Coba cari tahu deh negara mana yang mengharuskan ganti plat kendaraan setiap 5 tahun.
Cuma ada 1 negara yang gitu!
Di kebanyakan negara plat itu berlaku sampe rusak/hilang.
Yang harus ganti juga paling 10 tahun (supaya plat jelas)
Intinya memang pemerintah kita ribet aja.
Di depan samsat banyak bgt calo. Pas mau masuk parkiran dia bilang “20ribu aja kita bantu.”
Ternyata diajak ketemu sama bapak-bapak (atasannya lagi) Diliat BPKB dan STNK nya. Dia bilang “2,4jt langsung selesai satu jam.”
Hei whattt??!! Gue cek lagi STNK mobil perasaan 1,6jt, kenapa jd 2,4😭
Gue tanya, “td katanya 20rebuuu.”
Trs dijawab “20rb mah ngasih dia doang nih yg jalan.” Trs gue ngasih bapak2 yg duduk itu 800rb? Ga rela😭✋🏻
Pas masuk samsat ganti plat ternyata gratis
cc:threadaini_inun
Anggaran program MBG thn 2025 Rp85,27 triliun, thn 2026 meningkat menjadi Rp268 triliun.
Program MBG dijadikan Ladang Korupsi Pejabat atau pegawai BGN.
Dadan: Satukan Aksi, Basmi Korupsi.
Ternyata dia sendiri Ahli Korupsi
@DakotaGeorgy Rajin upload tapi tutup kolom komentar itu lucu bin aneh. Nyalahin dapur2 trs tapi yg memberi ijin dan verifikasi dr mrk.. Sementara pimpinan dapur2 juga pilihan dan ditentukan oleh mrk. BGN benar2 sekumpulan BADUT yg mengira mrk lg tampil di sirkus
Guys, ada analisis yang menurut gue paling jujur dan paling berani tentang sesuatu yang setiap hari kita lihat di jalanan tapi tidak pernah kita pahami dengan benar.
Kenapa tiba-tiba semua orang jualan seblak, cilok, gorengan, dan cimol?
Jawabannya bukan karena mereka jadi wirausahawan.
Jawabannya karena mereka tidak punya pilihan lain.
Pertama tentang konsep yang paling penting untuk dipahami:
Dalam ilmu ekonomi tenaga kerja ada dua jenis wirausaha yang sangat berbeda.
Opportunity entrepreneurship berwirausaha karena melihat peluang pasar, ada inovasi, ada riset, ada rencana bisnis yang matang.
Necessity entrepreneurship berwirausaha karena terpaksa. Karena tidak ada pilihan lain.
Karena kalau tidak jualan tidak bisa makan hari ini.
Dan mayoritas besar dari ledakan pedagang kaki lima kuliner yang kita lihat sekarang masuk ke kategori kedua.
Bukan wirausahawan.
Mereka adalah pengangguran yang menyamarkan statusnya dengan gerobak tepung.
Dan ini kenapa tepung dan aci yang dipilih
bukan karena cinta kuliner:
Modal paling rendah.
Tidak butuh keahlian khusus.
Tidak perlu izin.
Tidak perlu riset pasar.
Tidak ada resep rahasia yang perlu dijaga.
Beberapa kilogram tepung, minyak goreng curah, penyedap sintetis, bubuk cabai, dan wajan aluminium dan seseorang sudah bisa mengklaim punya usaha.
Bagi yang baru dapat surat PHK dari pabrik garmen ini adalah jaring pengaman terakhir.
Bagi ratusan ribu sarjana yang lamarannya tidak pernah dijawab ini bukan tentang membangun warisan bisnis. Ini tentang memastikan ada beras yang bisa dimasak besok pagi.
Dan ini tentang angka pengangguran yang paling sering disalahartikan:
BPS melaporkan pengangguran terbuka Februari 2026 di angka 7,24 juta orang atau 4,68%.
Pemerintah menyebutnya sebagai keberhasilan.
Tapi angka itu menipu.
Karena seseorang yang berjualan gorengan tiga jam sehari secara resmi tercatat sebagai bekerja bukan pengangguran.
Dalam ilmu ekonomi ini disebut pengangguran terselubung secara administratif bekerja, tapi produktivitas ekonomi marginalnya sangat rendah, tidak sesuai kapasitas atau keahliannya.
Dan buktinya sangat jelas: proporsi pekerja di sektor informal Indonesia secara persisten berada di 57 sampai 60% dari total angkatan kerja.
Lebih dari separuh orang yang dihitung sebagai "bekerja" sebenarnya berada di sektor yang tidak ada jaminan kesehatan, tidak ada asuransi, tidak ada dana pensiun.
Dan ini tentang kanibalisme ekonomi yang paling menyedihkan:
Ketika satu pedagang cimol terlihat ramai minggu depan muncul 10 gerobak cimol dalam radius 100 meter. Semua menjual produk identik.
Menyasar konsumen yang sama.
Dengan harga yang sama.
Mereka tidak sedang bersaing dengan korporasi multinasional.
Mereka sedang bersaing dengan sesama yang baru saja kena PHK dari pabrik yang sama.
Dan kue yang diperebutkan tidak membesar justru menyusut. Karena daya beli masyarakat sedang hancur. Kelas menengah turun kasta.
