Kehadiran pertambangan seperti watak seorang yang berlagak sombong dan seakan paling mengetahui pribadi orang. Merasa bahwa kehidupan yang dijalani oleh para warga tidaklah cukup. ~Beni Bayu https://t.co/6zl3sNOcQD lewat @anotasi_org
Fathimah: "saya yg akan komando anak-anak saya, kamu diam!"
"saya melihat teman-teman saya terhimpit dan mengajak mereka kembali kesini, bukan krn saya nurut sama anda. bagi saya, teman-teman saya lebih berharga"
"krn saya tau bagi anda, nyawa teman-teman saya ini tidak ada artinya"
merindinggg dengarnya 🥹
“sayang, Gibran terima mahasiswa yang aksi buat diskusi, kayaknya pengetahuan politiknya tinggi, ya?”
demikian pertanyaan istri ke saya. Sebagai seorang dosen, saya perlu mencari jawaban ilmiah.
soal “pengetahuan” dan “kesadaran” politik, saya jelaskan ke istri, dengan mengulangi persis kalimat-kalimat dari Eep Saefulloh Fatah, sebagai berikut:
“dalam politik, kesadaran itu terbentuk oleh tiga hal: satu tahu, dua berempati, dan yang ketiga teraktivasi, terdorong untuk berbuat.
jadi kalau saya tahu terjadi banjir karena menonton TV, tetapi saya tidak punya empati terhadap korban, saya bisa menonton sambil tidak terlalu peduli.
saya bahkan mungkin tertawa ketika melihat peristiwa yang lucu, video-video pendek yang lucu di tengah banjir. Tampak saya merasa perlu bersedih, padahal mereka sebenarnya sedang dalam kondisi sangat susah.
ketika kita melihat sesuatu yang lucu dalam keadaan sangat susah, dan tidak teraktivasi untuk melakukan apa pun pada peristiwa bencana alam itu, maka saya tidak sadar. Saya tidak punya kesadaran tentang bencana alam itu, tetapi saya sekadar tahu.
bayangkan pemimpin yang sekadar tahu tetapi tidak punya kesadaran. Itu akan berujung pada pengetahuannya sendiri menjadi tidak penting.
tidak penting dia tahu bahwa lima tahun harus ada pemilu lagi yang demokratis, tidak penting dibatasi sepuluh tahun, karena dia tidak punya empati.
***
lalu saya katakan ke istri, “Bun, dari tiga faktor kesadaran politik itu, kira-kira Gibran ada di mana?” 😊
Akhirnya nemu jg
Kata2 mutiara mahasiswa ini yg membuat Budiman Sudjatmiko mengeluarkan watak aslinya 👍🏻
Semua yg disampaikan bener banget tuh...
Makanya Budiman jd kepanasan kek cacing dijemur..
Woiiii gosah kerahkan buzzer jg
Hadapi mahasiswa noh!!
Gosah ngomongin munafik, Sama kek ngludahin muka sendiri
Gosah bahas idealnya negara
Idup loe aja tuh idealin
Ngacaa dulu
Klo ga mampu beli kaca, biar kami kumpulkan koin 😏
🚨Casemiro on why he cried after the full time whistle:
I spent most of my career in Spain playing for Real Madrid, where I won many trophies. But in just a few seasons at Manchester United, I’ve felt something different — something deeper enough to make grown man cry. Here, I truly feel at home.
The fans, the passion, the chants echoing through Old Trafford… it’s something special. It’s something that touches your heart in a way that’s hard to explain. The love and appreciation from the supporters, even for the smallest efforts on the pitch, mean everything to me.
At Madrid, winning trophies was incredible, but here at United, even a single victory feels just as meaningful — like lifting a trophy of its own. That connection with the fans, that sense of belonging… it’s powerful enough to make a grown man emotional.
And honestly, that’s why I couldn’t hold back my tears.
Kasus pembunuhan massal G30S 1965 juga motifnya dendam pribadi ke Aidit. Makanya nggak ada pengadilan, apalagi pengadilan HAM. Demikian juga kasus perkosaan massal perempuan keturunan Tionghoa 1998, juga karena dendam pribadi.
Sering membaca buku ternyata dapat memperkuat memori dan melindungi otak.
Jadi artikel NY Times ini mengatakan bahwa kita perlu rutin membaca 20-30 halaman per hari untuk mempertahankan kemampuan otak kita, dan ternyata penelitian-penelitian setuju akan hal ini.
Ini penelitiannya:
1. Penelitian di Taiwan (2020) menunjukkan bahwa orang yang rutin membaca buku lebih dari 1 kali seminggu ternyata dapat mencegah penurunan kognitif hingga 46% lebih rendah.
2. Penelitian tahun 2022 menunjukkan 8 minggu baca novel bisa bikin memori kerja & episodik kita jadi lebih tajam.
Semoga bermanfaat.
Sumber:
1. Chang (2020). Reading activity prevents long-term decline in cognitive function in older people: evidence from a 14-year longitudinal study.
