Lu Bayangin
Utk mncari Krja di Indonesia dgn Gaji yg serba Pas-pasan, syaratnya;
•IPK minimal
•Berpenampilan menarik
•Usia dibatasi
•SKCK & surat sehat
Giliran utk jd Wapres yg Gaji &hidupnya dbiayain dri duit rkyt, Ijazahnya gk diverifikasi?
Kan TAI
Ada yang mau bilang beliau Diktator..? Tiran..?
Fine, faktanya, 1998 ia sukarela mundur, tak kerahkan Kopassus, Marinir, Brimob untuk ngotot amankan kekuasaannya.
Kalau mau, bisa saja kriminalisasi politisi yg mengkhianatinya atau berondong peluru ribuan demonstran yg minta dirinya lengser.
Mau bilang beliau Korup..?
Fine, tapi faktanya Indonesia dari Bangkrut jadi Bangkit. Dari Miskin jadi Kaya. Dari goblok dan buta huruf jadi berpendidikan dan melek aksara.
Mau bilang beliau antek asing..?
Fine, nyatanya beras ekspor, minyak malah jadi eksportir utama dunia dan anggota aktif OPEC tanpa perlu jadi jongos negara Teluk dan Barat.
Mau bilang pro Oligarki..?
Fine, nyatanya konglomerat yg berbisnis pun ada batasannya, tidak dibiarkan seenak dan sebebasnya merampok tanah negara dan tanah rakyat atas nama PSN.
Mau bilang beliau Rakus dan Tamak..?
Fine, tapi nyatanya nggak ada sunat anggaran pendidikan dan subsidi minyak cuma buat kasih makan rakyat, karena rakyat mampu cari makan sendiri.
Mau bilang beliau bikin rakyat kelaparan..?
Fine, faktanya dulu Kelompencapir masuk ke desa-desa bikin petani swasembada beras. Kok aneh setelah 28 tahun setelah beliau lengser malah KelomPinjol masuk desa dan bikin rakyat banyak yg bunuh diri akibat tak mampu beli beras..!!
Jadi siapa yg Badjingan….?
Suara nitizen bersatu berpotensi besar menyebabkan Perwira Menengah dari Mabes TNI-AD ini diberikan sanksi.
Minimal menjadi catatan buruk bagi konduite bersangkutan yg menyebabkan mutasi jabatan, penundaan pangkat atau pendidikan.
Viralkan sampai terdengar @Puspen_TNI & @tni_ad
Wakil presiden dan Rakyat
: Gw mau polling :
Mana lebih manfaat dan mumpuni
❤ 👉 Wapres, dik @gibran_tweet
🔁 👉 Rakyat, Bro @pandji
Gak usah baperan, hanya sekedar polling.
Telah nyata kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan manusia. (QS 30:41)
Catatan reflektif tentang bencana…
Rangkaian badai, tanah longsor, banjir bandang, gunung meletus, hingga satwa yang kelaparan belakangan ini jangan hanya kita pandang sebagai musibah alam, tetapi wajib dipandang sebagai cermin diri.
Badai, hujan lebat, gunung meletus, adalah peristiwa alam yang telah berlangsung jutaan tahun. Namun, kita memperparah dan mengubahnya menjadi bencana ketika kita memperlakukan alam tanpa etika. Tata ruang dilanggar, hutan ditebang habis, pesisir dicemari, habitat satwa dihancurkan.
Ingat kan di masa kampanye lalu kita pernah sama-sama membahas tentang pentingnya tobat ekologis, yaitu mengakui dosa kolektif kita pada bumi, lalu mengubah cara kita hidup dan cara negara mengelola kuasa?
Kita perlu mengakui bahwa kerusakan ini adalah hasil pilihan kolektif, mulai dari kebijakan yang lemah, mengabaikan analisis risiko, pengawasan yang longgar, serta ketidakpedulian ketika aturan dilanggar demi keuntungan jangka pendek yang hanya dinikmati sebagian orang.
Hari ini kita harus jujur bahwa kita terpaksa hidup berdampingan dengan bencana. Terlalu sulit untuk mencegah semuanya. Iklim sudah berubah, bentang alam sudah banyak dilukai. Namun, kita masih bisa mengurangi risikonya, sembari terus berusaha memperbaiki kerusakan alam.
Caranya, dengan tata kelola yang transparan, penegakan hukum yang tegas, gaya hidup yang lebih ramah bumi, keberanian berkata “tidak” pada proyek yang merusak, serta mendidik dan membiasakan mitigasi bencana secara serius bagi seluruh masyarakat.
Ini mungkin unpopular opinion: bumi tidak peduli pada kita, dan bumi tidak butuh kita peduli padanya. Bumi akan terus berputar, dengan atau tanpa manusia. Yang sedang terancam punah bukanlah planetnya, tapi keberlangsungan hidup kita sendiri. Maka kitalah yang butuh peduli pada bumi.
Tobat ekologis, sebuah pengingat dari Paus Fransiskus, adalah upaya yang harus kita jalankan untuk mengembalikan batas. Batas serakah, batas abai, batas melanggar aturan. Demi bumi yang lebih layak dihuni untuk anak dan cucu kita semua. •••