Percaya gak? Kalo mau jadi lebih beruntung dalam finansial, karir, jodoh itu kamu harus membuang identitas lamamu. Aku dulu selalu kejebak di pekerjaan yg sama bertahun-tahun, ketemu tipe cowo yg sama, temenan sama pembuli dan itu terjadi berulang kali. Dan setelah banyak merenung, aku sadar kalo ternyata yg salah itu aku sendiri. Aku merasa gak layak untuk diperlakukan dgn baik.
Caraku membuang identitas lama dan menciptakan identitas baru :
1. Berhenti mengutuk diri sendiri. Ucapan adalah doa
Kalau lo lagi takut naikin harga, coba tanya ini ke diri sendiri:
"Gue takut kehilangan pembeli — atau gue takut kehilangan pembeli yang salah?"
Karena pembeli yang pergi cuma gara-gara Rp2.000... mungkin bukan pembeli yang lo butuh untuk bertahan jangka panjang.
Dengarin jawabannya. Jangan buru-buru defend diri lo.
🚨 JUST IN: Lampu di jalanan mulai dimatikan. Mau jadiin #IndonesiaGelap beneran yah inii?!
Mahasiswa BEM UI menarik mundur dari titik aksi #demo. Digantikan oleh mahasiswa dengan almameter berwarna Hijau & Biru (Pls info ini dari kampus mana)
Panjang Umur Perjuangan 🙌🏻
Efek MBG di stop sementara:
1. Harga telur turun jd 24k
2. Harga ayam turun jd 30k
3. Susu uht plain tidak langka
4. Rupiah menguat sedikit
5. IHSG cetak +5%
6. Tidak ada siswa keracunan
7. Para Ka SPPG yg joget2 di bogor, pada gigit jari
8. Guru jadi ga sibuk buang sisa makanan dan ngitung ompreng
Ini baru stop semntara dalam beberapa hari, ekonomi langsung lebih baik.
Apalagi STOP TOTAL?
SETUJU MBG STOP TOTAL?
Mau ngasih tahu PNS baru, Gen Z.
Jadi PNS itu ULTRA MARATHON, bukan SPRINT.
Jaga energi, jaga stamina, cari teman seperjalanan yang sevisi dan semisi.
Kerjaan seminggu gw di swasta, jobdesk gw setahun 🤣.
Tapi, printilan-printilan lainnya banyak. Dan bikin capek.
Subsidi pertalite = cost.
Pertamax naik = revenue
Jadi buat tambal sulam.
Kalo mau aman lagi, ya cost2 lain yg ga penting dicut aja sementara.
Kalo income dah naik, baru bisa dikembalikan lagi seperti semula.
Katanya cowo lebih suka dipenuhi egonya daripada dicintai…. sebenernya bukan gitu juga 😭
Cuma banyak cowo itu kalau egonya “kenyang”, langsung berubah jadi makhluk paling manis sedunia.
Dipuji dikit “wah kamu hebat ya”. Besoknya langsung rajin jemput, buka tutup pintu, kirim pap makan, tiba tiba jadi teknisi, bodyguard, sekaligus financial advisor 🤣
Karena buat banyak cowo, dihargai itu efeknya lebih dalem daripada sekadar dibilang “I Love You”. Cowo bisa tahan capek kerja, tahan dimarahin bos, tahan nongkrong dibilang “bebas”, tapi giliran dibilang “kamu tuh nggak guna” langsung error system. 💀
Sebenernya yang mereka mau bukan dimanja egonya terus, tapi pengen ngerasa “oh ternyata keberadaan gue ada gunanya ya.”
Dan lucunya, banyak cowo keliatan cuek soal cinta…. padahal dipuji sekali aja bisa diinget 7 tahun 😭
Jadi bukan lebih milih ego daripada cinta, tapi banyak cowo ngerasa dicintai lewat cara mereka dihargai. 😉
Gila, dapet info A1 dari abang SPBU
katanya mati lampu se-Sumatera ini taktik licik "mereka" gara-gara Dexlite sepi peminat karena harganya nyentuh 26 ribu. makanya sengaja dibikin mati total dan otomatis perusahaan, hotel, sampe UMKM kepaksa nyalain genset biar stok Dexlite mereka laku lagi.
menurut lo gimana?
