Mereka bilang sudah minta maaf. Mereka bilang sudah mendengar. Mereka bilang sudah belajar.
Tapi pertanyaan yang sebenarnya belum dijawab.
Pertanyaan itu sederhana: kenapa harus ke situ?
Kenapa harus berdiri di ruang itu, di hari itu, lalu mengunggah fotonya? Bukan soal boleh atau tidak.
Soal apa yang ingin dikatakan lewat kehadiran itu.
Kehadiran adalah gestur. Gestur adalah bahasa. Bahasa memberitahu orang lain di mana kita berdiri, meski mulut kita bilang lain.
Ketika seseorang yang mengaku menjaga jarak dari kekuasaan memilih masuk ke ruang kekuasaan dan memperlihatkannya, itu bukan kecelakaan. Itu komunikasi. Komunikasi tentang seberapa jauh jarak itu sebenarnya dijaga. Atau seberapa longgar tali yang mengikatnya.
Prinsip itu perkara aneh.
Orang suka mengucapkannya dengan suara khidmat. Independensi. Independensi. Independensi.
Kata itu terdengar bagus sekali sampai orang lupa bahwa prinsip hanya berarti jika dibayar dengan sesuatu. Biasanya dengan ketidaknyamanan. Kadang dengan kehilangan kesempatan berdiri di tempat yang indah.
Ketika prinsip bertemu dengan kesempatan foto di istana, prinsip seringkali yang diminta duduk di belakang.
Publik yang memilih menjaga jarak dari pemerintahan yang terbukti otoriter bukan sedang bermain moral.
Mereka hanya sudah melihat cukup banyak. Mereka tahu bagaimana kekuasaan bekerja. Mereka tahu bagaimana orang-orang yang tadinya kritis perlahan-lahan merasa nyaman di dekatnya. Mereka tahu bahwa kenyamanan itu biasanya datang duluan, baru kemudian pembenaran.
Jaga jarak itu bukan kemarahan. Itu keputusan. Keputusan untuk tidak terlalu dekat, karena terlalu dekat membuat mata menjadi buram.
Keputusan untuk tetap berdiri di tempat yang agak jauh, di mana masih bisa melihat dengan lebih jernih siapa yang sedang duduk di kursi mana, dan siapa yang sedang tersenyum di sampingnya.
Permintaan maaf tidak mengubah gestur yang sudah dilakukan. Ia hanya menambahkan kalimat di belakangnya.
Kalimat yang bagus, lembut, dan penuh kesadaran.
Tapi gesturnya tetap di situ.
@TotallyACMILAN Ya itu doang. Abis itu gak ada lagi intensitas lagi yg signifikan untuk pressing. Udahlah jual aja, gak cocok di sistem Amorim.
Kalaupun bertahan, coba untuk potong rambut deh, sapa tau agak ringanan. ๐
Andie Peci menyulap tribun menjadi sekolah politik rakyat, ia meyakinkan bahwa keberanian tidak laghir dari individu yang paling keras berteriak, melainkan dari keyakinan bahwa tak seorang pun dibiarkan berdiri sendirian.
Kepergiannya hari ini bukan hanya kehilangan bagi Bonek ataupun Persebaya. Ia adalah satu dari sedikit orang yang mampu membuktikan bahwa rakyat mampu membangun politiknya sendiri melalui ruang-ruang yang sering tak dianggap.
Ia memahami benar ketika sejarah sebuah klub hendak dihapus yang dipertaruhkan bukan sekadar nama ataupun logo, melainkan ingatan kolektif. Ia seolah mengingatkan kepada kita bahwa setiap kekuasaan selalu berusaha mendikte tentang bagaimana cara masyarakat mengingat masa lalu.
Andie Peci tak pernah berusaha tampil bak seorang intelektual, ia justru kerap tampil sebagai seorang penggerak, agar orang berkumpul, agar keberanian tak berhenti sebagai emosi sesaat.
Ia menegaskan kepada kita bahwa politik selalu membutuhkan tubuh-tubuh yang benar-benar hadir: hadir di pabrik, hadir di jalanan, hadir di tribun, dan hadir ketika kawan membutuhkan pertolongan.
Hari ini kita kehilangan seorang guru yang mengajar tanpa pernah menyebut dirinya guru.
Selamat jalan Cak.
Kalo hari ini sering liat suporter turun ke jalan (dg ragam cara, bendera & metode) dlm isu2 kerakyatan: di situ Andi Peci (sedikit banyak) yg memulai.
Baliknya Persebaya 1927 ga cuma kemenangan Bonek, tapi ttg: sepakbola emang alat perjuangan.
Malah budhal disek kon iku, Cok!
Kene sik da merasa terganggu karena gerakan ngepit massal, iki Mas Martinsurajaya menjelaskan mengapa anda sekalian tersinggung ketika kenyamanan anda terusik oleh upaya memprotes keadaan Yoja sik nir kebahagiaan iki. Urip kok mung nrimo ing pandum, jal sekali-kali diawur... ๐คช๐ฅ
@adrieutama@nasri_725@rossonerifreak Belum lagi soal gaji pajak pemain yg pernah bermain di seriA lebih tinggi daripada pemain yg belum pernah main di seriA.
@MilanUpdate Alasan kenapa Allegri kekeh dengan 3 bek ya ini, komposisi pemain saat ini tuh gak bisa pakai sistem 4 bek, transisinya jelek. Makanya awal musim minta bek yg karakter area covering, bukan yg sekali ambil brak bruk. ๐คฃ๐คฃ๐คฃ