya.
Makanya disebut perbuatan baik sekecil apapun akan diberi balasan rewardnya, dan kebalikannya. Jadi jangan bergantung dari doa orang lain, bergantung lah dari perbuatan diri sendiri, berbuat baiklah karena itu yg akan membantu diri kita nanti. Bukan doa orang lain, kecuali kita memang pantas di doakan, begitu juga mendokan orang lain, hanya efektif jika orang itu pantas didoakan, dan hanya Allah yg tau yg mana orangnya, bukan dari gelar, titel dll.
Halo BNI, sejak saya update firmware Samsung Android saya tadi malam, aplikasi Wondr tidak bisa dibuka.
Apa ada hubungannya?
HP saya Fold 6.
Saya cek HP Istri Samsung juga, tapi belum update, dia masih aman saja bisa dibuka.
@BNICustomerCare