Praktik prostitusi anak di kawasan Lokasari sudah sangat meresahkan dan terorganisir. Saya telah mengidentifikasi lokasi gedung yang dijadikan tempat eksploitasi gadis-gadis muda. Mohon bantu sebarkan ini agar pihak berwenang segera melakukan investigasi dan tindakan hukum.
Semoga TS segera mendapatkan kesembuhan. Doa yang terbaik dari kami.
Masalah jam kerja ini betul betul mengkhwatirkan.
Sudah kami peringatkan ya @KemenkesRI.
Mana janji regulasi jam kerjanya? Omon omon sekali.
@bsahsawth Rakyatnya mikir pake otak, eh menteri cuma ngasih solusi gerbong perempuan dipindah dan ganti gerbong lain yang di belakang. Gak habis pikir.
Empat syarat Kartini sebelum (terpaksa) mau dipoligami:
1. Boleh mendirikan sekolah & mengajar untuk putri di Rembang, melanjutkan cita-citanya memajukan pendidikan perempuan.
2. Penolakan adat feodal dalam upacara pernikahan: tidak mau berjalan jongkok di belakang suami, tidak berlutut, tidak menyembah/mencium kaki suami.
3. Kesetaraan bahasa: berbicara dengan suami menggunakan bahasa Jawa Ngoko (bahasa sehari-hari setara), bukan Krama Inggil (bahasa hormat yang menunjukkan hierarki istri lebih rendah).
4. Boleh membawa ahli ukir dari Jepara ke Rembang untuk mengembangkan kerajinan secara komersial sebagai kegiatan ekonomi perempuan.
Semua syarat ini (sangat progresif & radikal pada masa itu) dipenuhi oleh calon suaminya, Bupati Rembang Raden Adipati Djojoadiningrat.
Kartini melihat poligami sebagai bentuk penindasan terbesar terhadap perempuan. Ia menyaksikan langsung penderitaan ibunya, Ngasirah, yang dimadu oleh ayahnya. Dalam surat-suratnya, ia menulis dengan getir bahwa tak ada perempuan yang bahagia dimadu, & laki-laki yang memadu kehilangan kehormatan. Poligami dianggapnya sebagai "dosa" yang membuat perempuan menjadi saingan dan korban, sementara laki-laki bebas. Ia juga menolak pernikahan paksa dengan orang asing yang belum dikenal, karena cinta sejati harus dimulai dari rasa hormat, bukan paksaan adat.
Namun, pada 1903, Kartini di usia 24 tahun (dianggap perawan tua yang memalukan keluarga ningrat pada masa itu) terpaksa menikah dengan Raden Adipati Ario Djojoadiningrat, Bupati Rembang yang jauh lebih tua (~25 tahun) & sudah punya 3 istri (salah satunya baru meninggal) karena tekanan budaya feodal priyayi pada masa itu & karena ayahnya, R.M. Adipati Ario Sosroningrat, sakit serta terus "dibully" teman-temannya karena anak perempuannya belum menikah.
“Saya telah berjuang, bergulat, menderita, dan saya tidak dapat menjadikan nasib celaka Ayah, dan dengan demikian membawa bencana bagi semua yang saya cintai." (Surat Kartini kepada Abendanon, 14 Juli 1903)
Meski seumur hidup menentang poligami & pernikahan paksa, Kartini terpaksa mengalahkan idealismenya, terpaksa menanggalkan egoismenya, serta harus berkompromi dengan realitas sosial feodal Jawa demi menjaga kehormatan ayah & keluarga yang dicintainya.
Tekanan budaya feodal & partriarkis kelas priyayi pada masa itu terlalu kuat & ketat, di mana poligami & pernikahan paksa merupakan norma adat (diperkuat ajaran agama), sehingga meskipun Kartini sempat menolak keras, beliau kalah, beliau akhirnya terpaksa menerima pernikahan poligami itu.
Kartini tetap melanjutkan perjuangan emansipasi & pendidikan perempuan dari dalam pernikahan, meski hanya berlangsung singkat karena beliau wafat 4 hari setelah melahirkan anak pertamanya pada pada 17 September 1904 di usia 25 tahun.