2. Stine-Morrow (2022). The Effects of Sustained Literacy Engagement on Cognition and Sentence Processing Among Older Adults
justru kebalikannya. laki-laki yang kuat secara mental, merasa gk butuh patriarki untuk bisa dihormati. privilege struktural yang didapat dari menindas orang lain itu justru malah jadi noda gk berguna. toh, tanpa patriarki, kita sudah dicintai banyak orang.
laki-laki yang butuh patriarki on the other hand..
ini lah masalah terbesar laki-laki. alih-alih bertanya, misalnya, “kamu lebih nyaman split-bill atau enggak? kalau aku cover juga gak masalah..” dia malah mengambil kesimpulan sendiri. lupa kalau orang yang dia ajak ngedate puny kapabilitas penuh untuk memberikan jawaban dan mengutarakan keinginan.
masih bingung kenapa banyak laki-laki gamau melawan patriarki, bayangin: ngedate ga perlu keluar uang sendirian, nikah juga, bisa nangis tanpa dikatain "laki kok nangis", ngga harus selalu jd inisiator, bisa dapet princess treatment kaya dibeliin bunga, coklat, dan gift lainnya
Antropologi kayanya salah satu field yang paling underrated di Indonesia.
Dulu waktu SMA (sebagai anak IPA), gak terlalu familiar sama keilmuan ini. Bahkan pas denger adiknya temen masuk jurusan Antropologi, ada aja celetukan soal prospek kerja (as if it’s questionable).
Tapi setelah S2 dan menekuni digital product design, perspektifku berubah.
Banyak banget konsep antropologi yang ternyata jadi pondasi kerja: cara memahami user, menggali motivasi di balik perilaku, membaca meaning di balik data, dan berbagai qualitative research method yang diambil dari keilmuan antropologi.
Supervisor S2-ku background-nya kuat di antropologi, dan pas ikut kelas UX research Yoel, sebagian besar pendekatan risetnya punya akar yang sama.
UX research kalau dipikir-pikir kayak antropologi yang pake baju tech 😁
Yang jadi kepikiran: di era AI sekarang, kayanya keilmuan ini makin relevan. Ketika mesin bisa mengolah data dan mengenali pola, yang tersisa sebagai keunggulan kita adalah revealing meaning. Understanding why humans do things. Bagaimana lived experience membentuk keputusan yang tidak bisa di-capture lewat angka.
(This kind of thoughts in my head is precisely why I hate STEM vs Soshum debate)
Datanya ada kok, tapi siap dibunuh?
Ini ujar salah satu dosen Political Science yang meneliti Suharto dan premanisme 🫣
Beberapa orang sudah bisa senggol2, mungkin bisa mulai dari George Aditjondro dan cari data-data yang beliau sebut, nanti ada situs2nya terpencar.
Panduan Singkat Penyampaian Kritik di Ruang Digital
1. Hindari menyerang individu, fokus pada kebijakan.
❌ “Pejabat ini tidak kompeten.”
✅ “Kebijakan ini menunjukkan kelemahan dalam perencanaan dan eksekusi"
2. Hindari tuduhan langsung.
❌ “Mereka sengaja merugikan rakyat.”
✅ “Menurut penilaian saya, kebijakan ini berpotensi berdampak merugikan.”
3. Hindari bahasa merendahkan.
❌ “Keputusan tolol.”
✅ “Keputusan ini kurang berbasis kajian yang memadai.”
4. Hindari ajakan provokatif atau mobilisasi emosional.
❌ “Lawan sekarang.”
✅ “Perlu pengawasan publik dan diskusi yang lebih serius.”
5. Hindari klaim faktual dan penyebutan nama tanpa rujukan.
❌ “Institusi A selalu gagal mengelola kebijakan ini.”
✅ “Menurut laporan media Tempo, implementasi kebijakan ini.. "
6. Hindari kritik yang mengarah ke SARA.
❌ “Golongan X memang selalu jadi sumber masalah.”
✅ “Praktik tertentu dalam kasus ini menimbulkan persoalan serius.”
Tetaplah bersuara, meski tak senyaman sebelumnya.
Umberto Eco, who owned 50,000 books, had this to say about home libraries:
“It is foolish to think that you have to read all the books you buy, as it is foolish to criticize those who buy more books than they will ever be able to read. It would be like saying that you should use all the cutlery or glasses or screwdrivers or drill bits you bought before buying new ones.
“There are things in life that we need to always have plenty of supplies, even if we will only use a small portion.
“If, for example, we consider books as medicine, we understand that it is good to have many at home rather than a few: when you want to feel better, then you go to the ‘medicine closet’ and choose a book. Not a random one, but the right book for that moment. That’s why you should always have a nutrition choice!
“Those who buy only one book, read only that one and then get rid of it. They simply apply the consumer mentality to books, that is, they consider them a consumer product, a good. Those who love books know that a book is anything but a commodity.”