Inflasi menggerus pendapatan.
Pinjol mencekik.
Uang yang beredar untuk beli jajan pinggir jalan makin sedikit.
Hasilnya: perang harga yang brutal.
Margin yang sudah setipis kertas makin menipis.
Dan tidak ada yang menang.
Dan ini tentang ironi terbesar yang jarang dibicarakan:
Indonesia adalah negara yang jutaan penduduknya menggantungkan hidup pada tepung terigu tapi tidak bisa menanam gandum satu biji pun di tanahnya sendiri.
Hampir 100% kebutuhan gandum Indonesia diimpor dari Australia, Kanada, Amerika, Rusia, Ukraina.
Dan volume impor itu diperkirakan terus naik rata-rata 6,38% per tahun hingga bisa menembus 21,67 juta ton.
Artinya: ketika ada El Nino di Australia, ketika ada perang di Ukraina, ketika rupiah melemah terhadap dolar harga tepung di pasar tradisional langsung naik.
Dan yang pertama kena dampaknya adalah pedagang gorengan yang tidak punya instrumen lindung nilai, tidak bisa menaikkan harga, dan tidak bisa memangkas margin yang sudah nol.
Kenaikan Rp50.000 per karung tepung 25 kg bisa menghancurkan seluruh bisnis mereka.
Sementara korporasi pangan besar bisa meng-hedge risiko itu di pasar berjangka.
Dan ini yang paling menohok tentang narasi pemerintah:
Setiap kali ada kenaikan angka UMKM pemerintah menyebutnya sebagai keberhasilan.
Setiap kali muncul berita tentang jutaan pedagang kaki lima media memujinya sebagai ketangguhan ekonomi rakyat.
Tapi itu adalah romantisasi penderitaan.
Negara sedang mencuci otak jutaan orang untuk percaya bahwa kemiskinan mereka adalah bentuk kemandirian.
Bahwa kelelahan fisik 12 jam di belakang wajan adalah jiwa kewirausahaan yang patut dibanggakan.
Padahal yang sedang terjadi:
negara melepaskan diri dari tanggung jawab menyediakan lapangan kerja formal,
jaring pengaman sosial, dan sistem yang melindungi pekerja dengan cara merayakan keputusasaan mereka sebagai prestasi.
Gerobak seblak dan cilok di pinggir jalan bukan tanda kebangkitan ekonomi. Itu adalah simbol dari sistem yang gagal menyediakan pekerjaan formal yang layak dan memaksa jutaan orang berjualan tepung sebagai pelarian terakhir dari rasa malu menjadi pengangguran.
Mereka berjalan di atas treadmill. Energi habis setiap hari. Tapi posisi finansialnya tidak bergeser satu sentimeter pun ke depan.
Dan ketika fisik mereka tidak lagi sanggup berdiri 12 jam di bawah asap jalanan tidak ada yang menunggu mereka. Tidak ada dana pensiun. Tidak ada asuransi. Tidak ada landasan pendaratan.
Dan janji 19 juta lapangan kerja?
Dika dari Bekasi sudah kirim 120 lamaran.
Tidak satu pun dijawab.
Mungkin besok dia juga akan membeli wajan dan tepung aci dan disebut wirausahawan.
@dimarsasongko98 Saya heran kenapa video ini tidak viral hingga sekarang. Padahal di YouTube ada loh. Dari tahun 2017 Prabowo sudah tegas kalau dia berkuasa dia hanya fokus memperkaya diri dan kroninya. Bahkan sebelum-sebelum itu dia mau memberangus kebebasan sipil agar leluasa merampok negara.
MENAGIH JANJI PRABOWO SELAIN MBG
Kesehatan Gratis
Kenaikan Gaji Guru Naik 2 Juta
Subsidi Gratis
Perguruan Tinggi Gratis
Subsidi Angkutan 100%
Pemerataan Fasilitas Kesehatan
Membangun 300 Fakultas Kedokteran
Memberikan beasiswa untuk 20 ribu siswa
ANIES BASWEDAN : Tidak semua orang kuat jadi Oposisi Seperti yang disampaikan Pak Prabowo
Pak Prabowo Tidak Tahan Menjadi Oposisi karna tidak berada dalam kekuasaan membuat tidak bisa berbisnis
Dari Acara DEBAT PILPRES ini seharusnya tidak ada yang salah pilih
hy tman timun,, aku bkin website baru yg isinya 200+ daftar platform internasional bwt bantu km cari kerjaan remote dri luar negeri 😭😭
udh ak rapihin & ak bedain stiiap kategorinya,, jdi km bisa lansung cari aj ssuai dengan minat dan bakat kmuu 😎
link ny dibawah yahh 👇🏻
Rumusnya namanya STAR. Bukan motivasi atau quote. Ini KERANGKA yang bikin cerita lo masuk ke kepala HRD.
S — Situation: Konteks cerita lo apa?
T — Task: Lo dikasih tanggung jawab apa?
A — Action: Lo lakuin apa secara spesifik?
R — Result: Hasilnya berapa? Ada angkanya?
Tanpa STAR = curhatan. Pake STAR = presentasi diri yang menjual.