Penyebab utama kematiannya adalah komplikasi persalinan, diduga akibat preeklampsia (tekanan darah tinggi pada kehamilan yang dapat memicu kejang dan kegagalan organ). Tragedi ini sangat ironis karena Kartini baru saja mulai mewujudkan cita-citanya setelah menikah, yang salah satu visinya tentu saja untuk meningkatkan akses kesehatan yang lebih baik bagi perempuan, khususnya kesehatan reproduksi & maternal (masa kehamilan, persalinan, & pasca melahirkan).
Alfatihah untuk Ibu Kartini, damai di surga 🌹🌷🌼💐🌺🌸🪻
Guys, ini gilaa sihh
Suster Natalia.
Perempuan yang tidak menikah.
Tidak punya harta pribadi.
Mengabdikan seluruh hidupnya untuk gereja dan umatnya di Labuhanbatu, Sumatera Utara.
Dan sekarang dia harus menanggung beban Rp28 miliar yang raib bukan uangnya sendiri
tapi uang 1.900 jiwa umat yang dia jaga amanahnya.
bahkan dia bilang
ke teman dia yang suster juga
dia akan masuk penjara.
dia cerita
Setiap kali ketemu umat yang sederhana itu,
saya selalu katakan:
mari, masa depan anak-anakmu melalui menabung.
Tapi sekarang masa depan mereka itu hancur di tangan saya.
Kronologi yang perlu semua orang pahami:
Credit Union Paroki Aek Nabara koperasi simpan pinjam di bawah naungan gereja sudah berjalan 45 tahun tanpa masalah.
Umat menabung perak demi perak.
Untuk sekolah anak.
Untuk biaya sakit.
Untuk masa depan.
Total yang terkumpul dan ditempatkan di deposito: Rp28 miliar lebih dari 1.900 anggota.
Di 2019 Andi Hakim Febriansyah
Kepala Kas BNI Unit Aek Nabara
mendatangi pengurus CU.
Menawarkan produk bernama BNI Deposito Investment
dengan bunga 8% per tahun.
Lebih tinggi dari deposito biasa.
Pengurus percaya.
Karena siapa yang tidak percaya kepada kepala kas bank negara yang datang dengan seragam resmi, ID card BNI, dan pick-up service resmi yang sudah berjalan sejak 2015?
Tujuh tahun berjalan.
Bunga masuk rutin setiap bulan.
Tidak ada masalah.
Sampai Desember 2025 dan semuanya mulai runtuh:
CU mengajukan pencairan Rp10 miliar untuk pinjaman ke anggota.
Bertahap minta Rp2 miliar dulu.
Januari 2026 tidak cair.
Februari 2026 tidak cair.
5 Februari Suster Natalia panggil Andi.
Andi bilang besok.
Besok tidak cair.
Andi minta semua bilyet deposito untuk pembaruan. Suster menyerahkan semuanya karena percaya.
Sore hari Andi sudah di jalan ke Medan katanya cuti.
Lalu 23 Februari bukan Andi yang datang.
Tapi kepala kas baru.
Dengan kalimat yang mengubah segalanya:
Per hari ini saudara Andi Hakim Febriansyah bukan pegawai BNI lagi.
Dan produk yang ditawarkan itu bukan produk BNI.
Suster Natalia pingsan lima menit.
Yang lebih ngeri dari hilangnya uang itu:
Bilyet deposito yang dipegang Andi dibakar. Sengaja. Supaya tidak ada barang bukti.
Tapi Andi salah hitung.
Satu bilyet tersimpan di tangan pastor lain yang kebetulan tidak ada di tempat saat pengambilan.
Satu bilyet itu yang menjadi bukti bahwa semua ini nyata.
Andi sudah menyiapkan skenario dari jauh hari. Tanggal 23 Februari itu hari yang sama dia ambil semua bilyet dia sudah mengajukan pengunduran diri. Dan dua hari kemudian dia terbang ke luar negeri bersama istrinya lewat Bali ke Australia, lalu ke New Zealand.
Sambil cuti dia masih angkat telepon Suster Natalia. Masih bilang "aman, Suster."
Masih janjikan pencairan.
Setelah red notice diterbitkan oleh Interpol dan Australian Federal Police Andi kembali ke Indonesia 30 Maret 2026 dan ditangkap di Kualanamu.
Di dalam pemeriksaan dia mengakui semua perbuatannya.
Uangnya?
Dipakai untuk sport center, kafe, mini zoo, tanah, dan berbagai aset yang kini sedang dilacak dalam proses TPPU.
