In the Name of God, the Compassionate, the Merciful
Among the faithful are men who fulfill what they have pledged to Allah: there are some among them who have fulfilled their pledge, and some of them who still wait, and they have not changed in the least (Holy Quran 33:23).
Setiap santri membawa identitas pesantren ke mana pun ia pergi. Tidak hanya lewat kitab yang dia baca atau ilmu yang dia kuasai, tetapi terutama lewat akhlaknya. Itulah sebabnya KH. M. Anwar Manshur selalu menekankan pentingnya menjaga akhlakโฆ
https://t.co/fausiIXb8i
๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐ !
Fokus sampai akhir laga, Ayo ! ๐๐ฅ
Half Time
Persik Kediri 2-0 Dewa United FC
โฝ๏ธ Ernesto G
โฝ๏ธ Jon Toral
๐ช๐๐๐ ๐ถ๐ ๐บ๐๐๐ ๐๐๐ ๐บ๐๐๐!
__
#Djajati | #PersikKediri
Nyambik ki cangkeme ngawur
Jarene ak ngerti bacaan Quran seng aneh2, qiraah sabโah.
Aneh2 matamu kui aneh2
Iku mung bedo cara baca ndeng gendeng.
Sanade nyambung kabeh kui nag kanjeng Nabi
Ojo kok mergo seng mok ngerteni siji tok kui seng liane mok arani aneh
Butuh keberanian untuk menalar turots. Sebab, jika tidak seperti itu akan muncul musykilatยฒ darinya. Hal itu akan menyebabkan kita berkurang dalam memuliakan terhadap muallifnya. Oleh karenanya, keberanian dalam menalar adalah dalam rangka menjaga kemuliaan mallif dalam turotsnya
Bahkan ironisnya justru seorang murid sekarang lebih banyak mengutip pendapat orang yg belum jelas kredibilitasnya dalam disiplin keilmuan atau ia sendiri tidak punya sanad keilmuan dari org tsb.
~K. M. Hamim Noer
Hebatnya kitab Fathul Muin, dimana Syekh Zainuddin Al Malibari yg dalam kitabnya beliau dg bangga mengatakan "ูุงู ุดูุฎูุง". Berbeda terbalik dengan era sekarang, yg justru seorang murid tidak bangga / malu / tidak percaya diri mengatakan pendapat dari gurunya yg tidak terkenal.
Sudah tua bukan berarti kamu benar terus!, sebab org bodoh juga mengalami penuaan. Sudah bodoh bukannya berbenah, semakin tua malah merasa paling benar n berpengalaman.
Eits, bedebah mana yg mau berbenah?, Jika hanya pengalaman, setan lebih unggul.
(Tambahan: buat anda yg masih komen nyinyir dan menganggap cuma saya santri yg mengajar di LN, saya mau bilang: kekurangan wawasan anda jangan ditampilkan sejelas itu. Santri yang mengajar dan bekerja di negara maju itu banyak: Jerman, Amerika, Inggris, Kanada, Jepang, Korsel, Australia, dan lainnya. Kalau anda gak tahu, bukan berarti kami ini tidak ada. Yuk perluas wawasan, jangan cuma nyinyir dan ngeyel)
Pesantren gak kompatibel dengan dunia modern?
Masih ada pandangan keliru yang terus berulang: bahwa Islam hanya bisa โmodernโ kalau dibuat sekuler. Bahwa agama harus dipinggirkan supaya sains bisa berkembang. Pandangan seperti ini mungkin cocok di Eropa abad ke-18, tapi tidak relevan bagi Islam. Sejarawan Marshall Hodgson dalam The Venture of Islam menulis bahwa peradaban Islam justru melahirkan sains karena keyakinan spiritualnya. Iman bukan penghalang bagi akal, tapi justru bahan bakarnya.
Hal ini juga ditekankan Nurcholish Madjid dalam bukunya Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan (1992):
โModernisasi adalah rasionalisasi, bukan sekularisasi. Modernisasi dalam Islam berarti pembebasan dari kebodohan dan kejumudan, bukan pembebasan dari Tuhan.โ
Kalimat itu seperti tamparan halus bagi dua kutub ekstrem: yang alergi pada modernitas, dan yang mabuk modernitas tapi lupa iman.
Kita sering mendengar komentar seperti, โModernisme itu kan sekuler. Mana bisa cocok dengan Islam?โ atau โPesantren itu tradisional, ketinggalan zaman.โ Bahkan ada yang berpikir bahwa kalau seorang santri bicara soal demokrasi, HAM, atau berpikir kritis, pasti dia โliberal.โ Sebaliknya, kalau dia menjaga tradisi, pakai sarung, dan hidup sederhana, dicap โkolot.โ Dua-duanya salah paham โ karena keduanya lahir dari cara pandang yang gagal memahami apa itu modernitas, dan apa itu ruh pesantren.
Pesantren berada di jalur tengah. Ia mendidik manusia agar cerdas tanpa congkak, beriman tanpa beku. Santri belajar berpikir kritis, tapi tahu kapan harus menunduk hormat kepada gurunya. Santri belajar bahasa asing, tapi tak kehilangan bahasa doa. Mereka bukan anti-modern, hanya saja mereka tahu bahwa kemajuan tanpa values itu โkesesatanโ yang canggih.
Sudah banyak santri yang menjadi prof di kampus terkemuka di dunia. Banyak santri yang gak hanya bisa baca kitab kuning tapi mereka juga fasih menjelaskan teori dan kajIan bidangnya seperti antropologi, demokrasi, rule of law, fisika kuantum dan lainnya.
Para santri bisa pakai sarung, bisa juga pakai jas. Bisa dengerin Umi Kulsum, tapi juga Adele. Cium tangan ke Kiai, tapi juga tampil di seminar Internasional. Biasa aja ๐
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Dalam tradisi pesantren, hubungan antara santri dan kiai tidak semata bersifat intelektual, melainkan juga spiritual dan moral. Seorang kiai bukan hanya sekadar guru agama, tetapi juga penuntun jiwa ruhani santriโฆ.
https://t.co/it2Qpndo7r