*Aku tak bisa membahagiakanmu* meskipun tak boleh diucapkan kepada pasangan namun itulah yang sebenarnya yg terjadi
Tidak ada yg sempurna di dunia ini sampai kita menjadikannya sempurna (cukup) sebaik apapun pasangan kalau kita masih merasa kurang tak akan bisa bahagia
@TitiRusdi Hari ini tgl 10 Juni munas hipmi bertepatan dng ulang tahun anakku
Kamu juga berulang tahun di bulan juni tapi aku tak tau tgl brp..
Slmt ulang tahun untuk mu, semoga umur nya diberkahi. Aamiin..
Kim Il Sung Mendapat hadiah bunga Anggrek saat berkunjung ke Indonesia. (April 965)
Bangganya:
Bunga hadiah Sukarno diberi nama "Kimilsungia" dijadikan simbol persahabatan abadi indonesia-Korut.
Festival Kimilsungia menjadi festival rutin tahunan di Korut.
#kamuharustahu
@TitiRusdi Oiya.. Sy jarang liat film.. Masuk bioskop cuma sekali seumur hidup, itupun krn diminta haji husaini buat bawa mobil nya, haji husaini berdua dimobil gf nya
Kalo liat jlo aku juga suka, suka dng gaya nya (body language) secara emosional dia terlihat friendly, tapi berintegritas
@TitiRusdi Skrg jam 06:49.
twit ini ditulis 4jam lalu. Berarti tadi malam kamu tidur nya telat. Sekitar jam 2 atau jam 3 dini hari.
Clue yg mendekati : Krn jumpa temen² cewek dan juga weekend
Ya betul pak @prabowo Sistem bernegara kita salah. Mustahil bangsa kita makmur jika masih menerapken sistem yg sama.
Silahken di reset pak..
Jika itu mengenai memilih pemimpin dan siklus edar uang kita. Kita harus merdeka seutuhnya. Sy membantu memberi penjelasan ke lingkup sy
Saya ga paham dengan ucapan presiden dari potongan rekaman ini?
Beliau bicara pada SIAPA? pada Elit atau pada kita? Rakyat jelata ini?
Karena Pidatonya itu didengar Kami, ga didengar elit saja, dan menurut saya, Takut itu dibutuhkan, karena itu bagian dari pertahanan diri, dengan rasa takut, kita memiliki Kewaspadaan, dan kewaspadaan meningkatkan daya tahan
Orang yang tidak memiliki rasa takut dipastikan juga tidak memiliki kewaspadaan dan justru menjadi Rentan terhadap situasi yang tidak dapat diprediksi
Itu alasan mengapa pidato tersebut terasa tidak masuk akal atau sulit dipahami secara logis...
Menyamakan "Kewaspadaan" dengan "Sifat Penakut":
Di pidato itu, beliau mengkritik elit dan bangsa yang takut dolar naik atau takut BBM habis.
Padahal bagi pelaku usaha atau masyarakat, mengkhawatirkan hal-hal tersebut bukanlah tanda "lemah", melainkan bentuk kewaspadaan yang sangat rasional karena dampaknya langsung terasa ke dompet dan piring makan.
Tuntutan untuk Berani Tanpa Solusi Konkret di Tempat:
Beliau meminta bangsa ini untuk menjadi "bangsa yang kuat" dan tidak penakut.
Namun, dalam potongan pidato tersebut, beliau tidak menjelaskan bagaimana caranya agar masyarakat tidak takut.
Mengatakan "jangan takut" kepada orang yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi itu ibarat menyuruh orang melompat tanpa parasut lalu dibilang penakut kalau mereka ragu-tech, nyang boneng bos... 🤣
Abstrak vs Realitas Riil:
Pidato tersebut menggunakan narasi makro yang sangat abstrak (seperti "kedaulatan", "karunia Yang Maha Kuasa", "bangsa yang makmur").
Sementara itu, masalah yang saya sebutkan—seperti defisit perdagangan, ekspor yang kecil, dan hancurnya industri tekstil—adalah masalah mikro dan riil. Ketika narasi abstrak berbenturan dengan realitas yang pahit, pidato tersebut memang akan terdengar seperti retorika belaka yang sulit dipahami aplikasinya.
Pidato politik sering kali dirancang untuk membakar semangat atau memberikan tekanan psikologis, tetapi sering kali kehilangan pijakan pada logika praktis yang dihadapi oleh orang-orang di lapangan.
😎
The responsibility of generations is measured not by the number of buildings they raise, but by the values they lay in the foundation of time.
: The author reminds us that the true responsibility of any generation is not measured by the physical structures it builds, but by the values it embeds into the foundation of time.
Buildings, cities, and monuments may impress for a while, but they eventually crumble. In contrast, the values a generation upholds justice, compassion, truth, freedom, responsibility, and respect for life become the invisible architecture that shapes the character of future societies. These values are passed forward like seeds, influencing how future generations think, act, and treat one another long after the builders are gone.
This perspective shifts the measure of legacy from material legacy to moral legacy. A generation that prioritizes short-term power or wealth over enduring humanistic values leaves a fragile inheritance. One that consciously nurtures wisdom, empathy, and ethical clarity builds something far more lasting.
True generational responsibility lies in the quiet work of strengthening the moral and cultural foundations upon which all future progress depends.