Dan sekarang masuk ke bagian yang paling mengkhawatirkan:
BNI melakukan verifikasi internal sendiri.
Tanpa transparansi.
Tanpa melibatkan korban dalam proses.
Hasilnya: BNI bersedia mengganti Rp7 miliar.
Dari Rp28 miliar lebih.
Dan pada 26 Maret 2026 tanpa persetujuan CU-PAN BNI mentransfer Rp7 miliar itu ke rekening korban secara sepihak.
Seolah dengan mentransfer itu kasus selesai.
Kuasa hukum CU-PAN dari Gani Djemat & Partners menolak keras.
Karena:
Berdasarkan prinsip Vicarious Liability perusahaan bertanggung jawab atas tindakan pegawai yang dilakukan dalam kapasitas jabatannya.
Andi beroperasi dengan ID card BNI, jabatan BNI, fasilitas pick-up service BNI, dan atas nama BNI selama tujuh tahun.
Ini bukan tindakan pribadi yang kebetulan dilakukan oleh orang yang bekerja di BNI. Ini tindakan yang bisa terjadi karena dia adalah BNI di mata korban.
POJK Nomor 22 Tahun 2023 Pasal 10 ayat 1 juga menegaskan: pelaku usaha jasa keuangan wajib bertanggung jawab atas kerugian konsumen akibat kesalahan pegawainya.
Tidak ada klausul kecuali kalau pegawainya nakal.
Dan respons BNI yang paling menyakitkan menurut korban:
Enam kali mediasi.
Satu kali aksi damai.
Sepanjang itu tidak satu pun pejabat BNI dari kantor cabang atau wilayah yang mengucapkan kata "maaf" atau kami prihatin kepada korban.
Yang datang dari pihak BNI hanya satu permintaan berulang: Berikan kami bukti pendukung.
Padahal semua data transaksi ada di sistem BNI sendiri.
Semua perpindahan uang dari kas lancar ke rekening Andi tercatat di rekening koran BNI.
Bukan di tangan korban.
Baru Wakil Menteri BUMN yang mengundang korban dan itulah pertama kalinya ada pejabat yang mengucapkan kata permohonan maaf dan rasa prihatin.
Satu hal yang tidak bisa diabaikan:
Suster Natalia sekarang punya utang pribadi ke beberapa orang.
Karena ada anggota CU yang butuh uang untuk berobat yang tidak bisa dia biarkan meninggal di rumah sakit sementara dana CU tidak bisa diakses.
Dia yang tidak punya harta pribadi meminjam uang untuk membayar tagihan rumah sakit umatnya.
"Saya tidak bisa biarkan umat meninggal di rumah sakit, Pak."
BNI adalah bank BUMN.
Bank milik negara.
Diawasi oleh OJK.
Dijamin kepercayaannya oleh nama negara Indonesia.
Dan di bawah namanya selama tujuh tahun seorang kepala kas menjalankan skema penipuan yang menyedot uang 1.900 jiwa umat gereja yang menabung perak demi perak untuk masa depan anak-anak mereka.
BNI tidak bisa menyebut ini hanya masalah oknum lalu cuci tangan dengan transfer Rp7 miliar yang tidak transparan prosesnya.
Karena korban bukan menyimpan uang kepada Andi Hakim.
Korban menyimpan uang kepada BNI.
Dan BNI harus mengembalikannya penuh tanpa pengecualian.
Kalau tidak ini bukan hanya kasus kriminal biasa.
Ini adalah konfirmasi bahwa di negeri ini orang miskin yang menabung untuk masa depan anaknya bisa kehilangan segalanya karena sistem yang seharusnya melindungi mereka justru membiarkan hal ini terjadi selama tujuh tahun.
Percayalah baju di Matahari (terutama private label-nya kaya Nevada, Cole, Connexion, & Suko) itu secara kualitas sebagus produk fesyen ritel luar. Soalnya ada beberapa yang pabriknya sama QC-nya bagus. Lebih bagus daripada baju brand lokal kebanyakan yang harganya lebih mahal.
Agak panjang nih Kak. Awalnya aku ajak ngobrol santai, misalnya basa-basi, “Sayang, kamu ada keinginan yang belum terwujud gak?” Kalau dia jawab, “Iya nih aku pengen beli xxx,” atau “Aku pengen ke xxx,” lalu mulai dengan pujian dulu: “Wah keren ya. Pasti keren banget kalau kamu punya itu… atau seru banget kalau kita bisa ke sana.”
