@VisionerUmkm Sejak lama saya berkomunikasi melalui media sosial, karena saya ingin meninggalkan jejak digital setiap komitmen, janji agar bisa digunakan sebagai bukti untuk menagih.
Ada Ibu2 tiap hari jualan kue2 keliling komplek, setiap dateng ke kantor sebisa mungkin gue beli.
Pagi ini di tengah hujan rintik2, dia dateng lagi, gue beli kue2nya yang alhamdulillahnya tinggal sedikit lagi.
Lalu dia keluar, bertemu tukang bubur ketan hitam yg (sepertinya) mentraktir si Ibu semangkuk bubur panas.
Sayup-sayup gue denger mereka saling menguatkan dan mendoakan.
“Nu penting mah urang sehat-sehat nyak Cep,” (yang penting kita sehat ya, Dek) ujar si Ibu
“Muhun Bu, saeutik ge nu penting aya rejekina,” (Iya Bu, sedikit juga yg penting ada rejekinya), balas si Tukang Bubur.
Lalu beberapa percakapan lain yang kemudian terdengar lirih di kuping gue karena mata mulai membasah.
Rakyatnya udah berjuang dengan kekuatan yg mereka miliki masing-masing, kadang terbatas saja yang mereka punya. Mestinya, bagian negara yang mengangkat mereka menuju kehidupan yang lebih baik.
Sayangnya, mereka yang merasa memiliki negara ini gak peduli, yang ada di kepala kosong mereka hanya bagaimana mengisi pundi-pundi diri sendiri.
Jadi ya, untuk apa merayakan vampir yang sedang menancapkan gigi taringnya di leher kita?
...Yang seperti ini tuh hoax industri belasan tahun.
Upah buruh selalu jadi kambing hitam.
Gw tuh sampe 2018, tiap tahun, rutin diundang ikut rapat tahunan Harmonisasi Industri dgn Apindo.
Gak pernah ada isu upah jadi keluhan utama pengusaha2. Pungli lah yg dikeluhkan.. (``,)