Intinya pakai kata “kita” supaya hal itu terasa jadi tujuan bersama dan dia ngerasa kita beneran care sama mimpinya.
Lalu pancing lagi pelan-pelan, “Kira-kira butuh berapa ya? Rencananya kapan mau diwujudin?” Misalnya dia bilang tahun depan, lalu respons, “Oh tahun depan ya? Yuk kita hitung bareng. Kalau totalnya sekian, dibagi 12 bulan, berarti per bulan kita perlu nyisihin sekian nih.”
Setelah itu, tanya dengan nada ringan, “Kamu nyaman dan mampunya berapa?” Tawarin dukungan tanpa menggurui: “Nanti aku bisa tambahin sekian ya,” biasanya sih laki-laki suka gengsi nerima bantuan, tapi setidaknya dia tau kita siap bantu. Kalaupun dia terima bantuan, usahain yang emang kita ikhlas untuk bantu, jangan maksain juga.
Jangan lupa tetap kasih pujian, “Aku bangga sama kamu. Kamu selalu berusaha yang terbaik, semoga kita bisa capai ini bareng-bareng ya.”
Kuncinya: banyakin pujian, biarin dia tetap memimpin, jangan menggurui, dan buka obrolan kayak gini saat dia lagi santai. Dari kebiasaan kecil nyusun goal bareng, lama-lama dia jadi terbiasa bikin target yang lebih besar, termasuk soal karier. Walaupun mungkin kita gak paham detail bidangnya, tapi usahain tetap support.
Klo dia pulang kerja tanya gimana harinya, selipin pujian yang spesifik kayak, “Makasih ya kamu selalu kerja keras buat bahagiain aku. Aku salut sama cara kamu handle tekanan.”
Dengerin ceritanya tanpa menghakimi. Dengan begitu dia tetap merasa jadi pemimpin, tapi juga merasa dilihat, dihargai, dan ditemani.
Jujur nih ya…
Sebelum meniqa, aku udah punya rumah, mobil, tabungan, aset, dan master degree. Jadi kalau aku punya kriteria pasangan yang at least setara, itu bukannya demanding, it’s just basic.
Soal mahar malah aku santai banget, cuma cincin kawin 5 gr, resepsi di Bali pun patungan, dan penghasilan sebelum meniqa, malah lebih besar aku.
Yang bisa aku tawarkan bukan cuma good looking, tapi isi kepala, daya juang, rasa tenang, support system, dan cara aku manage hidup. I bring beauty, brain, and power to the table.
When he married me, he didn’t just get a wife, he got a trophy and a strategist. Dan dia memang bangga banget bawa aku kemana-mana.
Terbukti setelah meniqa kariernya melesat, karena aku yang bantu dia punya goal, atur strategi, dan push dia naik level.
Kalian harus tahu:
1 hari MBG = 1 triliun (dibulatkan biar gampang ngitungnya).
Jika libur 7 hari gara-gara Lebaran, maka 7 triliun nggak jadi dibagi-bagikan dong.
7 triliun ini, hitung-hitunganannya: 70% buat biaya beli bahan makanan, 20% buat operasional, 10% buat bayar-bayar insentif. Alias 30% bisa masuk kantong dapur.
Dus, 30% x 7 triliun, sama dengan 2,1 triliun.
Itu kalau bahan makanannya memang 70%. Kalau cuma ciki, dkk sih tambah asyik deh.
Itulah kenapa libur lebaran pun maksa harus dibagikan. Cuan 2,1 triliun gitu loh.
Kalian bagian dari 1 juta pekerja dapur? Kalian cuma dapat ingusnya saja.
Kalian orang tua yang anaknya dapat MBG? Duuh, kalian cuma dapat upilnya doang.
Yg punya dapur, mereka pesta pora. Argo terus jalan, cuy.
Apakah anak-anak kita betulan akan nambah pintar, nambah bergizi?
Duh Rabbi, kamu tuh cuma ngasih makan 1x sehari, lantas berharap semua masalah selesai?
Orang tuanya tetap susah nyari pekerjaan, biaya sekolah kuliah mahal, pun anak tsb, 2x makan lainnya di hari tsb bagaimana?
(Tere Liye, penulis novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar)